DEMOCRAZY.ID – Rencana debat terbuka antara Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada, Zainal Arifin Mochtar, dan Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, terus menjadi sorotan publik.
Polemik ini semakin menghangat setelah muncul komentar keras dari warganet yang mempertanyakan keseriusan Pigai memenuhi tantangan debat terbuka.
Seorang pengguna platform X (Twitter) dengan akun @Mukidioon2 turut mengomentari dinamika tersebut.
“Masak sih @NataliusPigai2 orangnya picik?, banci?, penakut?, gak berilmu?!, tapi kalau memang dia gak berani melayani tantangan, benar adanya, suruh pakai daster saja, jadi banci kaleng,” tulisnya, Sabtu (28/2/2026).
Ia mempertanyakan konsistensi Pigai setelah sebelumnya menyatakan siap berdebat secara terbuka dan disiarkan langsung di televisi nasional.
Komentar tersebut bernada kritik tajam terhadap sikap Pigai yang hingga kini belum memberikan respons resmi atas tawaran konkret debat di televisi.
Masak sih @NataliusPigai2 orangnya picik?, banci?, penakut?, gak berilmu?!, tapi kalau memang dia gak berani melayani tantangan, benar adanya, suruh pakai daster saja, jadi banci kaleng! pic.twitter.com/9ca8AhZxew
— BanggaBukanPemilih02 (@Mukidioon2) February 27, 2026
Babak baru polemik ini bermula ketika Zainal Arifin Mochtar mengungkapkan bahwa dirinya telah dihubungi jurnalis senior Rosianna Silalahi untuk memfasilitasi debat terbuka melalui program “Rosi” di Kompas TV.
“Baru aja dicolek Mbak Rosi, katanya dia sediakan tempat dan waktu di acara Rosi Kompas TV. Gimana Pak Natalius Pigai?” tulis Zainal dalam pernyataan publiknya, Jumat (27/2/2026).
Pernyataan tersebut merujuk pada permintaan Pigai sebelumnya yang menginginkan debat digelar di televisi nasional dan disiarkan secara langsung agar dapat disaksikan publik luas.
Dalam pernyataan terdahulu, Pigai bahkan menyebut forum debat itu sebagai ruang ilmiah untuk membahas isu hak asasi manusia secara akademik.
“Saya setuju di TV nasional dan live. Anda yang undang maka saya minta Anda yang siapkan. Kita bicara dalam tataran ilmiah. Saya benar-benar mau ajari Anda soal HAM agar paham,” ujar Pigai dalam pernyataannya.
Pigai juga menegaskan bahwa ia ingin masyarakat melihat secara langsung kapasitas akademik dalam membahas isu HAM.
Ia bahkan menyarankan agar materi tertentu dipelajari lebih dahulu sebelum debat digelar.
Namun, setelah tawaran konkret dari Kompas TV disampaikan secara terbuka, hingga berita ini diturunkan belum terlihat tanggapan resmi dari Natalius Pigai.
Kondisi ini memicu berbagai respons publik di media sosial.
Sebagian warganet menilai momentum ini sebagai kesempatan ideal untuk menguji argumentasi kedua tokoh dalam forum terbuka dan akademik.
Di sisi lain, ada pula yang mempertanyakan konsistensi pernyataan awal Pigai yang menyatakan kesediaan tampil secara live di televisi nasional.
Isu hak asasi manusia memang kerap menjadi perhatian publik, terlebih ketika melibatkan figur publik dengan latar belakang kuat di bidang hukum dan kebijakan.
Debat terbuka semacam ini dinilai dapat menjadi ruang edukatif bagi masyarakat untuk memahami perbedaan perspektif secara argumentatif dan berbasis data.
Kini perhatian publik tertuju pada langkah selanjutnya dari Menteri HAM.
Apakah ia akan memenuhi pernyataannya untuk tampil dalam debat ilmiah yang difasilitasi televisi nasional, atau memilih tidak menanggapi undangan tersebut, masih menjadi tanda tanya.