Provinsi Aceh sedang menghadapi tantangan berat menjelang akhir tahun 2025. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui situs resminya BMKG Aceh terus mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem yang mendominasi wilayah ini.
Prakiraan untuk akhir Desember menunjukkan potensi hujan lebat disertai angin kencang, kilat/petir, serta risiko banjir dan tanah longsor di berbagai kabupaten, terutama di pesisir barat, selatan, dan dataran tinggi. Fenomena ini dipicu oleh bibit siklon tropis, gelombang atmosfer, serta pengaruh La Niña lemah yang meningkatkan curah hujan signifikan.
Di sisi lain, situasi cuaca buruk ini berpotensi memperburuk ancaman sosial berupa peredaran narkotika. Aceh, sebagai salah satu pintu masuk utama barang haram dari luar negeri, mencatat puluhan kasus pengungkapan besar sepanjang 2025.
Badan Narkotika Nasional (BNN), termasuk melalui koordinasi nasional dengan BNN Jakarta, terus menggalakkan program pencegahan dan pemberantasan. Namun, isolasi wilayah akibat banjir sering dimanfaatkan sindikat untuk menyelundupkan sabu-sabu, ganja, dan ekstasi.

Menurut data BMKG, Desember 2025 menjadi bulan dengan curah hujan tinggi hingga sangat tinggi di hampir seluruh Indonesia, termasuk Aceh. Prospek mingguan menyoroti pengaruh bibit siklon tropis dan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Aceh, yang memicu hujan intensitas sedang hingga lebat. Beberapa wilayah seperti Aceh Barat, Aceh Selatan, dan Aceh Tenggara berpotensi mengalami banjir bandang serta longsor, seperti yang telah terjadi di awal bulan.
Masyarakat diimbau memantau update harian di BMKG Aceh untuk menghindari risiko. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) oleh BMKG bersama BNPB juga sedang digencarkan untuk mengurangi intensitas hujan di wilayah rawan.

Aceh sering disebut sebagai episentrum peredaran narkoba di Indonesia barat. Sepanjang 2025, polisi dan BNN mengungkap puluhan kasus besar, dengan barang bukti mencapai ratusan kilogram sabu, ton ganja, dan ribuan butir ekstasi. Beberapa kasus menonjol:
Data nasional menunjukkan Aceh menyumbang porsi signifikan dari tujuh kasus narkoba terbesar di Indonesia tahun ini.
BNN Jakarta, sebagai pusat koordinasi, aktif dalam program rehabilitasi dan edukasi, dengan tingkat keberhasilan pemulihan mencapai 73% melalui pendekatan holistik.

Kombinasi bencana alam dan narkoba menciptakan ancaman ganda yang saling memperkuat:
Studi dan laporan menunjukkan pola serupa di daerah rawan bencana, di mana pengawasan keamanan menurun saat prioritas bergeser ke evakuasi dan bantuan.
Ancaman ini tidak hanya mengancam nyawa, tapi juga merusak masa depan:
Di Aceh, yang sedang bangkit dari konflik masa lalu dan bencana tsunami, ancaman ganda ini bisa menghambat pembangunan berkelanjutan.

Pemerintah melalui BMKG, BNN, Polri, dan TNI terus berkolaborasi:
Kerja sama ini telah berhasil musnahkan ton barang bukti dan selamatkan ribuan nyawa potensial.
Menghadapi akhir tahun 2025, mari tingkatkan kewaspadaan bersama. Pantau cuaca secara rutin, jaga lingkungan dari pengaruh narkoba, dan dukung upaya pemerintah.
Dengan partisipasi aktif, Aceh bisa melewati musim hujan ini dengan aman dan terus maju menuju masyarakat bebas narkoba serta tangguh bencana.
Informasi lebih lanjut: Kunjungi BMKG Aceh untuk prakiraan cuaca terkini dan BNN Jakarta untuk program pencegahan narkoba nasional.
Tetap waspada, tetap bersatu, untuk Aceh yang lebih baik!