DEMOCRAZY.ID – Setelah memilih jalur damai lewat restorative justice (RJ), ahli digital forensik Rismon Hasiholan Sianipar akhirnya angkat bicara terkait polemik yang menyeret namanya dalam kasus ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Rismon dengan tegas membantah isu yang menyebut dirinya menerima dana fantastis hingga Rp50 miliar untuk riset buku Jokowi’s White Paper (JWP). Ia menegaskan seluruh aktivitas penelitiannya dilakukan dengan biaya pribadi.
“Terkait dengan tuduhan bahwa Rismon Rp50 miliar. Coba tunjukkan, Rp0 kok Rismon ke sana kemari, itu ya memang dana sendiri. Dan mereka yang sekarang menuduh saya membelotlah, mengkhianatlah,” tuturnya, dikutip Jumat, 3 April 2026.
Menurutnya, tudingan tersebut tidak memiliki dasar dan hanya dimanfaatkan untuk mendulang perhatian di tengah panasnya isu ijazah Jokowi.
“Apakah pernah mereka datang ke Solo, datang ke Jogja, ke UGM? Mereka nggak punya, mereka orang datang di tengah jalan loh. Datang di tengah jalan ada yang berburu konten, di tengah jalan kontennya selalu dengan itu. Padahal dia tidak pernah punya modal untuk mencari data, menganalisa apa lagi,” kata dia.
Lebih jauh, Rismon mengungkap bahwa proses penyusunan buku JWP dilakukan secara independen oleh masing-masing penulis, termasuk Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma, tanpa koordinasi satu sama lain.
“Saya tidak wajib, tidak harus untuk memberitahu Pak Roy Suryo maupun Bu tifa. Karena masing-masing yang ada di buku JWP. Sekali lagi saya tekankan, masing-masing itu adalah pekerjaan independen tanpa ada koordinasi apapun, sekecil apapun tidak ada koordinasi,” kata dia.
Di balik polemik tersebut, Rismon juga mengaku mencium adanya kepentingan lain yang bermain.
Ia menilai isu yang berkembang berpotensi menyeretnya ke arah yang tidak diinginkan.
“Saya punya alasan untuk saya menyatakan bahwa ada, saya mencium aroma yang kuat, ini untuk kepentingan politik. Makanya saya tidak mau jadi korban, saya tidak mau jadi korban eksploitasi,” kata dia.
Dalam pernyataannya, Rismon turut mengakui adanya kekurangan dalam metode penelitian yang ia gunakan sebelumnya, terutama terkait variabel teknis seperti resolusi, geometri, hingga sudut pencahayaan.
Perbedaan variabel itu membuat kesimpulan yang dihasilkan berubah.
Ia pun berkomitmen memperbaiki dan menyusun ulang hasil risetnya secara menyeluruh, bahkan hingga ratusan halaman, sebagai bentuk tanggung jawab.
“Semoga saya berkesempatan untuk setelah saya tuntaskan revisi itu, dengan memasukkan variable itu. Saya tuntaskan mungkin sekitar 700 halaman, saya akan tuliskan full, dan itu menjadi tanggung jawab saya kepada Pak Jokowi dan Mas Gibran, dan keluarga besar Pak Jokowi,” katanya lagi.
Sumber: VIVA