DEMOCRAZY.ID – Kuasa hukum Eggi Sudjana, Elida Netti akhirnya mengakui adanya polisi aktif dalam pertemuan kliennya dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Solo, pada Kamis (8/1/2026).
Elida Netti menyebut kedatangan polisi aktif itu atas permintaannya.
Diterangkan Elida, pertemuan antara Eggi Sudjana dengan Jokowi itu sudah sekira satu bulan direncanakan dan dimatangkan 4-5 hari sdebelum acara,
Elida mengaku dia dan anak Eggi yang juga pengacara, Hisbullah sebagai inisiatornya.
“Setelah kita melihat peristiwa ini berkepanjangan. Terus tidak ada henti-hentinya. Bahkan ada dari beberapa pihak yang benar-benar melakukan gestur yang tidak baik sebagai tokoh bangsa. Selalu tampil di TV-TV ribut ribut ribut. Saya berpikir kok harus seperti ini gitu,” ungkap Elida dikutip dari tayangan Apa Kabar Indonesia Pagi TVOne pada Jumat (16/1/2026).
Sebelum berinisiatif menemui Jokowi, Elida lebih dulu mengajukan gelar perkara khusus yang akhirnya disetujui penyidik Polda Metro dan digelar pada 16 Desember 2025.
Usai gelar perkara khusus itu, Elida mengajukan permohonan agar status Eggi Sudjana sebagai tersangka ditarik alias dibatalkan.
Elida lalu mengajukan permohonan untuk menemui Jokowi di Solo.
“Jadi begitu kita lihat ini Bang Egi sakit, berdasarkan rasa kemanusiaan. Saya bilang, “Saya mau deh ke Solo. Gimana caranya?,” ungkap Elida.
Karena dia tidak memiliki akses, maka Elida menghubungi penyidik Polda Metro Jaya.
Elida mengaku Eggi Sudjana menyetujui inisiasinya untuk bertemu dengan Jokowi di Solo, dengan syarat tidak ada permintaan maaf dan tidak ada media.
“Bang Egi itu kan enggak mau kata-kata minta maaf. Biar dia ditembak dia tidak akan minta maaf,” katanya.
Setelah itu, Elida menghubungi penyidik bernama Rosadi agar ada pendampingan dari polisi.
Elida membantah pendampingan polisi ini untuk keperluan restorative justice.
“Hanya mendampingi pertemuan,”katanya.
Setelah itu, Elida berangkat ke kediaman Jokowi di Solo.
Sebelum bertemu Jokowi, Eggi meminta harus steril.
Bahkan, saat itu Eggi mengancam akan balik atau ribut jika lokasi tidak disterilkan.
“Nah, saya kan dag dig dug. Saya enggak putus istigfar, enggak putus zikir karena saya takut ini akan berbuat berdampak luar biasa. Karena Bang Egi orangnya enggak bisa diatur atau enggak bisa ini gitu,” katanya.
Sebelum Eggi masuk menemui Jokowi, Elida yang lebih dulu masuk, diikuti Damai Hari Lubis.
“Begitu Bang Egi masuk langsung dipeluk sama Pak Jokowi. Terus langsung Pak Jokowi bilang ingat ya Bang Eggi ini dulu sudah top. Waktu dulu 2006 saya minta tolong sama Bang Edi buat LBH di Solo,” ungkap Elida.
Soal keberadaan relawan Jokowi, Elida mengaku tidak tahu dan sempat membuat pihaknya kaget.
Setelah pulang dari Solo itu lah pihaknya baru mengajukan permohonan Restirative Juatice.
Dan, kemarin Eggi Sudjana secara resmi mendapat surat perintah penghentian penyidikan (SP3) dari penyidik Polda Metro.
Elida menyebut kata maaf tidak lah penting untuk kasus ini.
“Eh menurut saya kata maaf dengan berjabat tangan atau mengucapkan itu tidaklah penting. Yang penting mereka berdamai, ikhlas kedua belah pihak, gesturnya cuman luar biasa. Mereka ee apa understanding atau apa selama ini mereka akan menjalinkan silaturahmi,” katanya.
Elida lalu menunjukkan SP3 atas nama Eggi Sudjana serta surat permohonan yang ditandatangani Jokowi.
Selain Eggi Sudjana, SP3 juga didapat tersangka Damai Hari Lybis.
Damai Hari Lubis berdalih turunnya surat penghentian penyidikan (SP3) kasusnya karena dia sudah mengajukan surat pembelaan ke penyidik Polda Metro Jaya sejak 15 Desember 2025.
Damai mengaku kedatangan dia dan Eggi Sudjana ke rumah Jokowi bukan untuk meminta kasusnya dihentikan.
Dia mengaku diajak Eggi ke rumah Jokowi untuk menasehati Presiden ke-7 RI tersebut.
Dia menyanggupi dengan syarat tidak ada minta maaf dan tidak dipublikasikan.
“Saya ini ke sini bukan minta maaf,” katanya dikutip surya.co.id dari tayangan Dua Sisi TVOne pada Jumat (16/1/2026)
Dikatakan Damai, pertemuan dengan Jokowi itu hanya silaturahmi saling menanyakan kabar.
Saat itu Eggi menceritakan pengobatan penyakitnya di Malaysia, dan Jokowi tertarik.
“Dia (Eggi Sudjana) kan kena tumor. Ada seminggu perkembangan dites diagnosisnya enggak ada masalah enggak nyebar. 6 bulan enggak nyebar ya kan. Mungkin Pak Jokowi sakitnya bisa di sana. Jadi bukan di KL, bukan di Penang kata Eggi. Ngobrol-ngobrol begitu aja,” ujarnya.
Damai berdalih tidak ada obrolan tentang kasus ijazah.
“Itu sama Pak Jokowi katanya understanding. Pak Jokowi yang bilang understanding,” katanya.
Terkait video yang merekam Eggi Sudjana mengatakan Jokowi BCM, Berani, Cerdas, Militan, Damai pun kembali berdalih.
“Saya lihat ada kata-kata insyaallah Pak Jokowi BCM berani, cerdas militan. Nah, karena di di disangka dibilang oleh Rocky Grung adalah bajingan tolol bodoh ya. Jadi kan artinya mudah-mudahan BCM kita analisanya yang benar dong yang objektif,” dalihnya.
Keterangan Damai Hari Lubis ini langsung diskakmat Prof Ciek Julyati Hisyam, Guru Besar (Profesor) dari Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang hadir di acara itu.
Dia melihat tidak ada inti yang dibicarakan dalam pertemuan Eggi Sudjana, Damai dan Jokowi di Solo.
“Apakah ini adalah bagian dari Bapak untuk menutupi permasalahan atau ini adalah memang benar itu yang terjadi? Karena kalau orang datang punya motivasi,” tegas Prof Ciek kepada Damai.
Menurut dia tidak ada seseorang datang tanpa motivasi.
“Tidak ada orang datang ujuk-ujuk tiba-tiba tanpa motivasi tanpa tujuan.
“Nasihatin yang seperti apa yang sehingga Bapak bisa mendapatkan SP3? Apakah ada keterkaitan dengan hukum?,” ujar Prof Ciek.
Mendengar komentar itu, Damai tidak terima.
“Enggak pantas dosen seperti ini enggak objektif,” sergah Damai.
“Profesor enggak ada urusan,” imbuh Damai sambil emosi.
“Saya kan hanya membaca dari apa yang Bapak ceritakan secara kronologis,” jawab Prof Ciek.
Prof Ciek kembali mengatakan, bahwa cerita Damai belum ada intinya.
Cerita yang diungkap Damai adalah hal yang remeh temeh.
“Karena intinya dari tadi kan hanya cerita tentang yang menurut saya remeh-temeh begitu. Intinya apa yang saya pikirkan di sini menurut saya orang datang pasti memiliki suatu motivasi dan tujuan. Lah kalau sekarang tujuannya kan belum diomongin yang berujung ke sore ini keluar surat kan.” katanya.
Damai kembali menyela.
Menurutnya keluarnya SP3 itu karena dia sebelumnya mengajukan pembelaan ke Polda Metro Jaya pada 15 Desember 2025 saat gelar perkara khusus.
“Tadi sudah dijelaskan 15 Desember ya. Saya tidak patut dijadikan tersangka. Kok kok jadi tiba-tiba 15 Desember. Tadi saya sampaikan, saya setuju dengan pendapat Bang Eggi yang mau menasehati. Bang Egi dia mau menasehati. Hm. Dia dihujat oleh teman-temannya,” dalih Damai.
Prof Ciek masih tidak percaya dengan alasan Damai.
Dia tetap berpendapat bahwa turunnya SP3 itu pasti ada sebab akibatnya.
Dan kedatangan Eggi dan Damai ke Solo memiliki motivasi dan tidak datang tiba-tiba.
Sumber: Tribun