DEMOCRAZY.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus menekan negara-negara sekutu untuk bergabung dalam koalisi militer guna membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati oleh seperlima perdagangan minyak dunia.
Meski Trump mengklaim telah menuntut tujuh negara yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah untuk mengamankan wilayah tersebut, respons yang didapat justru jauh dari harapan.
Dalam perjalanannya kembali ke Washington dari Florida, Trump menyatakan bahwa AS tidak terlalu membutuhkan Selat Hormuz karena akses energi dalam negeri yang melimpah.
“Saya menuntut negara-negara ini masuk dan melindungi wilayah mereka sendiri,” ujar Trump, dikutip via Politico.
Ia menyoroti ketergantungan China yang mencapai 90% pada minyak dari selat tersebut, sementara AS hanya mendapatkan porsi minimal.
Di sisi lain, Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran menutup selat bagi kapal AS dan sekutunya sebagai balasan atas serangan gabungan pada 28 Februari lalu.
Namun, bagi negara lain, Iran siap membukakan akses selama tidak memiliki aliansi khusus dengan AS.
Araghchi menolak untuk berdialog dengan AS mengenai penghentian perang, dan menyatakan bahwa Iran tidak memiliki rencana untuk memulihkan situs pengayaan uranium yang hancur dalam serangan sebelumnya.
Laporan dari berbagai negara menunjukkan bahwa tidak ada satupun sekutu utama AS yang serius mempertimbangkan pengiriman aset militer ke Selat Hormuz saat ini:
Tekanan Trump tidak hanya ditujukan kepada sekutu tradisional, tetapi juga kepada China.
Ia memberi isyarat akan menunda pertemuan puncak (summit) dengan Presiden Xi Jinping jika China tidak membantu membuka jalur tersebut.
Trump juga memperingatkan bahwa masa depan aliansi NATO akan terancam jika negara-negara anggotanya tidak datang membantu Washington dalam konflik ini.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran pasca-serangan udara AS-Israel telah menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, memicu lonjakan harga energi global.
Sumber: Suara