‘Tak Ada Yang Bisa Melindungi Jokowi!’

‘Tak Ada Yang Bisa Melindungi Jokowi!’

Oleh: Ali Syarief | Akademisi

Pada akhirnya, tak ada benteng kekuasaan yang cukup kokoh untuk melindungi seseorang dari kesalahannya sendiri. Tak ada pagar istana yang sanggup menahan arus waktu, apalagi sejarah.

Bagi Joko Widodo, waktu itu kian dekat. Bukan karena fitnah, bukan pula karena konspirasi politik—melainkan karena kesalahannya faktual. Terukur. Tercatat.

Realitas hari ini berbicara dengan lantang: pelanggaran hukum yang nyata, penyelewengan kekuasaan yang terang-benderang, nepotisme yang vulgar, dan kebohongan publik yang berulang.

Semua tersusun rapi dalam satu bab sejarah yang kelak akan dibuka oleh bangsa ini dengan rasa getir—bahwa seorang presiden yang dulu dielu-elukan karena kesederhanaannya, akhirnya terperosok ke dalam kubangan kekuasaan yang ia ciptakan sendiri.

Nepotisme bukan sekadar kata yang diucapkan oposisi. Ia hidup dalam praktik: anak menjadi wali kota, kemudian wakil presiden; menantu didorong menjadi gubernur; adik bungsu memimpin partai.

Sebuah dinasti yang dibangun atas nama meritokrasi palsu, diselimuti narasi “anak muda berprestasi” untuk menutupi kenyataan bahwa jabatan publik kini diwariskan seperti harta keluarga.

Lalu hukum—apa kabar hukum? Di tangan Jokowi, hukum bukan lagi alat keadilan, melainkan perisai politik.

Aparat penegak hukum dijadikan instrumen kekuasaan, sementara para koruptor yang dekat dengan lingkar istana dibiarkan bernapas lega.

Ketika kritik dianggap ancaman, dan oposisi dikriminalisasi, di situlah demokrasi mulai kehilangan denyutnya.

Namun waktu, sebagaimana sejarah, tak bisa disogok. Ia bekerja pelan, tetapi pasti. Satu per satu tabir kebenaran akan terbuka, dan semua nama yang pernah berlindung di balik kekuasaan akan kehilangan daya.

Jokowi bisa mencoba bertahan dengan simbol-simbol kesederhanaan lamanya—baju putih, blusukan, atau gaya rakyat jelata—tapi publik sudah tahu bahwa semua itu kini hanya kostum politik yang lusuh.

Rakyat mungkin belum bersuara serentak. Tapi kesadaran publik sedang tumbuh, diam-diam, di ruang-ruang yang tak terjangkau buzzer dan propaganda.

Di warung kopi, di media sosial yang tak lagi bisa dikendalikan, di hati mereka yang dulu percaya tapi kini merasa dikhianati. Kesadaran itu yang akan menjadi gelombang sejarah berikutnya.

Tak ada yang bisa melindungi Jokowi dari dirinya sendiri. Sebab semua pelanggaran yang ia lakukan bukanlah hasil tafsir, melainkan fakta.

Ia meninggalkan jejak digital, dokumen anggaran, rekaman pernyataan, dan keputusan-keputusan politik yang saling menguatkan satu sama lain—menjadi bukti bahwa kekuasaan telah disalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarga.

Ketika sejarah kelak menulis bab tentang era Jokowi, ia mungkin tidak akan ditulis sebagai diktator, tapi juga bukan sebagai negarawan.

Ia akan dikenang sebagai simbol kontradiksi: pemimpin yang datang dari rakyat, namun meninggalkan rakyat demi kekuasaan.

Dan di situlah titik akhirnya. Bukan karena oposisi menjatuhkannya, bukan pula karena hukum akhirnya tegas, tapi karena waktu telah menuntut balas. Karena kebenaran, meski tertunda, tak pernah mati. ***

Artikel terkait lainnya