Terungkap di Persidangan! Ahli Gunakan Ilmu Medis dan Forensik untuk Uji Keaslian Ijazah Jokowi, Bandingkan Foto hingga Data Primer

DEMOCRAZY.ID – Polemik mengenai keaslian ijazah Jokowi kembali memasuki babak penting.

Seorang ahli mengungkapkan telah menggunakan pendekatan ilmiah multidisiplin, mulai dari ilmu medis hingga forensik dokumen, untuk menganalisis identitas dalam ijazah milik Presiden Joko Widodo.

Analisis ini menjadi bagian dari proses pembuktian di pengadilan yang kini menarik perhatian publik.

Ahli tersebut menjelaskan bahwa analisis tidak hanya fokus pada dokumen sebagai benda mati, tetapi juga pada identitas pemilik ijazah sebagai “benda hidup.”

Pendekatan ini dianggap penting untuk memastikan kesesuaian antara dokumen dan individu yang tercantum di dalamnya.

Ia juga menyebut bahwa sebanyak 709 dokumen pendukung terkait ijazah tersebut telah disita oleh Polda Metro Jaya sebagai bagian dari proses penyelidikan.

Menurutnya, penelitian ilmiah ini bertujuan memberikan penjelasan komprehensif kepada majelis hakim terkait keaslian ijazah Jokowi.

Ia menegaskan bahwa pendekatan berbasis sains menjadi kunci dalam memastikan validitas identitas yang tercantum dalam dokumen pendidikan tersebut.

Analisis Medis dan Morfologi Jadi Alat Pembuktian

Salah satu metode utama yang digunakan adalah ilmu kedokteran, khususnya cabang anatomi morfologi. Ilmu ini digunakan untuk mengidentifikasi dan membandingkan ciri fisik seseorang berdasarkan foto.

Ahli tersebut melakukan analisis komparasi antara foto yang terdapat pada ijazah dengan foto terbaru Presiden Jokowi.

Dengan teknik morfologi, ia mempelajari struktur wajah, proporsi anatomi, serta karakteristik visual yang bersifat unik pada individu.

“Ilmu anatomi morfologi memungkinkan identifikasi individu berdasarkan karakteristik fisik yang relatif stabil sepanjang hidup,” jelasnya.

Pendekatan ini dinilai memiliki tingkat akurasi tinggi karena didasarkan pada prinsip ilmiah yang telah lama digunakan dalam identifikasi forensik, termasuk dalam investigasi kriminal dan verifikasi identitas resmi.

Ilmu Perilaku dan Forensik Dokumen Ikut Dilibatkan

Selain ilmu medis, ahli juga menggunakan pendekatan ilmu perilaku dan forensik dokumen. Analisis perilaku digunakan untuk memahami konsistensi identitas individu dalam konteks historis dan administratif.

Sementara itu, forensik dokumen berfungsi untuk menguji keaslian fisik dokumen, termasuk struktur kertas, tinta, format penulisan, dan elemen pengamanan lainnya.

Pendekatan ini sering digunakan untuk mengidentifikasi dokumen palsu atau yang telah dimanipulasi.

Ia menegaskan bahwa kombinasi ketiga pendekatan tersebut—medis, perilaku, dan forensik dokumen—memberikan kerangka analisis yang komprehensif dan objektif.

Lima Sampel Ijazah dari KPU Jadi Data Sekunder

Dalam proses penelitian, ahli juga telah mengumpulkan lima sampel ijazah yang diperoleh secara resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Sampel ini dikategorikan sebagai data sekunder dalam metodologi penelitian.

Menurutnya, data sekunder merupakan langkah awal yang penting, namun belum cukup untuk memberikan kesimpulan final.

Ia menekankan bahwa data primer, yaitu dokumen asli, harus diperiksa secara langsung untuk memastikan keaslian secara absolut.

“Level tertinggi dalam pembuktian adalah data primer. Karena itu, kami berharap dokumen asli dapat ditunjukkan dan diuji secara otentik,” katanya.

Ia juga menyatakan bahwa proses otentikasi idealnya dilakukan oleh lembaga kearsipan resmi di daerah asal dokumen tersebut, termasuk lembaga arsip di Solo yang memiliki catatan administratif terkait pendidikan Jokowi.

Harapan Uji Otentikasi Dokumen Asli

Ahli tersebut menyampaikan dukungannya terhadap proses hukum yang sedang berjalan, termasuk kemungkinan menghadirkan dokumen asli untuk diuji secara langsung di pengadilan.

Ia menilai bahwa transparansi dan pemeriksaan ilmiah merupakan langkah penting untuk memberikan kepastian hukum.

Menurutnya, proses otentikasi tidak hanya penting untuk kepentingan hukum, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi dan sistem administrasi negara.

Isu ini menjadi sorotan luas setelah dibahas dalam program berita nasional, termasuk tayangan di Kompas TV yang mengangkat perkembangan terbaru kasus tersebut.

Dengan penggunaan metode ilmiah yang ketat, ahli berharap majelis hakim dapat memperoleh gambaran objektif mengenai validitas dokumen yang dipermasalahkan.

Ia juga menegaskan bahwa pendekatan berbasis sains merupakan cara paling netral dan dapat dipertanggungjawabkan dalam proses pembuktian.

Perkembangan kasus ini masih terus berjalan, dan publik menunggu hasil akhir dari proses hukum yang diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai keaslian ijazah Jokowi secara definitif.

Sumber: JawaPos

Artikel terkait lainnya