DEMOCRAZY.ID – Dalam perkembangan yang memicu kekhawatiran global, sebanyak 16 pesawat kargo militer milik Angkatan Udara China dilaporkan mendarat di Iran dalam kurun waktu hanya 56 jam.
Pendaratan ini menimbulkan spekulasi mengenai kemungkinan eskalasi baru di Timur Tengah.
Menurut laporan Defence Security Asia, operasi ini disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah hubungan militer China–Iran.
Pesawat angkut strategis Y-20, yang dikenal mampu mengangkut peralatan berat dan memiliki jangkauan jarak jauh, menjadi bagian dari rombongan pesawat tersebut.
Beberapa pesawat dilaporkan mematikan transponder atau perangkat pelacakan mereka sebelum memasuki wilayah udara Iran, praktik yang biasa digunakan dalam operasi sensitif untuk menghindari deteksi radar publik.
Aktivitas ini mengingatkan pada insiden serupa pada 2025, ketika pesawat kargo China dilaporkan “menghilang” di koridor udara Asia Tengah menuju Iran.
Para analis militer menilai pengiriman besar-besaran ini berpotensi sebagai dukungan logistik atau militer terselubung China kepada Iran, terutama di tengah konflik berkepanjangan dengan Israel.
Kapasitas muatan Y-20 yang mencapai 66 ton dan jangkauannya lebih dari 7.800 kilometer memungkinkan pengangkutan sistem pertahanan udara jarak jauh, radar canggih, peralatan peperangan elektronik, atau subsistem drone, yang dapat memperkuat kemampuan pertahanan Iran.
Meski ada spekulasi kemungkinan pengiriman sistem rudal HQ-9 atau HQ-19, hingga saat ini belum ada bukti independen yang memastikan muatan spesifik atau tujuan resmi penerbangan tersebut.
Beijing sendiri belum mengonfirmasi laporan ini.
Laporan pendaratan pesawat kargo militer China di Iran menimbulkan reaksi di Israel, Amerika Serikat, dan negara-negara Teluk.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa setiap serangan Iran akan dibalas dengan kekuatan yang belum pernah dialami sebelumnya, sebagai sinyal pencegahan strategis terhadap Iran maupun aktor eksternal yang mendukung Teheran.
Sementara itu, Washington dan negara-negara Teluk meningkatkan kewaspadaan regional, dengan meninjau kembali postur keamanan dan strategi mitigasi risiko.
Para analis menyatakan, dukungan logistik atau teknologi militer dari China berpotensi meningkatkan risiko konflik regional melalui serangan langsung maupun perang proksi.
Jika terbukti benar, langkah ini menandai perubahan signifikan peran China sebagai aktor logistik militer aktif di luar wilayah tradisionalnya, menambah dimensi baru dalam perseteruan geopolitik di Timur Tengah.
Sumber: Tribun