Waduh! Gegara Hal Ini, Iran Disebut ‘Kecewa Berat’ Terhadap Indonesia Era Prabowo

DEMOCRAZY.ID – Hubungan bilateral antara Republik Islam Iran dan Indonesia tengah diselimuti ketegangan diplomatik imbas sejumlah manuver politik luar negeri.

Teheran secara terang-terangan menyoroti sikap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai tidak lagi mencerminkan prinsip non-blok dan terlalu tunduk pada tekanan Amerika Serikat (AS).

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, berdasarkan hasil pertemuannya dengan jajaran Kedutaan Besar dan Atase Pertahanan Iran baru-baru ini.

Menurut Siswanto, kekecewaan Iran terhadap Indonesia berpangkal pada tiga isu utama, mulai dari minimnya empati di tengah kecamuk perang Timur Tengah, insiden penolakan kapal perang Iran, hingga penyitaan dan rencana lelang kapal tanker raksasa milik Teheran.

Keterlambatan Ucapan Duka dan Isu Mediator Konflik

Kekecewaan terbaru Iran berkaitan dengan sikap Indonesia dalam merespons perang yang sedang berlangsung antara Iran melawan AS dan Israel.

Siswanto memaparkan, Iran kecewa karena Indonesia tidak mengecam insiden pembunuhan anak-anak sekolah yang menjadi korban konflik tersebut, berbeda dengan sikap proaktif pemimpin negara lain.

Selain itu, respons lambat pemerintah Indonesia atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, turut menjadi sorotan.

“Kita 4 hari setelah itu. Itu pun surat gitu. Apa susahnya sih Prabowo kalau memang dia masih melihat Iran sebagai sesama anggota OKI, gerakan non blok atau D8 apa susahnya gitu?” ujar Siswanto dalam kanal Youtube Forum Keadilan TV, Senin (9/3/2026).

Siswanto juga menilai langkah Presiden Prabowo yang mencoba menawarkan diri sebagai mediator dalam konflik tersebut dianggap sebagai sebuah ilusi.

Pasalnya, Iran saat ini dalam posisi mandiri dan bahkan menolak tawaran bantuan militer dari Rusia, maupun bantuan finansial dari China dan Korea Selatan.

“Sepertinya Prabowo mengalami semacam ilusi bahwa dia dibutuhkan oleh Iran gitu loh. Kehadirannya dibutuhkan oleh Iran. Saya kira ini tidak tepat, Iran tidak butuh siapa-siapa,” tegasnya.

Diusirnya Kapal Perang Iran karena Tekanan AS

Kekecewaan kedua mundur ke awal tahun 2025. Saat itu, TNI Angkatan Laut menggelar International Maritime Security Symposium (IMSS) dan Multilateral Exercise Komodo (MNEK) yang dihadiri sekitar 50 negara.

Sebagai tuan rumah, Indonesia secara resmi mengundang Iran. Teheran kemudian mengirimkan dua kapal perangnya, Mahdavi dan Shahid Abbas.

Namun, insiden diplomatik terjadi saat kapal tersebut sedang berlayar menuju perairan Indonesia.

“Itu ada dua kali terjadi komunikasi, pertama diizinkan, terus setengah jalan tidak diizinkan, kedutaan menegosiasi lagi. Kami sudah setengah jalan nih. Oke, silahkan lanjut kata otoritas kita ya, Kemhan, Mabes TNI, Mabes Angkatan laut kita, bahkan kantor kepresidenan. Oke, bergerak. Tiba-tiba ketika sudah sedikit lagi masuk ke perairan kita (Indonesia) nggak bisa, ditolak sama sekali. Izinnya dicabut,” ujarnya.

Pembatalan sepihak ini diduga kuat akibat intervensi Washington.

AS mengancam akan angkat kaki beserta seluruh sekutunya dari latihan gabungan tersebut jika kapal Iran dibiarkan ikut serta.

Kecewa dengan sikap Indonesia, Atase Pertahanan Iran bahkan sempat melontarkan protes keras kepada Siswanto saat bertemu di Bali, mengingatkan bahwa Indonesia seharusnya memegang teguh status non-blok.

Kedua kapal perang Iran itu akhirnya mengalihkan kunjungannya ke Malaysia.

Penyitaan dan Lelang Kapal Tanker MT Arman 114

Puncak kekecewaan Iran di sektor maritim adalah kasus penangkapan kapal tanker Iran, MT Arman 114, oleh Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI di sekitar perairan Batam-Natuna.

Kapal yang sedang melintas tersebut ditangkap dan dituduh mencemari lingkungan laut Indonesia.

Siswanto menduga, penangkapan ini bukanlah murni inisiatif otoritas dalam negeri, melainkan ada indikasi pesanan dari intelijen asing.

“Setiap penangkapan kapal Iran oleh otoritas kita, besar kemungkinannya atas perintah Amerika ada intervensi negara lain Sekian banyak kapal melintas, kenapa hanya kapal Iran?” pungkasnya.

Situasi makin memanas setelah pengadilan Indonesia memutuskan untuk melelang kapal beserta muatannya berupa 2 juta barel minyak mentah, yang ditaksir bernilai hingga Rp2 triliun.

Proses lelang yang kini digembar-gemborkan oleh Kejaksaan Agung ini memicu amarah pihak Iran.

“Atase pertahanan Iran bilang ke saya, ‘Kenapa kapal ini dilelang?’ Kami saja yang biasa menangkap kapal di Selat Hormuz, kami tidak melelang kapal orang,” tegasnya.

[FULL VIDEO]

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya