TERKUAK di Sidang Prada Lucky: Razia Judol Sasar Junior, Senior Dilindungi Atasan!

DEMOCRAZY.ID – Persidangan kasus tewasnya Prajurit Dua (Prada) Lucky Cheptril Saputra Namo, yang diduga tewas akibat penganiayaan senior, kini mulai membongkar budaya senioritas yang diduga kuat mengakar di Batalion Infanteri (Yonif) Teritorial Pembangunan (TP) 834 Waka Nga Mere.

Sebuah fakta mengejutkan terungkap di Pengadilan Militer III-15 Kupang, NTT, yang menunjukkan bagaimana prajurit junior menjadi sasaran empuk pemeriksaan, sementara para senior dibiarkan tak tersentuh.

Prada Lucky, yang baru berdinas sejak Juni 2025, adalah korban utama dari budaya kekerasan ini.

Ia meninggal secara tragis pada 6 Agustus 2025, setelah dilarikan ke RSUD Aeramo.

Tubuhnya penuh dengan luka siksaan, memar akibat benda tumpul, luka sayatan, dan yang paling mengerikan, luka bakar serupa sundutan bara rokok di lengan dan kakinya.

Ayahnya, Serma Christian Namo, meyakini anaknya tewas dianiaya oleh para seniornya.

Kultur yang diduga melindungi senior dan menekan junior ini terkonfirmasi dalam persidangan pada Selasa, 4 November 2025.

Komandan Peleton (Danton) A, Letda Infanteri Roni Setiawan, yang dihadirkan sebagai saksi, mendapat teguran keras dari oditur militer.

Letda Roni disorot karena praktik pemeriksaan ganda yang ia terapkan di dalam satuannya, yang sangat diskriminatif antara prajurit baru dan prajurit lama.

Dalam sidang terungkap, pada Minggu, 27 Juli 2025 malam, Letda Roni melakukan inspeksi telepon genggam untuk memberantas judi online atau judol di kalangan prajurit.

Namun, oditur militer mempertanyakan mengapa razia tersebut hanya menyasar para prajurit junior, yakni Tamtama Remaja (Taja) dan Bintara Remaja (Baja).

Ponsel milik para prajurit senior, yang justru diduga menganiaya Prada Lucky, sama sekali tidak diperiksa.

Saat ditanya mengapa ia bersikap tebang pilih, Letda Roni memberikan jawaban yang semakin menguatkan dugaan adanya budaya melindungi senior.

Ia mengaku bahwa tindakannya itu dilakukan murni atas perintah atasannya.

“Siap, (atas) perintah Danki (Komandan Kompi Lettu Inf Rahmad Faizal saya tidak mengecek ponsel milik prajurit lainnya),” jawab Letda Roni.

Oditur militer langsung menyerang logika tersebut. Ia heran mengapa perintah Danki bisa menganulir perintah dari pimpinan TNI yang lebih tinggi tentang pemberantasan judol.

Oditur menegaskan bahwa judi online bisa menyasar siapa saja, dan secara logika, para senior justru memiliki potensi lebih besar untuk berjudi.

Mereka sudah berdinas lebih lama dan memiliki gaji yang lebih banyak, tidak seperti para prajurit junior.

Kecurigaan oditur semakin terbukti saat ia menanyakan status gaji para junior yang ponselnya dirazia itu.

“Mereka sudah menerima gaji belum? Sudah menerima belum (gaji) full?” cecar oditur. Letda Roni lalu menyampaikan. “Siap, belum,” katanya.

Fakta ini menunjukkan bahwa razia itu tidak logis, karena menyasar prajurit yang bahkan belum menerima gajian penuh, sementara membiarkan senior yang bergaji utuh.

Oditur militer menutup tegurannya dengan peringatan keras agar Letda Roni berlaku adil.

“Kita menangani kasus judol itu perintah dari atas. Kalau mau berlaku adil disampaikan, semua diperiksa itu,” katanya.

Teguran ini tidak hanya mencoreng kredibilitas Letda Roni, tetapi juga secara tidak langsung memperlihatkan kepada publik budaya senioritas.

Para junior seperti Prada Lucky selalu berada di posisi yang rentan, baik untuk sasaran razia maupun sasaran kekerasan.

Sumber: Konteks

Artikel terkait lainnya