DEMOCRAZY.ID – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali mencuri perhatian publik.
Di tengah derasnya narasi negatif soal Ibu Kota Nusantara (IKN) yang kerap disebut sebagai “kota hantu”, Gibran justru mengambil langkah yang tak biasa.
Yaitu mengajak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk datang langsung ke IKN dan melihat sendiri bagaimana keadaan sebenarnya.
Ajakan tersebut disampaikan Gibran lewat unggahan di akun resminya, yang seketika memancing reaksi publik dan menjadi perbincangan di media sosial.
Pasalnya, isu mengenai IKN sebagai “kota kosong” atau “kota tanpa penghuni” telah lama menjadi bahan perdebatan, terutama di ruang digital.
Dengan langkah ini, Gibran seperti ingin memberikan pesan tegas bahwa pemerintah tidak sekadar berbicara.
Tetapi siap membuka IKN secara transparan kepada publik terutama generasi muda.
Dalam kunjungan dua hari di kawasan IKN, Gibran menegaskan bahwa mahasiswa perlu melihat progres pembangunan secara langsung agar tidak terjebak pada informasi menyesatkan yang kerap beredar.
Ia menyebut bahwa lewat kunjungan lapangan, mahasiswa bisa menilai sendiri apakah narasi “IKN kota hantu” itu benar atau hanya sebatas isu viral tanpa dasar.
Langkah ini pun mendapat respons positif. Banyak mahasiswa yang mengaku terkejut usai menyaksikan progres pembangunan di lapangan.
Beberapa menyatakan bahwa apa yang mereka lihat jauh berbeda dari yang selama ini mereka baca di media sosial.
Salah satu peserta kunjungan menyebut bahwa IKN “sama sekali tidak menyeramkan atau kosong”, tetapi justru menunjukkan aktivitas pembangunan yang masif dan terstruktur.
Testimoni ini kemudian ramai diperbincangkan dan kembali memanaskan perdebatan di lini masa.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa diajak menyusuri sejumlah proyek strategis.
Salah satu yang paling menjadi perhatian adalah Masjid Negara IKN yang progres pembangunannya telah mencapai 98,4 persen.
Masjid megah itu bahkan ditargetkan dapat digunakan pada momen Idul Fitri 2026.
Selain itu, mahasiswa juga melihat langsung pembangunan Pasar KIPP, pasar modern yang digadang-gadang menjadi pusat aktivitas ekonomi baru di kawasan inti pemerintahan.
Pasar tersebut telah mulai memperlihatkan bentuk finalnya dan dirancang untuk menampung UMKM serta aktivitas perdagangan harian.
Tak hanya itu, Gibran juga membawa rombongan meninjau Pasar Sepaku, yang tengah ditata ulang agar lebih representatif dan mampu menjadi simpul ekonomi masyarakat lokal.
Di beberapa titik lainnya, mahasiswa menyaksikan pengerjaan jalan, gedung pemerintahan, hingga fasilitas publik yang terus dikebut.
Semua ini memberikan gambaran bahwa IKN bukanlah kawasan kosong, melainkan proyek nasional yang benar-benar berjalan dan semakin mendekati bentuk finalnya.
Ajakan Gibran ini menjadi viral karena dianggap sebagai langkah komunikatif yang berbeda dari biasanya.
Alih-alih memberikan pernyataan defensif, Gibran justru mendorong publik untuk datang dan melihat sendiri.
Cara ini dinilai sejumlah pengamat sebagai pendekatan komunikasi generasi muda: langsung, terbuka, dan berbasis fakta lapangan.
Di sisi lain, langkah ini memunculkan dampak signifikan.
Perbincangan mengenai IKN kembali naik, perhatian publik kembali tertuju pada progres pembangunan, dan narasi “kota hantu”.
Kini mendapat tandingan kuat berupa kesaksian publik yang datang langsung ke lokasi.
Bagi pemerintah, ajakan ini juga menjadi sinyal bahwa keterlibatan generasi muda sangat penting dalam perjalanan pembangunan IKN sebagai ibu kota baru Indonesia.
Mahasiswa dianggap tidak hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai bagian dari masa depan kota tersebut.
Dengan semakin banyak kunjungan, semakin banyak pula publik yang melihat sendiri bahwa proyek IKN tengah berlangsung nyata, bukan sebatas sketsa atau wacana.
Sumber: PojokSatu