DEMOCRAZY.ID – Tabir gelap di balik Operasi Militer “Epic Fury” Israel ke Iran yang meruntuhkan kekuasaan Ayatollah Ali Khamenei mulai tersingkap.
Sebuah laporan investigasi menyebutkan serangan udara besar-besaran pada Sabtu (28/2/2026) bukan sekadar keputusan sepihak Gedung Putih.
Melainkan hasil lobi intensif selama berminggu-minggu yang dilakukan oleh Pangeran Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), bersama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Berdasarkan laporan The Washington Post yang mengutip empat sumber internal, MBS diduga memainkan peran krusial dalam meyakinkan Presiden AS Donald Trump untuk mengambil opsi militer.
Meski secara publik Riyadh gencar menyuarakan dukungan terhadap solusi diplomatik, di balik layar MBS dilaporkan melakukan serangkaian panggilan telepon pribadi kepada Trump dalam sebulan terakhir guna mengadvokasi serangan langsung.
Strategi “penjepit” ini dilakukan bersamaan dengan kampanye terbuka Netanyahu yang konsisten melabeli Iran sebagai ancaman eksistensial.
Lobi ini terjadi tepat saat utusan presiden Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, sebenarnya masih berada di tengah meja perundingan nuklir dengan Teheran.
Dalam diskusi tertutup dengan pejabat tinggi AS, para pemimpin Saudi dilaporkan memberikan peringatan keras.
Mereka berargumen bahwa penundaan serangan hanya akan membuat Iran semakin berbahaya pasca-pengerahan militer besar-besaran AS di kawasan tersebut.
Keseriusan ini diperkuat oleh Menteri Pertahanan Saudi, Khalid bin Salman, yang menggelar pertemuan rahasia di Washington untuk menekankan konsekuensi fatal jika AS tidak segera meluncurkan proyektilnya.
“Pemimpin Saudi memperingatkan bahwa Iran akan menjadi lebih kuat dan lebih berbahaya jika Washington tidak menyerang sekarang,” ungkap sumber yang mengetahui diskusi sensitif tersebut.
Menanggapi bocornya informasi ini, seorang pejabat senior Saudi segera mengeluarkan bantahan tegas.
Kerajaan mengklaim bahwa posisi mereka tetap konsisten pada jalur perdamaian dan dialog kredibel.
“Dalam komunikasi kami dengan pemerintahan Trump, tidak pernah kami melobi presiden untuk mengadopsi kebijakan berbeda. Riyadh konsisten mendukung upaya diplomatik,” tegas pejabat tersebut.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan kerja sama taktis yang luar biasa antara pasukan AS dan Israel dalam menggulingkan rezim yang telah berkuasa selama hampir empat dekade tersebut.
Kematian Khamenei di jam pertama serangan menjadi bukti betapa matangnya perencanaan yang diduga melibatkan sokongan intelijen dan geopolitik dari negara tetangganya di Teluk.
Serangan itu terjadi meskipun penilaian intelijen AS menyebut, pasukan Iran kecil kemungkinan menimbulkan ancaman langsung ke daratan AS dalam satu dekade ke depan.
Langkah tersebut juga menandai perubahan tajam dari kebijakan AS selama puluhan tahun yang menahan diri dari upaya penuh untuk menggulingkan rezim Iran yang berpenduduk lebih dari 90 juta jiwa.
Dalam pidato video saat bom AS dijatuhkan, Donald Trump berkata kepada rakyat Iran,
“Tidak ada presiden yang bersedia melakukan apa yang saya lakukan malam ini. Sekarang kalian memiliki presiden yang memberi apa yang kalian inginkan, jadi mari kita lihat bagaimana kalian merespons.”
Ia juga menyebut AS menghadapi “ancaman yang akan segera terjadi dari rezim Iran” dan menuding Teheran terus mengembangkan senjata nuklir serta misil jarak jauh yang “segera bisa mencapai daratan Amerika.”
Namun, klaim tersebut diperdebatkan. Badan Energi Atom Internasional menyatakan, tidak ada bukti Iran memulai kembali pengayaan uranium atau memiliki rencana aktif membangun bom.
Penilaian Badan Intelijen Pertahanan AS tahun lalu juga menyebut tidak ada indikasi Iran mengembangkan rudal balistik antarbenua.
Sejumlah politisi Demokrat turut mendesak Trump menjelaskan dasar ancaman tersebut.
Senator Mark R Warner mempertanyakan, “Apa ancaman yang benar-benar akan segera terjadi terhadap Amerika? Saya tidak tahu jawabannya.”
Ia menambahkan bahwa tidak melihat ancaman yang “secara harfiah layak menempatkan pasukan AS dalam bahaya.”
Mantan diplomat AS Aaron David Miller mengingatkan, “Sejarah tidak bersikap baik terhadap upaya untuk secara fundamental mengubah dan merestrukturisasi politik internal suatu negara hanya dengan kekuatan udara.”
Ia menyebut langkah ini sebagai operasi “lempar dadu” yang mencoba menyeimbangkan antara menghindari konflik berkepanjangan dan menggunakan kekuatan militer secara maksimal.
Trump sendiri berjanji bahwa “pemboman berat dan presisi akan terus berlanjut, tanpa henti sepanjang minggu atau selama diperlukan untuk mencapai tujuan kita: PERDAMAIAN DI SELURUH TIMUR TENGAH DAN, BAHKAN, DUNIA.”
Sumber: Tribun