Terungkap! Waketum Projo Ini ‘Disingkirkan’ Gara-Gara Tolak Kereta Cepat

DEMOCRAZY.ID – Di balik gemuruh proyek raksasa bernama Whoosh, tersimpan kisah lirih dari seorang relawan yang dulu ikut menyiapkan jalan kemenangan bagi Joko Widodo.

Namanya Budianto Tarigan, Wakil Ketua Umum Relawan Projo periode 2014–2019.

Di podcast yang dipandu jurnalis senior Margi Syarif, ia membuka kembali lembaran yang jarang disentuh: bagaimana ide kereta cepat Jakarta–Bandung pertama kali dilontarkan di istana, dan bagaimana ia, di tengah kagum dan loyalitas, justru memilih berkata tidak setuju.

“Pak Jokowi, apakah proyek ini sudah layak secara urgensi dan manfaat ekonomi?” tanya Budi di istana pada akhir 2014.

Ruangan yang semula riuh tiba-tiba hening.

Sang Presiden, kata Budi, hanya menjawab pendek, “Wis, Mas. Itu sudah program dari saya. Kita sudah sepakat dengan teman-teman.”

Kalimat itu menutup perdebatan.

“Saya enggak tahu teman-teman siapa,” ucap Budi, mengenang.

Ia sempat menduga yang dimaksud adalah para menteri atau investor luar negeri yang sudah lebih dulu diajak bicara.

“Saya hanya tahu, dari gesturnya, Pak Jokowi agak tersinggung. Tapi beliau tetap tenang, makan lobster di meja sendiri.”

Budi bercerita dengan nada getir.

Ia masih ingat bagaimana awalnya Projo dibangun tanpa pamrih: “Kita urun rembuk, patungan buat sekretariat. Enggak ada yang mikir jabatan.”

Namun seiring waktu, idealisme itu mulai pudar di balik agenda-agenda kekuasaan.

Pertemuan itu menjadi titik balik. Setelah keberaniannya mempertanyakan proyek Whoosh, Budi perlahan menjauh dari lingkar istana.

“Saya masih sempat sekali dua kali diundang, tapi habis itu hilang kontak. Ketemu Bu Rini (Menteri BUMN) pun cuma disuruh sabar,” katanya lirih.

Ia mengaku kecewa. Bukan karena tak mendapat posisi, melainkan karena gagasan ideal yang dulu mereka perjuangkan berubah menjadi proyek kebanggaan yang kini justru diselimuti tanda tanya.

“Saya sadar, mungkin saya kena prank,” ujarnya sambil tersenyum getir, mengulang candanya di awal wawancara.

Kini, setelah proyek kereta cepat itu melaju di relnya sendiri, Budianto Tarigan hanya bisa melihat dari jauh.

“Saya dulu percaya revolusi mental,” katanya pelan.

“Tapi ternyata yang berubah bukan sistem, hanya narasi.”

Di antara dentum mesin Whoosh yang membelah jarak Jakarta–Bandung dalam 40 menit, ada suara lirih dari relawan yang merasa ditinggalkan — suara seorang idealis yang pernah percaya bahwa kecepatan bukan segalanya.

[VIDEO]

Sumber: Herald

Artikel terkait lainnya