DEMOCRAZY.ID – Banyak tentara Amerika Serikat (AS) menentang perang di Iran. Hal ini terungkap dari data sebuah organisasi nirlaba, Center on Conscience & War.
Direktur eksekutif kelompok tersebut mengatakan ada penentangan keras terhadap perang di Iran.
Banyak dari mereka menolak bertugas dalam perang AS-Israel ke Iran.
“Telepon terus berdering. Jauh lebih banyak unit yang baru saja diaktifkan untuk dikerahkan daripada yang diketahui publik,” tulis direktur eksekutif Mike Prysner, di X, dikutip Selasa (10/3/2026).
Laporan ini keluar setelah adanya keinginan AS untuk mengirim pasukan khusus ke Iran.
Muncul spekulasi tentang akan adanya mobilisasi yang lebih luas.
Meski begitu, dilaporkan pula pembatalan latihan besar AS untuk beberapa tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 AS, yang mengkhususkan diri dalam pertempuran darat.
Belum ada konfirmasi lebih lanjut apakah ini terkait dengan laporan penolakan militer bertempur di Iran.
“Kemarin saya menerima telepon dari seorang anggota militer yang akan dikerahkan, yang tidak hanya mengajukan diri sebagai penolak wajib militer karena alasan keyakinan, tetapi juga melaporkan adanya penentangan luas terhadap Perang Iran di dalam unit mereka dan akan membagikan nomor kami kepada semua orang,” kata organisasi tersebut dalam unggahan lain di X.
“Secara khusus, mereka menyampaikan rasa jijik atas pembantaian sekolah perempuan oleh AS serta serangan terhadap fregat Iran di perairan internasional,” tambah unggahan tersebut.
Sementara itu, dalam sebuah wawancara dengan Fox News, sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt menolak untuk mengesampingkan kemungkinan AS memberlakukan kembali wajib militer.
Terakhir kali AS mewajibkan pria untuk berperang adalah pada Desember 1972, selama bulan-bulan terakhir Perang Vietnam.
Di sisi lain, setidaknya 165 orang, sebagian besar gadis muda, tewas akibat serangan gabungan AS-Israel terhadap sebuah sekolah perempuan di Minab, Iran selatan.
Middle East Eye (MEE) melaporkan bahwa sekolah tersebut dihantam dua kali, dengan rudal kedua menewaskan para penyintas yang berlindung dan petugas pertolongan pertama, dalam apa yang disebut serangan ganda.
The New York Times juga menambah bukti bahwa AS bertanggung jawab atas pemboman sekolah tersebut.
Sebuah video yang dirilis oleh kantor berita semi-resmi Iran, Mehr News Agency, menunjukkan rudal jelajah Tomahawk menghantam pangkalan angkatan laut di samping sekolah tersebut.
Pemerintahan Trump menolak berkomentar ketika ditanya tentang serangan itu meskipun bukti semakin banyak. Pada hari Sabtu, Trump menyalahkan Iran atas serangan terhadap sekolah tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka memiliki amunisi yang “tidak akurat,” tanpa memberikan bukti.
Iran sendiri telah melakukan serangan balik ke AS dan Israel dengan membom stasiun radar canggih, pangkalan militer, dan bahkan bagian CIA dari kedutaan AS di Riyadh, Arab Saudi.
Infrastruktur energi penting di negara-negara Teluk juga terkena dampak.
Sumber: CNBC