Setelah Teheran, Trump Incar Havana: Kuba Terancam ‘Lumpuh Total’ Akibat Blokade Energi

DEMOCRAZY.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menebar ancaman di panggung geopolitik global.

Belum kering peluh militer AS dalam konfrontasi dengan Iran, Trump secara terang-terangan menyatakan bahwa Kuba kini berada dalam bidikan utamanya.

Ia memprediksi rezim komunis di Havana akan segera runtuh akibat blokade energi yang kian mencekik.

“Kuba sudah siap setelah 50 tahun. Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan,” ujar Trump dalam wawancara telepon dengan CNN, dikutip Sabtu (7/3/2026).

Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa strategi perubahan rezim (regime change) yang diterapkan di Timur Tengah akan segera diduplikasi di kawasan Karibia.

Marco Rubio Jadi Ujung Tombak

Dalam misi menggulingkan rezim Havana, Trump mempercayakan tongkat komando diplomatik kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Penunjukan Rubio bukanlah tanpa alasan; politisi ini dikenal sebagai kritikus keras rezim kiri di Amerika Latin.

Ambisi Trump dan Rubio sangat jelas: menumbangkan pemerintahan Kuba sebagaimana mereka berupaya mendepak Nicolas Maduro di Venezuela.

Sebagai langkah awal, pejabat Departemen Luar Negeri AS, Rob Allison, dilaporkan telah bertemu dengan petinggi Gereja Katolik di Havana untuk membahas bantuan kemanusiaan dan ‘kebutuhan akan perubahan’ guna memperbaiki krisis di negara tersebut.

Strategi ‘Mencekik’ Lewat Energi

Kuba saat ini sedang berada di titik nadir. Sejak 9 Januari 2026, negara tersebut tidak menerima kiriman minyak sama sekali akibat blokade energi yang diberlakukan Washington. Dampaknya sangat destruktif:

  • Krisis Transportasi: Maskapai penerbangan terpaksa mengurangi bahkan menangguhkan jadwal terbang.
  • Pemadaman Masal: Dua pertiga wilayah Kuba mengalami gelap gulita setelah pembangkit listrik terbesar,  Antonio Guiteras, mengalami kerusakan fatal.

Kelangkaan Bahan Pokok: Krisis energi memperparah kelangkaan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar yang sudah terjadi selama puluhan tahun akibat embargo sejak 1962.

Havana menuduh Trump sengaja melakukan taktik ‘pencekikan ekonomi’ untuk memicu kerusuhan domestik yang berujung pada jatuhnya pemerintah.

Diplomasi Vatikan di Ujung Tanduk

Sejarah mencatat bahwa Gereja Katolik dan Vatikan sering kali menjadi jembatan antara Washington dan Havana. Di era Barack Obama dan Joe Biden, diplomasi ini sempat membuahkan hasil dengan pemulihan hubungan diplomatik dan penghapusan Kuba dari daftar negara sponsor terorisme.

Namun, semua pencapaian itu sirna di tangan Trump.

Begitu kembali berkuasa pada Januari 2025, Trump langsung memasukkan kembali Kuba ke dalam daftar hitam teroris.

Kini, dengan ancaman yang kian terbuka, masa depan Kuba seolah berada di ujung tanduk.

Apakah Havana akan mengikuti jejak Teheran dalam pusaran konflik melawan sang Superpower? Waktu yang akan menjawab.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya