DEMOCRAZY.ID – Sosok Donald Trump kembali menjadi sorotan dunia usai aksinya menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, bersama sang istri, Cilia Flores.
Keduanya disebut ditangkap oleh pasukan elit Amerika Serikat, Delta Force, setelah serangan yang dilancarkan ke ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu dini hari pekan lalu.
Tak berhenti di situ, setelah penangkapan Maduro dan Flores, Trump juga dikabarkan mengincar Greenland.
Ia menilai Amerika Serikat membutuhkan wilayah tersebut demi kepentingan keamanan nasional, seiring meningkatnya aktivitas Rusia dan China di kawasan Arktik.
“Kami membutuhkan Greenland untuk perlindungan nasional,” kata Trump, seperti dikutip dari Anadolu.
Seiring dengan berbagai langkah agresif yang dilakukannya, publik pun semakin penasaran dengan sosok Trump.
Tak sedikit yang mulai mencari tahu lebih jauh, termasuk hal-hal apa saja yang sebenarnya paling ditakuti oleh Presiden Amerika Serikat tersebut.
Lantas apa yang paling ditakuti Donald Trump? Melansir laman BBC UK, ternyata ada satu hal yang paling ditakuti Trump.
Hal ini terungkap saat kunjungan politisi Inggris Raya Theresa May pada tahun 2017 lalu di Gedung Putih.
Saat itu, Trump terlihat menggengam tangan Theresa May. Sejumlah orang dalam pemerintahan menyebut penyebabnya adalah gabungan rasa takut terhadap tangga.
Rumor ini pertama kali muncul di media seperti The Telegraph, yang mengutip sumber pemerintah di Washington DC.
Politico juga mengutip sumber dari pemerintah Inggris, sementara juru bicara Theresa May seperti dikutip The Times tampak menguatkan teori bahwa yang memicu pegangan tangan tersebut adalah keberadaan jalan landai, bukan luapan emosi mendadak.
“Mereka sedang berjalan. Ada tanjakan yang tidak terlihat. Dia mengulurkan tangan. Dia pun menyambutnya,” kata dia.
Tidak ada cara pasti untuk membuktikan kebenaran ketakutan tersebut.
Namun, Will Pavia dari The Times menyoroti sebuah cuitan Donald Trump pada 2014 yang seolah berkaitan dengan teori ini.
“Cara Presiden Obama berlari menuruni tangga Air Force 1, meloncat dan terhuyung-huyung, sangat tidak elegan dan tidak mencerminkan presiden. Jangan sampai jatuh,” tulis Trump di Twitter pada 2014 lalu.
Di satu sisi, Trump juga secara terbuka mengakui fobia lainnya, yakni takut terhadap kuman. Dalam bukunya tahun 1997 The Art of the Comeback, Donald Trump menulis tentang betapa ia membenci berjabat tangan karena risiko kuman.
“Salah satu kutukan masyarakat Amerika adalah kebiasaan berjabat tangan. Semakin sukses dan terkenal seseorang, kebiasaan buruk ini terasa semakin menjijikkan. Saya termasuk orang yang sangat terobsesi dengan tangan bersih. Saya merasa jauh lebih nyaman setelah mencuci tangan dengan benar, dan saya melakukannya sesering mungkin,” tulisnya.
Namun, benarkah fobia terhadap tangga atau jalan landai itu benar-benar ada dan bagaimana seseorang bisa mengalaminya?
Menurut psikolog klinis bersertifikat yang praktik di London utara, Dr Abigael San menilai, ketakutan terhadap tanjakan atau tangga kemungkinan masuk dalam kategori ketakutan yang lebih luas, yakni takut ketinggian.
Fobia ini juga bisa berkaitan dengan ketakutan terhadap eskalator, yang ternyata cukup umum terjadi.
Jika, seperti yang diyakini Dr San, ketakutan terhadap tangga atau tanjakan berkaitan dengan rasa takut ketinggian, maka asal-usulnya cukup rasional meskipun ketakutan itu muncul pada sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu berbahaya.
Sementara itu, ketakutan yang dipengaruhi lingkungan berkembang dari pengalaman langsung yang pernah dialami atau disaksikan seseorang.
Sebagai contoh, orang yang takut tangga mungkin pernah melihat kecelakaan di tempat tersebut, atau menyaksikan seseorang yang ia kagumi menunjukkan rasa takut atau kewaspadaan berlebihan dalam situasi serupa.
Sementara itu, terkait ketakutan Trump terhadap kuman cukup umum, terutama pada penderita OCD.
“Kedua fobia itu menunjukkan adanya kecenderungan kecemasan, yang sebenarnya cukup mengejutkan,” kata dia.
Namun, masalah kecemasan tidak selalu muncul dalam bentuk yang kita bayangkan.
“Kecemasan adalah kondisi ketika kewaspadaan meningkat. Jika energi ini bisa dimanfaatkan, bukan dihindari, seseorang justru bisa menghadapinya dan menggunakan dorongan tersebut,” jelas San.
Sumber: VIVA