DEMOCRAZY.ID – Di balik gemuruh ledakan rudal dan sirine peringatan di Teluk Persia, para analis mencium adanya agenda yang jauh lebih besar dari sekadar perseteruan regional.
Analis Brian Blum mengungkapkan bahwa keterlibatan Amerika Serikat dalam perang melawan Iran sejatinya adalah langkah strategis AS di “papan catur besar” untuk membendung hegemoni Cina, dan bukan semata-mata hanya demi membela Israel.
Pandangan ini mematahkan narasi populis yang menyebut Israel sebagai “penarik” AS ke dalam konflik.
“Sebaliknya, Pentagon melihat Iran sebagai titik krusial atau pangkalan terdepan Cina di luar Asia Timur yang harus dilumpuhkan demi menjaga tatanan global yang dipimpin Amerika,” kata Blum dilansir Jerusalem Post, 20 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa hubungan Teheran dan Beijing telah mengakar sejak era 1980-an dan kini mencapai titik ketergantungan yang akut.
“Akibat sanksi Barat, Iran berpaling ke Cina sebagai penyelamat ekonomi. Saat ini, China menyerap hingga 90 % ekspor minyak Iran, seringkali melalui jalur rahasia dengan label ulang untuk menghindari deteksi internasional,” katanya.
Sebagai imbalannya, Cina menyediakan infrastruktur digital yang menjadi tulang punggung pertahanan Iran, yakni:
Penguasaan Cina atas Iran memberikan Beijing kekuatan untuk mengontrol Selat Hormuz.
Muncul kekhawatiran bahwa ke depan, hanya kapal tanker tujuan Cina yang bisa melintas dengan aman di jalur tersebut.
Bagi AS, membiarkan Iran tetap di bawah pengaruh Cina berarti sama saja menyerahkan kunci energi global kepada rival terbesarnya.
“Menurunkan tekanan terhadap Iran—atau mendorong perubahan rezim—akan mematahkan cengkeraman Cina atas Teheran,” tulis Blum menyitir analisis Haviv Rettig Gur.
“Ini bukan hanya tentang rudal yang terbang ke Israel, tetapi tentang siapa yang akan memimpin dunia dalam 30 tahun ke depan,” katanya.
Presiden Donald Trump, dengan kebijakan “poros ke Asia” dan perang tarifnya, tampaknya memahami betul bahwa Iran adalah bidak yang harus dijatuhkan untuk mengguncang ekonomi Cina.
“Jika pasokan minyak murah dari Iran terhenti, mesin ekonomi Cina akan mengalami guncangan hebat,” katanya.
Namun, kata Blum strategi ini adalah pertaruhan nyawa bagi ekonomi dunia.
“Di tengah upaya AS memutus rantai pasokan Cina-Iran, jutaan warga sipil di kedua negara kini terjebak dalam pusaran konflik kekuatan besar yang mempertaruhkan stabilitas energi dari dapur rumah tangga hingga industri global,” ujarnya.
Blum berargumen bahwa jika pengaruh Cina di Iran dapat dikurangi—baik melalui tekanan ekonomi, diplomatik, atau bahkan perubahan politik di dalam negeri Iran—maka keseimbangan kekuatan global juga akan ikut bergeser.
Pendekatan ini menjelaskan mengapa kebijakan luar negeri AS dalam beberapa tahun terakhir, termasuk konflik di Timur Tengah, sering kali tidak bisa dilepaskan dari strategi yang lebih luas dalam menghadapi kebangkitan Cina sebagai kekuatan global.
“Pada akhirnya, konflik Iran bukan hanya tentang rudal, wilayah, atau sekutu regional. Ini adalah bagian dari pertarungan jangka panjang mengenai siapa yang akan menentukan arah tatanan dunia di masa depan,” kata Blum.
Sumber: Tribun