DEMOCRAZY.ID – Meski Pilpres 2029 masih lama, namun diprediksi lima poros kekuatan akan terbentuk.
Demikian analisa Politikus PDI Perjuangan Ferdinand Hutahaean terkait kekuatan poros politik 2029.
“2029 kalau kita menghitung secara jam atau hari maka masih sangat panjang. Tetapi kalau kita bicara tentang hari politik maka 2029 sudah di depan mata,” kata Ferdinand.
Ferdinand lalu memprediksi lima poros kekuatan politik di 2029.
Poros pertama yakni Prabowo Subianto. Dimana, Prabowo diprediksi akan menjadi kandidat di Pilpres 2029.
Prabowo akan berstatus incumbent saat maju di Pilpres 2029.
Poros kedua yakni Megawati Soekarnoputri.
“Di PDI Perjuangan ini ada dua nama yang mungkin akan muncul dalam permukaan politik 2029 yaitu Puan Maharani dan juga Pramono Anung yang saat ini menjadi Gubernur DKI Jakarta,” kata Ferdinand Hutahaean.
Poros ketiga dipegang Susilo Bambang Yudhoyono.
“Dengan anaknya Agus Harimurti Yudhoyono yang akan dimajukan sebagai kandidat,” ujar Ferdinand.
Poros keempat dimiliki Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Ferdinand menuturkan Jokowi akan memajukan Gibran Rakabuming Raka.
Poros kelima yakni Jusuf Kalla (JK). Ferdinand mengatakan nama Anies Baswedan sebagai kandidat yang akan diusung.
“Kelima poros politik ini saat ini yang paling giat bekerja ada dua poros yaitu poros Jusuf Kalla dan poros Joko Widodo,” kata Ferdinand.
Ferdinand menuturkan poros Jokowi sedang bertarung untuk menguatkan posisinya di parlemen serta berharap PSI lolos ke Senayan pada 2029.
“Juga memperkuat posisi Gibran Rakabuming Raka untuk bisa running pada 2029 nanti apakah menjadi pendamping Prabowo ataukah dia akan maju running dengan yang lain,” ucapnya.
Lalu, poros JK. Ferdinand menilai saat ini poros Jusuf Kala dan Anies Baswedan adalah poros yang paling gatal, paling genit, paling liar, paling bermain dalam kancah politik nasional untuk mengambil keuntungan politik 2029 nanti.
“Poros ini adalah poros yang paling berjuang untuk mendegradasi, menjatuhkan kredibilitas politik Prabowo Subianto. Harapan mereka bisa menggulingkan Prabowo di 2029 nanti dengan menggunakan kekuatan kalangan Islam politik,” kata Ferdinand.
Ferdinand menuturkan poros Megawati Soekarnoputi tetap membaca arah angin situasi karena memiliki peluang untuk berdampingan dengan Prabowo Subianto pada 2029 nanti.
“Terlepas itu, apakah Puan Maharani yang mendampingi Prabowo ataukah Pramono Anung yang akan mendampingi Prabowo,” katanya.
Menurut Ferdinand, hal tersebut merupakan harapan-harapan politik yang akan dibangun.
PDI Perjuangan, kata Ferdinand adalah partai yang sangat siap untuk terus mengirimkan kandidat calon presiden apabila tidak bisa running mendampingi Prabowo 2029 nanti.
Hal ini, kata Ferdinand, berbeda dengan poros SBY.
“Susilo Bambang Yudhoyono ini adalah partai yang malu-malu kucing saat ini. Harapannya AHY bisa mendampingi Prabowo 2029 nanti,” ucap Ferdinand.
“Tapi apabila tidak maka AHY dan Demokratnya pasti akan running menjadi capres. Semua itu akan mereka lakukan karena mereka adalah golongan partai-partai yang tidak malu-malu untuk kemudian bergabung dengan pemenang nantinya,” tambah Ferdinand.
Ferdinand menegaskan hanya PDI Perjuangan adalah partai yang tidak malu-malu untuk bergabung dengan kekuasaan pemenang.
“Hanya PDIP satu-satunya partai yang sampai saat ini konsisten. Apabila memang sudah tidak menang, ya sudah dia berada di luar pemerintahan,” kata Ferdinand.
“Nah, inilah bedanya PDIP dengan yang lain,” tambahnya.
Ia pun melihat poros SBY dan Joko Widodo akan bermain cantik dan berharap membuka peluang mendampingi Prabowo.
Namun, kedua poros itu akan tetap maju di 2029 apabila tidak dipilih sebagai pendamping Prabowo.
“Kalau JK dan Anies Baswedan, tentu mereka tidak akan berharap menjadi pendamping Prabowo Subianto. Maka mereka akan menggunakan kekuatan politiknya dari sekarang-sekarang ini. Mumpung lagi banyak isu yang bisa ditembakkan untuk mendegradasi politiknya Prabowo,” ucapnya.
Sementara itu, pengamat politik Yunarto Wijaya menilai peluang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam kontestasi Pilpres 2029 terbuka lebar.
Menurutnya, faktor nama besar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta memori publik terhadap kepemimpinan yang stabil menjadi modal penting bagi AHY di tengah dinamika politik nasional yang fluktuatif.
Menurut Yunarto, gaya kepemimpinan dalam era Presiden ke-7 RI Jokowi hingga dilanjutkan Presiden Prabowo Subianto, menghadirkan dinamika yang cukup fluktuatif.
Ia menyebut kondisi tersebut layaknya ‘roller coaster’, dengan kebijakan yang kerap menghadirkan kejutan di tengah masyarakat.
Pada era Jokowi, gelombang protes masyarakat sempat ramai di antaranya saat menolak Undang-Undang Cipta Kerja hingga revisi Undang-Undang KPK.
Sementara, pada setahun lebih kepemimpinan Presiden Prabowo, sejumlah kebijakan memantik polemik, seperti pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kebijakan luar negeri terkait Agreement on Reciprocal Trade dengan Amerika Serikat.
“Dalam 10 tahun Jokowi dan satu tahun Prabowo ini ada dinamika yang terasa naik turun,” ujar Yunarto.
Situasi tersebut, lanjut dia, memunculkan kecenderungan sebagian publik yang mulai merindukan model kepemimpinan yang lebih stabil dan berbasis sistem.
Dalam konteks ini, Yunarto melihat adanya memori kolektif terhadap era Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dianggap lebih tenang, meski kerap dikritik lamban.
“Sebagian orang mulai mencari pemimpin yang ‘proper’, yang bekerja by system, tidak banyak membuat kejutan,” katanya.
Menurut Yunarto, kondisi ini menjadi keuntungan tersendiri bagi AHY yang tidak bisa dilepaskan dari nama besar SBY, ayahnya.
Ia menilai, asosiasi publik terhadap stabilitas di era SBY berpotensi menjadi modal elektoral bagi AHY ke depan.
“Pada titik itu, nama AHY tentu diuntungkan dalam situasi seperti ini,” jelasnya.
Namun demikian, Yunarto mengingatkan bahwa peluang tersebut sangat bergantung pada langkah politik yang diambil Partai Demokrat.
Ia menilai, gaya politik SBY selama ini cenderung berhati-hati dan memilih posisi aman dalam membaca peta kekuatan.
“SBY biasanya baru mengambil posisi berbeda kalau situasinya sudah benar-benar aman,” ujarnya.
Karena itu, dalam jangka pendek, Yunarto melihat opsi realistis bagi AHY adalah tetap berada di lingkar kekuasaan, termasuk peluang sebagai calon wakil presiden.
“Selama Prabowo masih kuat dan tingkat kepuasan publiknya tinggi, kemungkinan besar posisi yang realistis itu di cawapres,” pungkasnya.
Meski begitu, Yunarto menegaskan bahwa dinamika politik menuju 2029 masih sangat cair dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan.
Sumber: Tribun