DEMOCRAZY.ID – Kasus yang melibatkan terpidana kasus kejahatan seksual, Jeffrey Epstein terus mendapat sorotan hangat terutama di kalangan anggota Kongres Amerika Serikat.
Terbaru, anggota legislator AS mengaku menemukan bukti bahwa beberapa nama pria berpengaruh sempat ditutupi tanpa alasan hukum yang jelas.
Hal ini bermula saat perwakilan Partai Republik Thomas Massie dan anggota DPR dari partai Demokrat Ro Khana termasuk di antara anggota yang diberi akses meninjau berkas tanpa sensor di ruang baca aman milik Departemen Kehakiman AS (DOJ).
Setelah memeriksa dokumen tersebut selama kurang lebih dua jam, Khana menemukan adanya enam pria yang namanya ditutupi tanpa penjelasan
“Ada enam pria kaya dan berkuasa yang disembunyikan DOJ tanpa alasan yang jelas. Saat saya dan anggota Kongres Massie menyampaikan hal ini kepada Departemen Kehakiman, mereka mengakui kesalahan tersebut dan kemudian membuka identitas enam pria berpengaruh ini,” ujar Khanna dikutip dari laman New York Times, Rabu 11 Februari 2026.
Ia juga menyinggung tentang dirinya dan Thomas Massie yang harus datang langsung ke DOJ agar nama keenam pria ini bisa dipublikasikan.
“Kenapa harus saya dan Thomas Massie yang datang langsung ke Departemen Kehakiman agar nama keenam pria ini dipublikasikan? Jika kami bisa menemukan enam nama yang disembunyikan hanya dalam dua jam, bayangkan berapa banyak nama lain yang mungkin ditutupi dalam tiga juta dokumen?” kritik dia.
Kedua anggota kongres tersebut sebelumnya ikut menyusun Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein yang memaksa dokumen-dokumen itu dirilis pada akhir tahun lalu.
Mereka juga sempat menyatakan akan mengungkap nama-nama tersebut di sidang DPR, tempat pernyataan mereka dilindungi konstitusi dari gugatan hukum.
Sementara itu, Wakil Jaksa Agung Todd Blanche menegaskan bahwa salah satu dokumen yang banyak disensor dan dirujuk oleh para anggota kongres sebenarnya memuat nama sejumlah korban.
Ro Khanna pada Selasa waktu AS secara terbuka mengungkap nama enam pria kaya dan berpengaruh yang menurutnya kemungkinan terlibat dalam berkas-berkas kasus Jeffrey Epstein.
Pengungkapan ini dilakukan kurang dari 24 jam setelah ia menuduh Departemen Kehakiman AS (DOJ) sempat menyembunyikan identitas mereka dalam rilis terbaru dokumen Epstein.
Lantas siapa saja mereka? Berikut ini rangkumannya.
Sultan Ahmed bin Sulayem, CEO raksasa logistik DP World, diketahui bertukar banyak pesan yang mengganggu dan bermuatan seksual dengan Epstein selama lebih dari satu dekade, bahkan setelah Epstein divonis bersalah pada 2008 atas kasus meminta anak di bawah umur untuk prostitusi, menurut dokumen tersebut.
Dalam sebuah email pada September 2015, eksekutif bisnis berpengaruh asal Dubai itu membanggakan hubungannya dengan seorang pelajar pertukaran asing.
“Dia sempat bertunangan tapi sekarang kembali dengan saya … seks terbaik yang pernah saya alami, tubuhnya luar biasa,” demikian bunyi email tersebut.
Korespondensi tersebut juga memuat rujukan seksual, gambar telanjang, serta kisah vulgar tentang pertemuan-pertemuan lainnya.
Sebagai salah satu tokoh paling berkuasa di Uni Emirat Arab, bin Sulayem juga disebut membantu Epstein memperoleh Little St. James, pulau pribadi Epstein di Karibia yang menurut jaksa federal digunakan untuk praktik perdagangan seks, seperti dilaporkan Bloomberg.
Pengusaha yang berperan besar dalam menjadikan Dubai pusat perdagangan global itu dilaporkan pernah difoto di pulau tersebut, dan email-email menunjukkan ia berulang kali merencanakan kunjungan ke sana.
Bin Sulayem juga membantu Epstein mendapatkan Great St. James, pulau Karibia lain miliknya.
Ketika Epstein dilarang membeli pulau itu karena vonis tahun 2008, sebuah perusahaan Kepulauan Virgin yang dimiliki bin Sulayem membeli pulau tersebut pada 2016, berdasarkan dokumen yang diperoleh media tersebut.
Email-email tambahan mengungkap bahwa bin Sulayem pewaris keluarga kuat Emirat yang memiliki hubungan erat dengan para penguasa Dubai mendorong rencana Epstein untuk mengembangkan kedua pulau itu menjadi resor pribadi bagi pelanggan dan teman-temannya.
Sebagai tokoh industri besar, ia memanfaatkan proyek-proyek yang didukung negara untuk membangun kerajaan global di bidang pelabuhan, logistik, properti, hotel, dan investasi.
Les Wexner, pemimpin lama L Brands dan pendiri Victoria’s Secret, tercantum dalam catatan internal Departemen Kehakiman saat FBI menyelidiki kasus Epstein, menurut dokumen tersebut.
Ia termasuk dalam daftar orang yang sempat dipertimbangkan untuk dipanggil dengan surat panggilan resmi hanya beberapa hari sebelum penangkapan Epstein pada Juli 2019.
Saat itu, pengacara Wexner menyatakan kepada penyidik bahwa baik Wexner maupun istrinya tidak mengetahui perilaku seksual menyimpang Epstein.
Mereka juga mengatakan bahwa meskipun Epstein pernah mengelola keuangan sang miliarder, hubungan tersebut telah diputus lebih dari satu dekade sebelumnya setelah diketahui Epstein mencuri dana dari mereka.
“Bukti terkait keterlibatannya sangat terbatas,” tulis seorang agen FBI dalam email pada Agustus 2019.
Upaya media untuk menghubungi Wexner dan bin Sulayem tidak membuahkan hasil.
Sementara itu, latar belakang empat nama lainnya adalah Salvatore Nuara, Zurab Mikeladze, Leonic Leonov, dan Nicola Caputo, keempatnya masih belum jelas, dan nama-nama mereka tidak muncul di bagian lain dokumen DOJ.
Khanna juga tidak memberikan bukti adanya pelanggaran hukum oleh salah satu dari keempat orang tersebut.
Sumber: VIVA