DEMOCRAZY.ID – Kasus dugaan kekerasan yang melibatkan oknum anggota Polri kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video berdurasi 26 detik viral.
di berbagai platform media sosial pada Jumat pagi, 14 November 2025.
Video tersebut muncul di TikTok dan langsung memicu perhatian warganet karena.
Memperlihatkan tindakan tak pantas yang dilakukan oleh seseorang yang diduga anggota polisi terhadap dua siswa Sekolah Polisi Negara (SPN) Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Dalam rekaman singkat itu, sosok pria yang mengenakan kaos coklat dengan lambang Polri terlihat melakukan pemukulan secara membabibuta terhadap dua siswa muda SPN.
Aksi tersebut terjadi secara terbuka dan direkam oleh seseorang yang juga diduga kuat merupakan anggota polisi.
Cara perekaman yang tampak stabil dan jarak dekat memperlihatkan bahwa kehadiran perekam seolah bukan untuk menghentikan tindakan tersebut.
Melainkan sekadar mendokumentasikan momen itu.
Lokasi kejadian dalam video diduga berada di kawasan SPN Kupang.
Video di Akhir Artikel
Meski belum ada penjelasan lengkap soal latar belakang peristiwa tersebut.
Banyak pihak mempertanyakan alasan seorang pembina atau senior melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap calon anggota Polri.
Terlebih di tengah upaya institusi menekankan pembinaan yang humanis.
Menanggapi viralnya video tersebut, Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra memberikan keterangan resmi.
Ia membenarkan bahwa kejadian itu benar terjadi di wilayah NTT dan melibatkan anggota Polri.
Pria berinisial Bripda TT disebut sebagai pelaku pemukulan, sementara dua siswa yang menjadi korban adalah KLK dan JSU.
Sementara itu, perekam video diidentifikasi sebagai Bripda GP, yang kini berstatus sebagai saksi kunci.
Kombes Henry menegaskan bahwa peristiwa kekerasan tersebut terjadi pada Kamis, 13 November 2025.
Setelah menerima laporan internal serta memverifikasi video yang beredar luas di publik.
Polda NTT langsung menugaskan Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) untuk menangani kasus tersebut.
Propam kini sedang melakukan pemeriksaan terhadap pelaku, korban, dan saksi guna memastikan rangkaian kejadian serta motif yang melatarbelakanginya.
Lebih lanjut, Polda NTT juga memastikan bahwa kedua siswa SPN yang menjadi korban telah menjalani pemeriksaan medis.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tidak ditemukan luka fisik maupun memar pada tubuh mereka.
Meski demikian, hal ini tidak lantas menghapus perhatian publik mengenai bentuk pembinaan serta kultur kekerasan yang kerap menjadi polemik dalam lingkungan pendidikan kepolisian.
Kombes Henry juga menyampaikan bahwa Kapolda NTT telah memberikan instruksi tegas agar kasus tersebut ditangani secara profesional dan transparan.
Ia menekankan bahwa institusi tidak akan memberikan toleransi terhadap setiap bentuk pelanggaran disiplin maupun etika.
Terlebih yang berkaitan dengan tindak kekerasan.
Sikap ini penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap Polri dan memastikan bahwa tindakan di lapangan sejalan dengan nilai-nilai profesionalisme yang dijunjung tinggi institusi.
[VIDEO]
Sumber: PojokSatu