DEMOCRAZY.ID – Aktivis dan pegiat media sosial, Islah Bahrawi, melontarkan kritik keras terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pernyataannya, Islah bahkan menyebut kondisi kepemimpinan Prabowo sudah melemah dan perlu diganti.
Islah mengaku dirinya belakangan cukup vokal mengkritik Prabowo.
Ia juga menceritakan pengalaman dihubungi pihak yang mengatasnamakan istana setelah kritik-kritiknya mencuat.
“Saya pikir akan dimarahi, ternyata justru berterima kasih karena saya dianggap mengingatkan agar Presiden lebih fokus pada rakyat daripada urusan luar negeri,” ujar Islah, Ahad (5/4/2026).
Dalam percakapan tersebut, Islah menyebut dirinya sempat menyinggung pentingnya perhatian terhadap pemulihan pascabencana di Aceh.
Ia mengklaim, usulan itu kemudian ditafsirkan sebagai dorongan agar Presiden melaksanakan salat Id di Aceh.
Menurut Islah, ia tidak secara spesifik menyarankan lokasi tersebut.
Namun, ia mengaku sempat memberi masukan agar kegiatan simbolik seperti salat Id dilakukan bersama pengungsi di wilayah terdampak seperti Pidie atau Tamiang.
“Kalau mau lebih bermakna, seharusnya bersama pengungsi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pada akhirnya Presiden memang melaksanakan kegiatan bersama pengungsi, namun Islah menilai masih terdapat perbedaan antara pernyataan resmi dengan kondisi di lapangan, khususnya terkait data pengungsi.
Lebih jauh, Islah melontarkan kritik yang lebih tajam dengan menyebut Prabowo mengalami penurunan kapasitas kognitif.
“Menurut saya ini sudah masuk demensia atau pikun,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan situasi tersebut dengan teori politik dari Francis Fukuyama, khususnya dalam buku The Origin of Political Order, yang menyoroti pentingnya kepemimpinan dalam menjaga tatanan politik.
Dalam pandangannya, kondisi kepemimpinan nasional saat ini dinilai menjadi faktor yang memicu berbagai persoalan, termasuk ketakutan dan tekanan terhadap masyarakat.
Islah bahkan menyatakan bahwa solusi atas kondisi tersebut adalah perubahan kepemimpinan nasional.
“Kalau kita bicara konsepnya, sumber tatanan politik itu ada pada pemimpin. Maka perubahan harus terjadi di sana,” ucapnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak Istana terkait pernyataan Islah Bahrawi tersebut.
[VIDEO]
Sumber: JakartaSatu