Tak Takut dengan Israel, Jenderal Iran: Kami Tahu Lokasi Rapat Netanyahu!

DEMOCRAZY.ID – Iran kembali melontarkan pernyataan provokatif yang menyasar jantung pertahanan Israel.

Penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Mayjen Yahya Rahim Safavi, mengeklaim bahwa pihaknya memiliki data intelijen yang sangat presisi.

Data intelijen itu mencakup lokasi persis di mana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar pertemuan-pertemuannya.

Dalam sebuah wawancara televisi pada Selasa (3/3/2026), Safavi menegaskan bahwa serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel belakangan ini tidak memberikan dampak signifikan bagi pertahanan Iran.

Ia justru menyebut Netanyahu telah terjebak dalam delusi dan informasi yang keliru.

“Netanyahu memberikan informasi palsu dan estimasi yang salah.”

“Dia mengira Iran melemah setelah ‘Perang 12 Hari’, padahal kenyataannya kami sekarang puluhan kali lipat lebih kuat,” ujar Safavi sebagaimana dikutip dari WANA.

Safavi mengungkapkan bahwa di balik meja diplomasi dan seruan perdamaian, Teheran diam-diam terus memacu mesin perangnya.

Ia mengeklaim kekuatan ofensif Iran, terutama dalam teknologi rudal dan drone, telah meningkat tajam hingga sepuluh kali lipat.

Jangkauan intelijen Iran pun disebutnya telah menyusup jauh ke wilayah lawan.

Menurutnya, Kementerian Intelijen Iran saat ini memiliki “pengawasan penuh” atas titik-titik vital musuh.

“Kami memegang intelijen lengkap terkait target-target musuh di sekitar Iran, termasuk sasaran milik Amerika Serikat dan Israel.”

“Kami bahkan tahu di mana lokasi pertemuan Netanyahu secara persis.”

“Basis data intelijen kami sudah lengkap,” tegas jenderal bintang dua tersebut.

Pernyataan ini muncul di tengah puing-puing sisa serangan udara Israel dan AS yang menghantam beberapa titik di Teheran pada awal Maret 2026.

Alih-alih melunak, Iran tampaknya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa sistem pertahanan dan jaringan mata-mata mereka tetap solid di tengah gempuran bertubi-tubi.

Netanyahu Pede Perang Iran Bakal Singkat

Di sisi lain, Netanyahu menegaskan bahwa konfrontasi militer yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran tidak akan menjadi “perang abadi”.

Meski mengakui butuh waktu, Netanyahu optimis konflik ini bakal tuntas dalam waktu dekat tanpa harus menyeret kawasan ke dalam peperangan bertahun-tahun.

Pernyataan ini muncul di tengah memanasnya situasi Timur Tengah setelah serangan udara besar-besaran AS-Israel ke Teheran pada Sabtu lalu.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, sebuah peristiwa yang langsung menyulut aksi balas dendam dari Teheran.

“Saya katakan ini bisa berjalan cepat dan menentukan. Mungkin butuh waktu, tapi tidak akan bertahun-tahun.”

“Ini bukan endless war (perang tanpa akhir),” tegas Netanyahu, Senin (2/3/2026), mengutip Reuters.

Alih-alih melihatnya sebagai bencana, Netanyahu justru mengklaim perang ini adalah pintu masuk menuju stabilitas kawasan.

Ia meyakini kehancuran kekuatan militer Iran akan membuka jalan bagi perdamaian abadi, termasuk normalisasi hubungan antara Israel dan Arab Saudi.

Tak hanya itu, Netanyahu terang-terangan menyebut intervensi militer ini bertujuan memicu revolusi di Iran.

Ia berharap tekanan dari luar akan membuat rakyat Iran bergerak menggulingkan rezim saat ini.

“Kami (AS dan Israel) sedang menciptakan kondisi agar rakyat Iran bisa mengubah pemerintahan mereka sendiri,” pungkasnya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya