DEMOCRAZY.ID – Berita terkait pembangunan lift kaca di kawasan wisata Pantai Kelingking, Desa Bunga Mekar, Nusa Penida, Klungkung, Bali, viral di media sosial pada Selasa pekan lalu.
Proyek setinggi 182 meter dan jembatan sepanjang 64 meter itu tampak menutupi sebagian panorama pantai, membuat warga menilai keasrian alam terganggu.
Warga Klungkung menilai keberadaan lift justru mengurangi daya tarik alami Kelingking yang selama ini digemari wisatawan karena pemandangannya yang asri dari tebing.
Gubernur Bali Wayan Koster pun mengutus Panitia Khusus Tata Ruang Aset dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali turun langsung ke lokasi pembangunan lift kaca di Pantai Kelingking itu.
“Jangan lihat pekerjanya dari siapa, tapi dari dokumen persyaratan perizinannya, yang kedua adalah tata ruang, itu saja, jadi saya menugaskan Pansus TRAP untuk ke lokasi mengecek dokumen dan kondisi lainnya,” kata Koster, Kamis pekan lalu.
Pemprov Bali enggan langsung menyimpulkan bahwa lift kaca tersebut melanggar sempadan jurang, karena perlu pendalaman atas dokumen yang dimiliki pengembang.
Namun jika terbukti bersalah, Koster tak ragu meminta Pansus TRAP DPRD Bali mengeluarkan rekomendasi penutupan.
“Ada tidak pelanggaran, kalau ada pelanggaran yang telak, sudah, tutup, jadi kita sekarang harus benah-benahin, beres-beres, kita harus menerapkan ini sekarang tertibkan yang nakal-nakal ini,” ujarnya.
Berdasarkan informasi awal yang ia sendiri dapat, izin pembangunan lift kaca di tebing Pantai Kelingking itu terbit tahun 2024, mereka mengantongi nomor induk berusaha (NIB) lewat Online Single Submission (OSS) sementara Bupati Klungkung mengaku kepada Gubernur Koster bahwa tak mengetahui proyek tersebut.
“Bupati Klungkungnya sebelum muncul kasus ini belum tahu, jadi saya kontak-kontakan sama Pak Bupati, baru tahu dua hari yang lalu, perangkat daerahnya sudah dipanggil,” ucapnya.
Kontroversi pembangunan lift kaca di Pantai Kelingking sampai ikut diberitakan media asing.
BBC bahkan mengungkap perusahaan pengembang asal China di balik pembangunan lift kaca itu.
Menurut laporan BBC, Senin (3/11/2025), lift kaca itu dibangun oleh pengembang China Kaishi Group.
Lift kaca itu dibangun dengan tujuan bagi para pengungung untuk mencapai pantai.
Pembangunan lift memicu kontroversi setelah foto-foto bangunan lift yang menjulang tinggi memotong panorama ikonik yang dijuluki ‘bukit T-Rex’.
Foto itu kemudian mengundang marah warga lokal dan turis yang menilai pembangunan lift merusak keindahan alami dan mempercepat erosi.
“Disayangkan pemandangan indah di Pantai Kelingking telah dirusak oleh pembangunan lift, ujar warga lokal Made Sediana kepada koran Bali Sun dilansir BBC.
“Turis datang ke Nusa Penida untuk menikmati keindahan panorama, bukan lift,” kata Sediana, menambahkan.
“Itu adalah kebodohan. Turis datang ke Bali untuk menikmati lingkungan alami karena negara mereka telah terbangun gedung tinggi. (Lift) ini hanya membuat lebih buruk,” ujar warga lain.
Belum diketahui hingga kapan penghentian proyek lift kaca di Pantai Kelingking. Proyek ini dikabarkan menghabiskan investasi senilai 12 juta dolar AS.
Saat ini, turis butuh 45 hingga 60 menit untuk menanjak tebing menuju pantai lewat jalur yang sempat.
Beberapa orang memperkirakan kemudahan mencapai Pantai Kelingking melalui pembangunan lift kaca akan memancing banyak turis berenang, meski selama ini aktivitas renang dilarang di lokasi wisata Pantai Kelingking.
Menurut laporan BBC, investasi asal China di Bali meningkat belakangan ini.
Sebagai contoh, sebuah firma bernama ChangYe Construction Group menginvestasikan sekitar 3 miliar dolar AS untuk membangun bandara kedua di Bali, sebagai usaha patungan dengan PT BIBU Panji Sakti.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh MALANG RAYA INFO – MEDIA (@malangraya_info)
Sumber: Republika