DEMOCRAZY.ID – Kekuatan tempur Militer Israel kini dilaporkan berada di titik nadir akibat krisis personel yang sangat parah.
Kepala Staf Angkatan Darat Eyal Zamir secara terbuka mengakui bahwa institusinya bisa segera hancur jika masalah kekurangan prajurit ini tidak segera teratasi.
Ancaman kolaps ini terjadi tepat ketika mereka sedang disibukkan oleh Serangan AS-Israel terhadap Teheran pasca terbunuhnya Ali Khamenei, yang berbarengan dengan operasi Invasi Darat Lebanon.
Televisi pemerintah KAN melaporkan suasana tegang dalam pertemuan kabinet keamanan yang membahas melemahnya jumlah prajurit aktif di lapangan.
Dalam pertemuan tertutup tersebut, petinggi angkatan bersenjata Israel memberikan peringatan tajam kepada para pejabat pemerintah terkait kondisi darurat ini.
“Jika kita tidak menemukan solusi terhadap krisis personel, tentara akan runtuh.”
Beban militer rezim Zionis saat ini memang terpecah ke dalam berbagai medan pertempuran mematikan yang menguras tenaga dan sumber daya negara.
Mereka menuntut untuk menahan gempuran balasan dari Iran sambil terus memperluas operasi darat yang mematikan di wilayah perbatasan Lebanon.
“Kami membutuhkan lebih banyak personel dan tentara; jika solusi tidak ditemukan, tentara akan runtuh dari dalam.”
Kekhawatiran serupa juga disuarakan secara lantang oleh sejumlah pejabat senior militer lainnya yang turut hadir dalam rapat darurat tersebut.
Mereka menyoroti ketimpangan yang semakin mengerikan antara tingginya beban tugas operasi dan ketersediaan jumlah prajurit di lapangan.
“Jumlah misi bertambah sementara jumlah tentara berkurang.”
Selain menghadapi dua front peperangan utama tersebut, pasukan Zionis juga masih harus mempertahankan wilayah pendudukan di sebagian Jalur Gaza.
Mereka juga memikul beban tambahan untuk menjaga keamanan pemukiman-pemukiman baru yang Dibangun secara sepihak di wilayah penduduk Tepi Barat.
Di tengah kebutuhan prajurit tempur yang meroket tajam ini, para pejabat militer justru mengingatkan pemerintah tentang sebuah kebijakan yang dinilai kontradiktif.
Keputusan pemerintah untuk mencabut kebijakan perpanjangan masa wajib militer dianggap sebagai salah satu pemicu utama krisis kekurangan prajurit ini.
Rangkaian konflik multi-front ini sendiri mulai meledak secara brutal sejak tanggal 28 Februari lalu di tengah upaya negosiasi damai yang masih berlangsung.
Operasi militer gabungan bersama Washington tersebut secara tragis merenggut nyawa mantan pemimpin spiritual Iran beserta sejumlah pejabat tinggi lainnya.
Tindakan agresif tersebut langsung dibalas oleh Teheran dengan menembakkan rentetan rudal ke berbagai negara regional yang menjadi tuan rumah pangkalan Amerika Serikat.
Sementara itu, eskalasi di depan utara semakin tidak terkendali sejak pihak Tel Aviv mengumumkan masuknya proyektil mematikan dari arah Lebanon pada awal Maret lalu.
Militer Zionis meresponsnya dengan gempuran udara brutal yang menyasar ibu kota Beirut serta mengerahkan kekuatan invasi darat dan laut secara masif.
Dampak kesejahteraan dari luasnya perang ini sangat mengerikan karena pemerintah Lebanon mencatat lebih dari 1.162.000 warganya kini terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Sumber: Suara