DEMOCRAZY.ID – The Economist, majalah ekonomi prestisius berbasis di Inggris yang menjadi rujukan para bankir dan pebisnis sejak tahun 1843, habis-habisan mengkritik Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memulai perang melawan Iran.
Dalam edisi cetak terbarunya, 7-13 Maret 2026, The Economist langsung menerakan judul headline “A War Without Strategy”, yakni merujuk pada Trump yang memulai perang tapi tanpa strategi apa pun.
Mereka menilai, Trump harus segera menemukan cara untuk mengakhiri konflik yang tak dipikirkan matang-matang dengan Iran.
Edisi majalah The Economist yang berisi tekanan tersebut, dipasarkan sejak Sabtu (7/3) akhir pekan lalu.
Dua hari kemudian, Senin (9/3) sore, Trump mengumumkan perang akan segera berakhir.
Banyak pihak, termasuk analis, menilai ini adalah cara Trump mengklaim kemenangan sepihak, serta menutupi kegagalan maupun kerugian akibat rudal-rudal Iran.
“Jarang sekali seorang kepala pemerintahan memerintahkan pembunuhan kepala pemerintahan lainnya. Namun pada tanggal 28 Februari, presiden Amerika dan perdana menteri Israel melakukan hal itu, membunuh pemimpin tertinggi Iran yang berusia 86 tahun, Ayatollah Ali Khamenei,” tulis editorial the Economist secara sinis.
Namun, “Operasi Epic Fury” itu dinilai tidak berbuah apa pun, sebab posisi Ali Khamenei segera digantikan oleh triumvirat, dan kini mereka sudah menunjuk Ayatollah baru: Mojtaba Khamenei, anak sang martir.
“Hal itu menandakan sesuatu yang lebih halus dan mengkhawatirkan: bahwa operasi tersebut gagal mencapai tujuan politiknya,” kecam The Economist.
Trump memulai perang tanpa alasan kuat. Adalah naif untuk mengatakan, seperti yang dilakukan beberapa pendukung Trump, bahwa karena Ali Khamenei “jahat”, sehingga perang menjadi masuk akal.
Trump Terjepit Opini Publik: Mayoritas Warga Amerika ‘Tolak’ Perang Lawan Iran!
Begitu pula tujuannya, Trump menunjukkan perang melawan Iran nyaris seperti tidak ada tujuan.
“Ketika Anda memimpin mesin yang mematikan dan luar biasa seperti angkatan bersenjata AS, yang bersatu dengan pasukan Israel berpengalaman dalam pertempuran, Anda memiliki tanggung jawab khusus untuk menentukan apa yang ingin Anda capai. Itu bukan hanya persyaratan etis; itu juga persyaratan praktis.”
Dalam paragraf selanjutnya, The Economist terus melancarkan kritik terhadap Trump, “Tujuan perang mengarahkan kampanye; tujuan tersebut menentukan pengorbanan yang dibebankan negara kepada rakyatnya sendiri dan musuh; dan tujuan tersebut menentukan kapan pertempuran harus berakhir.”
Dalam perang ini, tujuan Israel berperang justru lebih jelas: menghancurkan ancaman yang ditimbulkan oleh rezim Iran.
Sebaliknya, Trump dan kabinetnya telah menawarkan serangkaian pernyataan yang berubah-ubah—tentang rudal Iran, senjata nuklir, perubahan rezim, mengikuti arahan Israel, “perasaan” bahwa Iran akan menyerang, dan menyelesaikan dendam setelah puluhan tahun permusuhan.
“Secara politis, ketidakjelasan memberi Trump ruang untuk bermanuver. Secara strategis, kegagalannya untuk mengatakan apa tujuan Epic Fury adalah kerentanan terbesarnya,” kritik The Economist.
Ketiadaan strategi dalam perang yang dilakukan Trump, justru menguntungkan secara politik bagi Iran. Sebab, perang sejatinya adalah politik yang keluar dari moncong senjata.
“Sejauh ini, Iran berhasil. Alih-alih runtuh, mereka justru bergegas untuk meningkatkan eskalasi secara horizontal—cara lain untuk mengatakan bahwa mereka menyerang ke segala arah. Hal ini memiliki sejumlah konsekuensi.”
Salah satu alasannya adala, negara-negara lain ikut terseret. Iran menyerang negara-negara Teluk, yang menjadi pangakalan-pangkalan militer AS.
Konsekuensi lainnya adalah ekonomi. Iran telah menutup Selat Hormuz, memutus jalur pelayaran.
Penurunan pasokan minyak global diperkirakan mencapai 20 persen.
Dampaknya juga terasa pada infrastruktur energi, termasuk kompleks pencairan gas terbesar di dunia dan kilang minyak terbesar di Arab Saudi.
Harga minyak mentah Brent naik 14 persen sejak 27 Februari, menjadi USD83 per barel.
Satu megawatt-jam gas alam di Eropa berharga Euro 54), lebih dari 70 persen lebih tinggi dibandingkan minggu lalu.
Karena pembeli di Asia berebut pasokan, harga bisa naik lebih tinggi lagi. Ekonomi global masih bisa terpukul.
Jika harga minyak mencapai USD100 per barel, pertumbuhan PDB bisa turun 0,4 poin persentase dan inflasi naik 1,2 poin.
Akhirul kalam, The Economist menyarakan agar Donald Trump segera mencari cara untuk keluar dari perang, mengklaim kemenangan secara dini, karena sangat berisiko bila terus berlanjut.
“Amerika mungkin merupakan pengekspor energi, tetapi para pemilih Trumo membenci bensin yang mahal. Ia mungkin tergoda untuk mencari kemenangan mutlak dengan membom rezim tersebut hingga musnah. Tetapi bahkan dengan kekuatan militer Amerika, ia mungkin tidak akan berhasil. Sementara itu, semua risiko tersebut akan terus merugikan kawasan dan ekonomi dunia. Lebih baik AS mendeklarasikan kemenangan lebih dini ketimbang nanti akan kesusahan,” tulis The Economist.
Sumber: Suara