Terungkap! Pandji Bongkar Alasan Sebenarnya ‘Mens Rea’ Ramai hingga Jadi Polemik

DEMOCRAZY.ID – Komika sekaligus kreator konten Pandji Pragiwaksono mengungkap pandangan soal alasan di balik ramainya pertunjukan Mens Rea yang belakangan menjadi perbincangan publik hingga berujung polemik.

Menurutnya, respons luas terhadap materi tersebut bukan semata karena faktor komedi, melainkan karena adanya ruang kritik yang lama dirindukan masyarakat.

Dalam penuturannya, Pandji menceritakan pengalaman pribadi saat berada di sebuah gerai optik kacamata yang menurutnya memperkuat keyakinannya tentang fenomena tersebut.

“Waktu gue ke situ (gerai optik) untuk ngebenerin frame (kacamata) gratis, seperti biasa lalu ketemu sama sejumlah bapak-bapak sama ibu-ibu nah, karyawan Optik Tunggal yang foto sama gue (bilang) karena suka nonton Mens Rea,” ungkap Pandji dalam podcast bertajuk Alasan Sebenarnya Mens Rea Berkasus yang tayang di saluran YouTube Pandji Pragiwaksono, Selasa, 24 Februari 2026.

Percakapan yang Kuatkan Dugaan

Pandji menuturkan, ia mendengar percakapan sejumlah pelanggan yang usianya diperkirakan lebih tua darinya.

Diskusi mereka, kata dia, bukan membahas teknik komedi, melainkan konteks sosial dan politik dari materi yang disampaikan.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu ini yang umurnya gue perkirakan mungkin sekitar 15 tahun di atas gue itu juga mengakui suka dengan pertunjukan Mens Rea. Nah, terus sambil gue lagi dicobain lagi kacamatanya di sebelah sini tuh diskusi antara bapak dan ibu tadi dengan karyawan Optik Tunggal yang lagi melayani mereka, terus mereka diskusi. Dalam diskusinya, gue semakin yakin kenapa Mens Rea ini ramai,” bebernya.

Menurutnya, masyarakat rupanya melihat materi tersebut sebagai candaan yang seharusnya bisa ditempatkan dalam konteks satire.

“Ya itu kan padahal cuma joke aja ya, masyarakat pada tersinggung. Terus beliau-beliau berlanjut ngomongin soalnya udah lama nggak dengar ada yang kritis kepada pemerintah. Nah itu sebenarnya, kalau lo bertanya-tanya, kenapa sih (Mens Rea) diomongin banget, kenapa sih rame banget, itu bukan karena pertunjukan ini adalah pertunjukan terlucu di Indonesia dan dugaan gue juga bukan hanya karena ini adalah seri komunikasi spesial pertama di Netflix tapi untuk waktu yang cukup lama Indonesia itu udah lama sekali nggak ngeliat opini yang berbeda dari opini yang disodorkan sama pemerintah saat ini,” papar Pandji.

Kritik terhadap Minimnya Oposisi Pendapat

Lebih jauhu, Pandji menilai sorotan besar terhadap Mens Rea tidak bisa dilepaskan dari situasi wacana publik yang dinilainya kurang menghadirkan perbedaan pandangan secara terbuka.

“Yang tidak ada adalah oposisi dalam bentuk apapun. Gue nggak cuma ngomongin oposisi politik tapi oposisi pendapat, apalagi di saat pemerintah dan publik Indonesia banyak ngomongin hal-hal, gue ganti deh apalagi Pak Prabowo Subianto banyak ngomongin hal-hal yang tidak terasa dekat dengan masyarakat,” kata dia.

Ia mencontohkan perbedaan narasi antara klaim pemerintah dan pengalaman masyarakat terkait kondisi ekonomi riil saat ini.

“Ini udah gue omongin di video gue berkali-kali, dari ngomongin soal angka pengangguran yang turun, di saat kenyatannya di masyarakat merasakan ada banyak layoff, layoff-nya masuk berita bahkan jadi berita-berita tuh ngomongin layoff perusahaan ini, layoff perusahaan ini,” ulas Pandji.

Pandji juga menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai penurunan angka kemiskinan yang menurutnya beriringan dengan kabar tragis di masyarakat.

“Di periode yang sama, Pak Prabowo ngomongin soal angka pengangguran yang turun, kemarin baru aja, Pak Prabowo bilang saya dapat laporan dari kepala daerah, angka kemiskinan turun. Beliau katakan, cuma setelah beberapa hari dari seorang anak di NTT kalau gak salah ya yang bunuh diri karena tidak punya uang Rp10 ribu untuk beli buku tulis kalau gak salah dan alat tulis ada opini dari sisi pemerintah, tapi kok gak ada tentangan. Kalau kita masih punya oposisi, udah rame itu pernyataan, udah rame kayak gimana sih oposisi,” terang komedian kelahiran 18 Juni 1979 ini.

Komedi sebagai Kanal Kritik Sosial

Pandji memandang, respons besar terhadap Mens Rea sebagai refleksi dari kebutuhan masyarakat akan ruang diskusi yang lebih berimbang.

Dalam pandangannya, polemik yang muncul justru memperlihatkan sensitivitas tinggi terhadap ekspresi berbeda.

Di sisi lain, tingginya minat penonton menunjukkan bahwa publik masih membuka ruang bagi satire dan opini alternatif.

“Ada banyak hal yang lebih penting untuk didiskusikan, tapi nggak ada. Muncullah Mens Rea dan rakyat Indonesia rindu, rakyat Indonesia rindu dengan suara yang berseberangan, suara yang lebih mewakili suara mereka dan muncul ke permukaan, udah lama mereka nggak ngeliat itu,” ujar Pandji.

“Nah, biasanya kemarin-kemarin ini, datangnya dari konten kreator, tapi konten kreator juga banyak yang udah terkooptasi atau udah menjadi bagian dari pemerintah, entertainer dengan pengaruh dengan influencer juga udah banyak yang menyisih.

Akhirnya, partai politik nggak ada yang punya pendapat oposisi, nggak jadi oposisi politik, pokoknya punya pendapat yang oposisi deh, nggak punya pendapat yang sifatnya oposisi, ulama juga nggak bersuara secara oposisi, media juga nggak ada suaranya, influencer juga nggak ada. Akhirnya siapa yang muncul? pelawak. Akhirnya muncul pelawak dan sekalinya pelawak muncul kemudian jadi masalah,” tutupnya.

Sumber: Konteks

Artikel terkait lainnya