DEMOCRAZY.ID – Pertemuan tertutup selama dua jam antara Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memicu berbagai spekulasi di kalangan publik.
Tanpa adanya penjelasan resmi mengenai agenda pertemuan empat mata tersebut, pengamat politik Rocky Gerung menilai pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi biasa.
“Politik itu bisa dibaca dengan dua lapis, yaitu lapis yang tidak diucapkan dan lapis yang sebetulnya diucapkan tapi tidak ingin diketahui,” ujar Rocky Gerung dalam perbincangan dengan Hersubeno Arief akhir pekan ini atau diunggah di kanal YouTube Rocky Gerung.
Menurut Rocky, alasan paling masuk akal dari pertemuan tersebut adalah kegelisahan Jokowi terkait nasib anak-anaknya, terutama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution.
Keduanya kini berada dalam sorotan publik terkait berbagai isu.
“Alasan yang paling masuk akal adalah serangkaian ketegangan politik atau kegelisahan politik yang mengaitkan tiga anak presiden ini dalam kasus-kasus yang bersifat koruptif,” tegas Rocky.
Dinasti politik Jokowi saat ini tengah menghadapi tekanan dari berbagai pihak, mulai dari gerakan mahasiswa (BEM), kelompok masyarakat yang kerap disebut ‘mak-mak’, hingga tekanan internasional untuk membuka dugaan praktik korupsi yang melibatkan keluarga Jokowi.
Selain soal dinasti, Jokowi juga digelisahkan dengan isu ijazahnya.
Setelah KPU memberikan salinan ijazah Jokowi kepada Roy Suryo dan rekan-rekannya, isu kepalsuan ijazah kembali mencuat ke permukaan.
“Fokus politik publik sekarang adalah menunggu kepastian dari teman-teman Roy Suryo CS untuk membuktikan kepalsuan dari ijazah Pak Jokowi,” kata Rocky.
Kelompok Roy Suryo dikabarkan tidak hanya akan melakukan analisis sendiri, tetapi juga akan melibatkan laboratorium forensik independen untuk menguji keaslian ijazah tersebut.
Rocky menilai pembuktian yang dilakukan kelompok ini semakin kuat secara metodologis, sementara pendukung Jokowi hanya memberikan pernyataan tanpa bukti ilmiah yang memadai.
Belakangan, Jokowi terlihat sangat aktif secara politik.
Ia hadir di Kongres PSI, menerima politisi yang baru bergabung dengan PSI seperti Ahmad Ali, mengumpulkan elit politik PSI di Bali, hingga bertemu dengan Presiden Prabowo.
Rocky menilai aktivitas Jokowi ini justru memperlihatkan ketakutan dan kegelisahannya.
Bahkan usulan Jokowi agar Prabowo dan Gibran menjadi pasangan capres-cawapres di 2029 dinilai sebagai bentuk kegelisahan tersebut.
“Tanpa sadar sebetulnya Presiden Jokowi memperlihatkan ketakutan dia, bahwa dia kalau bukan dijamin oleh anaknya sendiri pasti akan ada di dalam kepungan politik di masa yang akan datang,” ungkap Rocky.
Rocky menyoroti ironi kondisi Jokowi sebagai mantan presiden dua periode yang seharusnya menjadi tokoh bangsa, namun terlihat hanya memikirkan dirinya sendiri dan keluarganya.
“Ironinya ini sebagai seorang mantan presiden dua periode, seorang tokoh bangsa harusnya seperti itu ya, terlihat sekali bahwa Jokowi ini hanya memikirkan dirinya sendiri dan keluarganya,” kritik Rocky.
Menurutnya, isu-isu seputar dinasti Jokowi—mulai dari ijazah palsu, dugaan keterlibatan Gibran dengan istrinya, hingga dugaan korupsi proyek jalan yang melibatkan Bobby Nasution—tetap menjadi pembicaraan utama di berbagai kalangan masyarakat.
Rocky memberikan saran keras kepada Jokowi untuk melakukan “detoksifikasi” dengan melepaskan diri dari para pendukung yang dinilainya tidak bermutu atau yang disebut netizen sebagai ‘buzzer’.
“Tindakan paling bagus adalah detoksifikasi dulu Pak Jokowi. Lepaskan para buzzer yang justru menjerumuskan Anda karena ketidakmampuan berkomunikasi dan kedangkalan analisis,” saran Rocky.
Ia menilai para komunikator politik Jokowi dangkal dan justru membuat mantan presiden itu semakin tenggelam dalam opini publik yang negatif.
Hingga kini, baik pihak Jokowi maupun Istana belum memberikan keterangan resmi mengenai isi pertemuan antara Jokowi dan Prabowo tersebut, membuat spekulasi terus berkembang di masyarakat.
Sumber: JakartaSatu