Waduh! Bisnis Kaesang Amburadul, Saham Anjlok dan Lakukan PHK Massal

DEMOCRAZY.ID – Setelah Presiden Joko Widodo tak lagi menjabat, sejumlah bisnis yang dikaitkan dengan putranya, Kaesang Pangarep, mengalami kemunduran tajam.

Salah satu yang paling disorot adalah PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), perusahaan pengolah udang asal Situbondo yang sahamnya sempat dibeli Kaesang lewat PT Harapan Bangsa Kita.

Kini, perusahaan tersebut berada di ujung tanduk.

Sahamnya digembok oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), laporan keuangannya tak kunjung disetor, hingga isu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di pabrik.

Saham Dibekukan dan Kinerja Keuangan Amburadul

BEI resmi menghentikan sementara perdagangan saham PMMP setelah emiten tersebut tidak menyampaikan laporan keuangan sejak akhir 2024.

Selain itu, perusahaan juga belum menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) selama lebih dari enam bulan setelah tahun buku berakhir — pelanggaran serius dalam tata kelola korporasi publik.

Harga saham PMMP kini terjun bebas ke Rp50 per lembar, ambles 57,53 persen dalam setahun terakhir.

Padahal, saat Kaesang masuk pada November 2021, saham PMMP sempat melonjak dan menjadi primadona di sektor perikanan.

Laporan keuangan terakhir yang masih dapat diakses di laman BEI menunjukkan kondisi keuangan yang memprihatinkan.

Pada November 2024, PMMP mencatat kerugian US$15,26 juta atau sekitar Rp253 miliar (kurs Rp16.600/US$).

Padahal, setahun sebelumnya, saat Jokowi masih menjabat, perusahaan itu mencatat laba US$5,29 juta.

Pendapatan perusahaan pun anjlok drastis hingga 57,99 persen, dari US$150,86 juta menjadi hanya US$63,37 juta.

Aset total tercatat US$299,26 juta, dengan liabilitas mencapai US$228,11 juta dan ekuitas hanya tersisa US$71,14 juta.

Dalam keterbukaan informasi BEI tertanggal 28 Oktober 2024, manajemen PMMP mengakui adanya keterlambatan pembayaran gaji karyawan.

Mereka berdalih, penurunan pendapatan operasional membuat kas perusahaan menipis.

“Beberapa kewajiban kepada karyawan tertunda akibat turunnya pendapatan operasional dalam beberapa bulan terakhir,” tulis manajemen saat itu.

Meski demikian, pihak perusahaan menegaskan bahwa insiden tersebut “tidak memengaruhi kelangsungan usaha.”

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pabrik mengurangi produksi dan mulai kehilangan investor, termasuk tekanan terhadap citra bisnis yang dikaitkan dengan Kaesang.

PHK Massal dan Sorotan DPRD

Masalah tak berhenti di laporan keuangan. Pabrik PMMP di Situbondo dikabarkan telah memecat 200 pekerja akibat menurunnya kinerja produksi dan tekanan finansial.

Kasus tersebut bahkan mendapat perhatian serius dari DPRD Situbondo.

Ketua Komisi IV DPRD Situbondo, M. Faisol, sempat mengirim surat kepada manajemen PMMP agar mencari solusi yang manusiawi atas gelombang PHK tersebut.

Muncul pula dugaan bahwa perusahaan akan berganti nama menjadi PT Landangan Makmur Situbondo (LMS), sebagai langkah restrukturisasi bisnis.

Sumber: SeputarCibubur

Artikel terkait lainnya