DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik Muhammad Said Didu mengungkapkan keprihatinannya atas memudarnya kepercayaan sejumlah tokoh senior bangsa terhadap konsistensi Presiden Prabowo Subianto dalam merealisasikan ucapan-ucapannya.
Hal itu disampaikan Said Didu saat diwawancarai di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Selasa (23/2/2026).
Didu menceritakan bahwa dalam beberapa pekan terakhir ia berkeliling menemui sejumlah tokoh nasional, di antaranya ekonom senior Emil Salim (95 tahun), mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, serta aktivis 66 Sofyan Wanandi.
“Menurut mereka, bangsa ini hanya perlu kepastian dari Presiden Prabowo antara ucapan dengan aksi. Problemnya, kita enggak bisa tahu siapa yang ngambil aksi di kabinet, karena tidak ada yang bisa kita pegang,” ujar Said Didu.
Mantan Sekretaris Kementerian BUMN itu menilai bahwa lemahnya koordinasi kabinet membuat arah kebijakan pemerintah menjadi tidak terbaca.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti masing-masing menteri yang hanya berjalan sendiri-sendiri tanpa kendali yang jelas dari pusat.
Didu juga mengungkapkan bahwa ia secara langsung menyampaikan kepada Presiden Prabowo bahwa waktu yang tersedia tidaklah panjang.
“Saya bilang kepada Bapak, Bapak sekarang sudah ada di titik to kill or to be killed. Waktu Bapak pendek, jangan Bapak menganggap lama,” kata Said Didu menirukan perkataannya kepada Presiden.
Dalam pertemuan tersebut, Prabowo disebut menyampaikan secara rinci sejumlah nama perampok negara beserta cara mereka beroperasi.
Namun Said Didu mengaku tetap frustrasi melihat cara yang ditempuh pemerintah selama ini.
“Terhadap niat Pak Prabowo yang diucapkan, saya 1.000 persen setuju. Tapi saya frustrasi melihat caranya,” tegasnya.
Said Didu menggunakan analogi yang gamblang untuk menggambarkan posisi Prabowo saat ini.
Menurutnya, Presiden ibarat seseorang yang ingin mengambil sarang madu—yang ia ibaratkan sebagai oligarki—dan telah memiliki dua modal: tongkat untuk menyodok sarang tawon, dan obor untuk mengusir lebah.
Namun satu hal yang belum dimiliki adalah korek api.
“Korek apinya masih dipegang oleh geng Solo Oligarki Parcok sehingga kalau Pak Presiden tidak diserahkan korek itu oleh mereka, maka kami yang menyiapkan korek apinya,” tuturnya.
Said Didu juga mengungkap bahwa Presiden Prabowo secara terbuka mengakui adanya rasa takut dalam dirinya.
Dalam pertemuan itu, Prabowo bahkan meminta Said Didu untuk rutin bertemu setiap dua minggu sekali.
“Saya bilang, ‘Enggaklah, Pak, Bapak kan banyak sibuk.’ Beliau menjawab, ‘Enggak, aku butuh suntikan keberanian,’” cerita Said Didu.
Menurutnya, ketakutan Prabowo bukan pada dinamika politik partai, melainkan pada potensi gejolak sosial yang bisa datang kapan saja.
“Pak Prabowo itu enggak usah takut politik. Politik enggak ada sekarang. Yang perlu diwaspadai adalah gejolak sosial,” katanya.
Lebih jauh, Said Didu mengungkap adanya wacana ekstrem yang mulai beredar di kalangan mereka yang sudah tidak lagi mempercayai Prabowo.
Sejumlah pihak, menurutnya, mulai membicarakan skenario bergabung dengan kelompok oligarki untuk kemudian melakukan kudeta dari dalam.
“Sudah ada selentingan dari orang-orang yang tidak percaya lagi Prabowo, menyatakan bagaimana kalau kita pura-pura bergabung sama geng Solo Oligarki Parcok, setelah itu kita kudeta lagi,” ungkapnya.
Said Didu mengaku merasa ngeri mendengar wacana tersebut.
Ia mengingatkan bahwa oligarki adalah kendaraan yang besar, dengan uang melimpah dan kekuasaan yang masih mencengkeram banyak sendi kehidupan berbangsa.
Merespons kondisi tersebut, Said Didu menegaskan bahwa tidak ada jalan lain selain merombak kabinet secara signifikan.
Ia menilai sejumlah menteri tidak memiliki sensitivitas politik dan gagal menerjemahkan arahan presiden ke dalam kebijakan nyata.
“Tidak ada ajaran lain. Harus mengganti kabinet. Balas budi sudah selesai. Kalau Pak Presiden masih melanjutkan terus balas budinya, maka balasnya yang datang, budinya yang pergi — balasnya dari rakyat,” tegasnya.
Said Didu juga menyoroti bahwa bahkan lingkaran pertama Prabowo pun belum sepenuhnya sejalan dengan visi sang Presiden, merujuk pada sejumlah kasus seperti rencana impor truk dari India oleh Agrinas dan kekacauan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menutup dengan menegaskan bahwa pilihan paling rasional saat ini tetaplah mendukung dan memperbaiki Prabowo dari dalam, bukan mencari alternatif lain yang taruhannya jauh lebih besar.
“Memperbaiki Pak Prabowo jauh lebih mudah daripada berjudi dengan cara lain,” pungkasnya.
Sumber: JakartaSatu