‘Strategi Ganda’ China Dalam Menghadapi Perang AS-Iran, Apa Tujuan Mereka?

DEMOCRAZY.ID – Eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah telah menempatkan China dalam posisi geopolitik paling sulit dalam satu dekade terakhir.

Sebagai mitra strategis utama Iran sekaligus konsumen minyak mentah terbesar di dunia, Beijing kini terpaksa menyeimbangkan kecaman diplomatik terhadap Barat dengan tekanan ekonomi yang kuat terhadap Teheran guna mencegah keruntuhan pasar energi global.

Di balik retorika solidaritas, pemerintah China dilaporkan tengah melakukan upaya diplomasi pintu belakang yang intensif.

Menteri Luar Negeri Wang Yi telah berkomunikasi langsung dengan otoritas di Teheran untuk memastikan bahwa respons militer Iran tidak menyasar infrastruktur energi kritis atau menutup Selat Hormuz.

Data pelayaran menunjukkan bahwa sekitar 15 hingga 20 juta barel minyak per hari melewati jalur sempit tersebut, di mana lebih dari 25% dari total ekspor tersebut ditujukan langsung ke pelabuhan-pelabuhan di daratan China.

Secara resmi, Beijing mengambil sikap keras terhadap tindakan militer Amerika Serikat dan Israel.

Kementerian Luar Negeri China melabeli serangan udara gabungan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan yang tidak dapat diterima dan memperingatkan bahwa “api perang” ini akan menciptakan ketidakstabilan permanen di kawasan.

Bagi Beijing, serangan ini bukan sekadar konflik regional, melainkan ancaman langsung terhadap investasi infrastruktur senilai miliaran dolar di bawah payung Belt and Road Initiative yang menghubungkan China ke Teluk Persia.

Namun, di balik layar, urgensi ekonomi menjadi prioritas utama.

Sejak serangan dimulai, harga minyak mentah Brent telah melonjak melewati ambang batas kritis, sebuah kondisi yang mengancam target pertumbuhan ekonomi China yang dipatok pada angka 5% untuk tahun ini.

Jika Iran memutuskan untuk memblokade Selat Hormuz sebagai bentuk balasan terhadap AS, para analis ekonomi memperkirakan biaya logistik global akan naik sebesar 30% dalam hitungan hari, sebuah skenario yang ingin dihindari Beijing dengan segala cara.

Kekhawatiran China juga didorong oleh ketergantungan energi yang asimetris.

Meskipun China memiliki perjanjian kerja sama strategis 25 tahun dengan Iran yang ditandatangani pada 2021, Beijing juga sangat bergantung pada stabilitas di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab—rival regional Iran yang juga menjadi pemasok energi utama bagi industri China.

Kehancuran infrastruktur di salah satu sisi akan menyebabkan efek domino yang menghancurkan rantai pasok manufaktur global yang berpusat di China.

Saat ini, posisi strategis China adalah mencoba mempertahankan statusnya sebagai “broker perdamaian” yang rasional, kontras dengan pendekatan militeristik Amerika Serikat.

Dengan memanfaatkan hubungan ekonomi yang erat, China mencoba membujuk Iran agar melakukan “perlawanan yang terkontrol” tanpa memicu perang total yang dapat melumpuhkan ekonomi dunia.

Keberhasilan atau kegagalan diplomasi sunyi Beijing ini diyakini akan menjadi ujian terbesar bagi pengaruh China di Timur Tengah pasca-rekonsiliasi Arab Saudi-Iran tahun lalu.

Sumber: MonitorDay

Artikel terkait lainnya