DEMOCRAZY.ID – Beredar postingan viral di sejumlah media sosial yang mengungkap bahwa Luhut Binsar Pandjaitan memiliki kekayaan yang sangat fantastis.
Dalam postingan tersebut, total harta yang dimiliki Luhut disebut mencapai Rp274 triliun.
Kekayaan yang raksasa ini diperoleh Luhut dari deretan bisnisnya yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari motor listrik hingga tambang batubara.
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) per 31 Desember 2024, Luhut memiliki kekayaan Rp 1.509.133.860.993 (1,5 triliun) bukan Rp 200 triliun.
Jumlah hartanya naik Rp 465.673.151.107 (465 miliar) dari laporan terakhir pada 31 Desember 2023. Sebagian besar karena Luhut punya tujuh tanah dan bangunan baru atas namanya.
Ketujuh aset itu tersebar di Tapanuli Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Bogor, dan Depok. Surat berharga, kas dan setara kas, serta harta lainnya juga bertambah.
Berikut adalah rincian kekayaan Luhut Binsar Pandjaitan:
Meski harta Luhut yang terlapor Rp 1,5 triliun, tak menutup kemungkinan kekayaannya bisa lebih banyak mengingat ia punya berbagai bisnis.
Selain itu, gaji bulanannya pun sudah sangat besar dibanding kebanyakan upah pekerja. Sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional, gaji Luhut setara menteri.
Perpres Nomor 60 Tahun 2000 mengatur besaran gaji pokok menteri sebesar Rp 5.040.000 dan tunjangan Rp 13.608.000 setiap bulannya.
Artinya, setiap bulan Luhut bisa mengantongi Rp 18.648.000. Belum lagi, upahnya sebagai Penasihat Khusus Presiden.
PP Nomor 137 2024 menjelaskan bahwa Penasihat Khusus Presiden, Utusan Khusus Presiden, Staf Khusus Presiden, dan Staf Khusus Wakil Presiden mendapatkan gaji dan tunjangan yang setara dengan menteri.
Dengan dua jabatan tersebut, total gaji Luhut Binsar Pandjaitan setiap bulannya bisa mencapai Rp Rp 37.296.000.
Berikut adalah deretan bisnis Luhut Binsar Pandjaitan:
Perusahaan ini bergerak di bidang pertambangan. Dulunya didirikan sebagai PT Buana Persada Gemilang, sebelum berubah menjadi PT Toba Bara Sejahtra pada 22 Juli 2010.
Satu dekade kemudian, nama perusahaannya berganti lagi menjadi PT TBS Energi Utama yang berjalan hingga sekarang.
TBS merupakan produsen batubara termal di Indonesia di Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dengan luas konsesi sekitar 7.087 hektar.
Total luas konsesi itu hasil akuisisi tiga perusahaan tambang yang lokasinya bersebelahan, yakni PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN), PT Indomining (IM), dan PT Trisensa Mineral Utama (TMU).
Meski saham mayoritas TBS kini dipegang Highland Strategic Holdings Singapore, Luhut diketahui masih punya sekitar 7,97 persen saham atas nama PT Toba Sejahtra.
Perusahaan teknologi ini didirikan bersama perusahaan seismik Amerika Serikat bernama Fairfieldnodal.
PT Fairfield Indonesia menyediakan layanan seismik seperti perekaman dan pengolahan data di darat dan laut.
Perusahaan ini juga berafiliasi dengan PT Toba Sejahtra milik Luhut. PT Energi Mineral Langgeng bergerak di bidang perminyakan (minyak dan gas).
Mereka memiliki Kontrak Bagi Hasil dengan BPMIGAS. Adapun perusahaan ini bergerak di bidang perminyakan (minyak dan gas) di wilayah Blok Madura Tenggara.
Luas wilayahnya 4.567,34 km persegi yang terdiri dari:
Anak perusahaan PT Toba Sejahtra (kini PT TBS Energi Utama) ini bergerak di sektor pertambangan batubara.
Perusahaan ini beroperasi di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sejak 2009 dengan luas pertambangan sebesar 6.932 hektar.
PT Perkebunan Kaltim Utama I sepenuhnya dimiliki PT TBS Energi Utama yang punya saham sebesar 99,54 persen.
PKU mengelola area HGU seluas 8,633 hektar di Kalimantan Timur yang meliputi wilayah Tani Bhakti, Tani Harapan, Batuah, Loa Janan, Jawa, Sangasanga, Dondang, dan Teluk Dalam.
Perusahaan ini memproduksi kendaraan listrik yang pernah dipakai selama KTT G20 dan Forum B20 di Bali pada 2020.
Selain itu, Electrum juga mengoperasikan lebih dari 260 Battery Swapping Station di Jakarta, mendukung lebih dari 4.000 unit motor listrik di ibu kota.
Perusahaan Luhut lainnya di bawah payung PT TBS Energi Utama yaitu:
Sumber: Inilah