Tentara dan Kepala Daerah Siaga: 2 Petinggi Negara Era Jokowi ‘Pra Kondisi’ Peralihan Kekuasaan?

Tentara dan Kepala Daerah Siaga: 2 Petinggi Negara Era Jokowi Pra Kondisi Peralihan Kekuasaan?

Oleh: Tarmidzi Yusuf | Kolumnis

Siaga! Ini bukan untuk menakut-nakuti. Indonesia gawat. Begitulah analisis para ekonom yang banyak mengisi ruang publik.

Tentu mereka bicara tidak asal bicara. By data. Tidak sembarangan mengeluarkan analisis.

Presiden Prabowo sendiri mengakui Indonesia dalam kesulitan. Seperti ditegaskan oleh Prabowo di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin, 9 Maret 2026.

“Kita menghadapi kesulitan dengan sikap kita ingin mengatasi kesulitan. Kita tidak menutupi kesulitan, kita tidak pura-pura tidak ada kesulitan,” kata Prabowo.

Indikator kesulitan itu bisa kita baca. Ancaman konflik AS-Israel versus Iran dan ancaman ekonomi domestik yang menurut ekonom sedang mengarah seperti tahun 1998.

Indikator kegawat daruratan lain adalah penetapan siaga satu! Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto telah mengeluarkan perintah siaga satu. Alasannya perang AS-Israel versus Iran.

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian menetapkan hal yang sama. Siaga wilayah untuk para kepala daerah. Alasannya beda dengan Panglima TNI.

Tito Karnavian beralasan karena libur Idul Fitri. Menurut Tito Karnavian langkah ini diambil untuk memastikan kelancaran penyelenggaraan pemerintahan daerah selama periode libur Lebaran.

Tito Karnavian juga melarang kepala daerah dan wakil kepala daerah perjalanan ke luar negeri mulai 14 hingga 28 Maret 2026. Politisasi rutinitas lebaran?

Benarkah alasan kedua pejabat tinggi negara warisan rezim Jokowi ini menetapkan siaga yang menuai kritik Koalisi Sipil?. Murni alasan konflik AS-Israel versus Iran dan murni liburan lebaran? Atau ada agenda tersembunyi? Wait and see!

Agus Subiyanto dan Tito Karnavian masih di posisi yang sama ketika Jokowi berkuasa. Ini pula alasan publik untuk sulit menerima alasan penetapan siaga satu dan siaga wilayah.

Apa yang bakal terjadi antara tanggal 14 sampai 28 Maret 2026? Momentum liburan lebaran saat rakyat merayakan Idul Fitri bakal ada peristiwa besar sehingga TNI dan kepala daerah/wakil kepala daerah harus siaga?

Patut dipertanyakan. Ada apa? Peristiwa besar dampak konflik AS-Israel versus Iran atau kondisi ekonomi mengarah situasi seperti tahun 1998? Dolar Amerika sudah tembus Rp 17.000.

Kita ingat ketika 1998, pasukan TNI dikosongkan dari Jakarta. “Pembiaran” massa menduduki gedung MPR/DPR. Konon ada perintah dari Mabes ABRI.

Bisa saja bagi pihak yang tidak setuju dengan opini adanya kegawatdaruratan dibalik penetapan siaga satu oleh Panglima TNI dan siaga wilayah oleh Menteri Dalam Negeri sebagai hal yang biasa. Standby di hari lebaran.

Itu menjadi luar biasa ditengah ancaman ekonomi dan bayang-bayang kenaikan minyak bakal memicu demonstrasi besar-besaran.

Yang dikhawatirkan. Ada pihak yang menunggangi seperti peristiwa demonstrasi akhir Agustus 2025.

Momentum inilah yang ditunggu oleh musuh dalam selimut Presiden Prabowo.

Sementara Prabowo sendiri sudah mulai kehilangan dukungan pasca Indonesia bergabung dalam Board of Peace bentukan Donald Trump dan perjanjian dagang Indonesia dengan AS yang dinilai tidak adil.

Ada bau-bau pra kondisi sebelum Presiden Prabowo benar-benar terjungkal dari kursi RI-1. Penetapan siaga dan konsolidasi “pengamanan” peralihan kekuasaan.

Ada perintah pengosongan Jakarta seperti tahun 1998. Sekarang perintah “siaga”. Siaga dalam rangka apa? Itu yang jadi misteri.

Wallahua’lam bish-shawab!

Artikel terkait lainnya