DEMOCRAZY.ID – Kolumnis opini, Paul Post dan pakar hukum Universitas Chicago, Begah Bani Hashemi, berpendapat dalam artikel di majalah Time kalau perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran mungkin tidak sesingkat yang digembar-gemborkan retorika tokoh politik macam Donald Trump, Presiden AS.
Alih-alih, singkat dan cepat, Perang Iran dapat berubah menjadi konflik jangka panjang dan kompleks yang melibatkan pertimbangan militer, politik, dan ekonomi.
Artikel tersebut juga mencatat kalau Trump sudah salah berhitung.
Indikasi itu terlihat saat Trump pada awalnya menyatakan kalau AS akan melancarkan serangan cepat dan presisi dengan tujuan “menggulingkan rezim yang berkuasa di Iran” saat ini.
Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei sempat membangkitkan optimisme Trump dan AS tersebut sebelum akhirnya rantai komando dan pemerintahan dan militer Iran, termasuk unit Garda Revolusi (IRGC) bertindak mengamankan jalannya roda pemerintahan di situasi perang.
Dalam sebuah wawancara dengan situs berita Axios, ia juga menyatakan bahwa perang akan segera berakhir, menambahkan: “Kapan pun saya ingin perang ini berakhir, maka perang ini akan berakhir.”
Belakangan, setelah perang memasuki pekan kedua, Trump kemudian mengatakan kalau perang itu “tidak akan cepat.”
Saat berbicara soal operasi militer melawan Iran, Trump juga berbicara tentang potensi korban jiwa di pihak Amerika.
Beberapa hari kemudian, ia mengatakan perang bisa berlangsung “empat hingga lima minggu,” dan “jauh lebih lama” jika perlu.
Menurut artikel di Time, tujuan yang dinyatakan oleh pemerintahan AS dalam perang melawan Iran ini sekarang berkisar dari mengekang ambisi nuklir hingga berupaya menggulingkan rezim Iran.
Kata ‘berkisar’ merujuk pada ketidakpastian sasaran yang hendak dicapai dalam perang ini.
Menurut para pengamat geopolitik, tak pastinya tujuan yang mau dicapai AS ini dapat membuat eskalasi berubah menjadi perang gesekan (atrisi) jangka panjang.
Menurut Bani Hashemi, keraguan dalam tujuan ini mencerminkan ambiguitas dalam strategi Amerika mengenai bagaimana mengakhiri perang atau seperti apa fase selanjutnya.
Para penulis menjelaskan, realitas di lapangan dan bukti sejarah menunjukkan kebalikan dari apa yang diklaim Trump yang sempat menggaungkan kalau perang melawan Iran akan berlangsung singkat.
Trump kemungkinan secara yakin merujuk dan mendasarkan dalilnya pada data dari proyek “War Connections” Amerika, yang mengkonfirmasi bahwa sebagian besar perang antar negara dalam dua abad terakhir relatif singkat, dan tidak melebihi 5 bulan.
“Namun, ada pengecualian penting seperti perang di Ukraina, yang telah memasuki tahun keempatnya, atau perang Iran-Irak pada tahun 1980-an, yang berlangsung selama delapan tahun,” menurut artikel tersebut.
Menurut penulis artikel tersebut, rezim Iran tidak mungkin runtuh hanya dalam serangan-serangan udara yang dilakukan AS dan Israel ke Iran sejauh ini.
“Hal itu lantaran rezim Iran saat ini bukan hanya sebuah pemerintahan, tetapi juga jaringan luas lembaga politik, keamanan, dan ekonomi yang didukung oleh pendapatan minyak dan hubungan internasional yang telah terakumulasi selama beberapa dekade,” kata Begah Bani Hashemi dalam artikel tersebut.
Bahkan setelah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei tewas dalam serangan udara, pemerintah Iran tidak jatuh.
Sebaliknya, Republik Iran secara cepat mengikuti jalur konstitusional di mana kekuasaan dialihkan ke kepemimpinan sementara, dengan putranya, Mojtaba Khamenei, dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru.
Menurut penulis, Garda Revolusi Iran dan milisi Basij-nya telah menunjukkan ketahanan dalam menghadapi perang melawan musuh yang jauh lebih kuat.
“Selama beberapa dekade, Garda Revolusi telah menjalani penyaringan ideologis dan organisasi yang intensif yang bertujuan untuk menghasilkan kader-kader yang sangat loyal kepada rezim,” kata penulis tersebut.
Begah Bani Hashemi juga percaya bahwa serangan udara dapat merusak infrastruktur militer dan ekonomi Iran, tetapi tidak akan cukup untuk menggulingkan rezim atau mematahkan tekad kekuatan-kekuatan tersebut.
Secara tinjauan internal Iran, artikel ini berpendapat kalau isu nasionalisme memainkan peran penting dalam memperpanjang konflik.
Ancaman Trump untuk mendukung kelompok etnis seperti Kurdi, meskipun ia membantahnya, memicu ketakutan Iran akan disintegrasi negara, mendorong baik lawan maupun pendukung untuk bersatu di bawah panji nasional melawan intervensi asing, seperti yang terjadi selama Perang Iran-Irak.
Di tingkat internasional, krisis ini terkait erat dengan laporan tentang dukungan intelijen Rusia dan teknologi Tiongkok untuk Teheran, sebagai imbalan atas permintaan Washington agar Ukraina membantu melawan drone Iran.
Begah Bani Hashemi menyimpulkan kalau pemerintahan Trump tampaknya sedang mempraktikkan semacam “strategi pengamanan,” mengisyaratkan kemungkinan kemenangan cepat sambil secara bersamaan mempersiapkan opini publik untuk kemungkinan konflik yang lebih panjang.
Namun, Bani Hashemi berpendapat dalam artikelnya kalau ambiguitas dalam tujuan AS dapat mempersulit tercapainya penyelesaian perang yang jelas.
Tak adanya tujuan perang yang jelas juga menimbulkan pertanyaan penting bagi para pembuat keputusan di Washington dan Tel Aviv: Apakah tujuan yang diinginkan sepadan dengan biaya perang gesekan yang komprehensif di wilayah yang sangat sensitif?
Sumber: Tribun