3 Negara Disebut Bisa ‘Setop’ Perang AS-Israel VS Iran, Siapa?

DEMOCRAZY.ID – Konflik Timur Tengah yang semakin memanas antara Amerika Serikat (AS) serta Israel melawan Iran memicu peringatan keras dari akademisi terkemuka asal Amerika Serikat, Profesor Jeffrey Sachs.

Mengutip laporan media Russia Today (RT), Sachs menegaskan bahwa hanya aliansi tiga kekuatan besar dunia yakni India, Rusia, dan China yang mampu menghentikan eskalasi perang tersebut sebelum dunia hancur.

Jeffrey Sachs yang merupakan Direktur Center for Sustainable Development di Columbia University menyampaikan pandangannya dalam program New Order yang dipandu oleh Afshin Rattansi.

Ia menilai bahwa konflik di Timur Tengah harus segera dihentikan oleh para pemimpin yang ia sebut sebagai sosok dewasa dalam peta politik global.

“Hanya ada tiga orang dewasa di dunia ini saat ini yang bisa menghentikan hal ini, dan mereka harus menghentikannya secara bersama-sama,” ujar Sachs, pada Selasa (7/4/2026).

Sachs menjabarkan bahwa figur yang dimaksud adalah Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Menurutnya, ketiganya merupakan pemimpin dari tiga negara adidaya lainnya di dunia saat ini yang memiliki kepentingan besar agar stabilitas global tetap terjaga.

“Perdana Menteri Narendra Modi, Presiden Xi Jinping, dan Presiden Vladimir Putin. Mereka adalah para pemimpin dari tiga negara adidaya dunia lainnya. Mereka memiliki kepentingan agar dunia tidak meledak dari dalam,” kata Sachs.

Selain menyoroti peran negara besar, Sachs memberikan kritik tajam terhadap mentalitas sebagian kepemimpinan politik di Israel.

Ia bahkan menyamakan pola pikir tersebut dengan masa ribuan tahun silam yang tidak lagi relevan dengan hukum internasional modern.

“Pandangan saya adalah sebagian dari kepemimpinan politik Israel berada dalam mentalitas abad ke-6 SM,” tutur Sachs.

Sachs juga menekankan bahwa kelompok BRICS menjadi satu-satunya kekuatan yang bisa diandalkan saat ditanya mengenai upaya Pakistan dalam menengahi perdamaian.

Ia memperingatkan India agar tidak terus bersekutu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mengingat situasi kemanusiaan yang terjadi di wilayah konflik.

“Seseorang seharusnya tidak menjadi teman Benjamin Netanyahu saat ini. India, sebagai negara besar dan adidaya, seharusnya tidak menyelaraskan diri dengan Israel, yang baru saja melakukan genosida di Gaza,” ucap Sachs.

Lebih lanjut, Sachs mengkritik hubungan diplomatik antara New Delhi dan Tel Aviv yang dianggapnya tidak memberikan keuntungan strategis bagi rakyat India.

Ia mendesak pemerintah India untuk berani menolak kebijakan luar negeri AS yang ia nilai sebagai sebuah kekeliruan besar.

“Ini bukanlah sebuah persahabatan, aliansi strategis, atau kemitraan. Ini bukan untuk kepentingan India. India memiliki kedudukan untuk mengatakan tidak pada apa yang saya sebut sebagai khayalan Amerika,” jelas Sachs.

Sachs menyarankan agar India mengambil langkah diplomatik ini secara kolektif bersama anggota BRICS lainnya seperti Rusia, China, dan Brasil.

Status India sebagai salah satu pemegang pengaruh besar di BRICS dianggap menjadi modal utama untuk menjadi penengah perdamaian global.

“India memiliki alasan utama untuk menjadi kandidat pembela perdamaian. Kedua, tidaklah menyenangkan berurusan dengan Donald Trump, jadi lebih baik melakukannya bersama dengan para mitra,” tambah Sachs.

Menutup pernyataannya, Sachs menyebutkan bahwa sejarah hubungan panjang antara India dan Iran menjadikan negara tersebut mediator yang ideal.

Ia juga menyindir negara-negara Barat yang dianggapnya sebagai negara bawahan yang dikendalikan sepenuhnya oleh kepentingan Washington.

“Negara-negara Barat dimiliki dan dioperasikan oleh Amerika Serikat. India tidak seharusnya mengulangi garis kebijakan dari negara-negara vasal tersebut,” pungkas Sachs.

Sumber: CNBC

Artikel terkait lainnya