TNI AD Kirim Puluhan Starlink ke Sumatra, Tapi Pulsanya Bingung Siapa yang Mau Bayar, Lah Kok Gitu?

DEMOCRAZY.ID – Di tengah situasi darurat akibat banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, muncul satu pemandangan yang cukup tidak biasa

TNI AD mengangkut dan mengirim puluhan perangkat Starlink ke titik-titik terparah demi memulihkan komunikasi warga.

Namun, di balik upaya cepat itu, ada satu hal yang membuat semua orang bahkan TNI sendiri ikut mengernyit bingung.

Siapa sebenarnya yang akan membayar pulsa Starlink tersebut?

Jenderal Maruli Simanjuntak, KSAD, menyampaikan hal ini dengan lugas namun membuat publik bertanya-tanya.

“Starlink itu memang dari kami dan Kemhan (Kementerian Pertahanan). Tapi, pulsanya belum tahu siapa yang mau bayar. Jadi, itulah kondisinya.”

“Semangat kami untuk membantu, kami kirimkan berpuluh Starlink ke wilayah bencana,” ujar Jenderal Maruli Simanjuntak pada wawancara pers dilansir IG @nowdots.

Pernyataan yang jujur sekaligus menggelitik ini langsung membuat situasi bantuan terlihat seperti operasi super cepat.

Tetapi administrasinya ya, nanti dulu. Yang penting masyarakat tersambung dulu, urusan biaya menyusul.

Di sisi lain, langkah TNI AD ini memang berangkat dari kebutuhan mendesak. Banyak wilayah terdampak banjir benar-benar terputus total dari komunikasi.

Sinyal hilang, listrik padam, akses terputus. Karena itu, kehadiran Starlink menjadi penolong utama agar informasi, koordinasi, dan laporan situasi bisa kembali berjalan.

Sementara itu, pemulihan infrastruktur juga dikejar. Menko PMK Pratikno memastikan bahwa perbaikan jaringan listrik tegangan tinggi dipercepat

Terutama di jalur Arun–Bireun dan Tarutung–Sibolga, agar daerah terdampak tidak terus terjebak dalam kegelapan.

TNI AD pun tidak berhenti di aspek komunikasi saja. Untuk membuka wilayah yang masih terisolir, mereka menyiapkan delapan set jembatan bailey.

Pengirimannya dijadwalkan pada 5 Desember, dan diharapkan bisa selesai terpasang dalam dua minggu.

Ini menjadi langkah penting untuk memulihkan mobilitas warga sekaligus mempercepat distribusi logistik serta bantuan kesehatan.

Situasi keamanan juga mendapat perhatian. TNI AD ditempatkan di titik-titik rawan untuk mencegah penjarahan, yang sempat terjadi di sejumlah lokasi.

Polri menyampaikan bahwa para pelaku penjarahan minimarket di Sibolga telah dibebaskan, memicu diskusi publik tentang penanganan hukum di tengah bencana.

Sementara semua upaya ini berjalan, kabar duka terus berdatangan. BNPB mencatat korban meninggal akibat banjir di Sumatra mencapai 770 jiwa, dan 463 orang masih hilang.

Sumatra Utara tercatat sebagai wilayah dengan korban terbanyak, disusul Aceh dan Sumatra Barat.

Angka ini membuat operasi kemanusiaan semakin digenjot, termasuk tambahan personel, distribusi logistik, hingga pelayanan kesehatan darurat.

Meski begitu, di tengah kesedihan dan kepanikan.

Kisah tentang puluhan Starlink yang dikirim tanpa kejelasan siapa yang menanggung pulsanya justru menjadi sisi unik dari penanganan bencana kali ini.

Di satu sisi, menunjukkan betapa cepatnya respons aparat. Di sisi lain, menggambarkan dinamika lapangan yang kadang bergerak lebih cepat daripada urusan administrasi.

Yang jelas, bagi warga yang saat ini kembali bisa menghubungi keluarga, mengirim lokasi, atau sekadar memastikan keselamatan mereka.

Starlink itu bukan soal siapa yang bayar. Yang penting, mereka akhirnya kembali terhubung.

Sumber: PojokSatu

Artikel terkait lainnya