DEMOCRAZY.ID – Di balik ketegangan politik Bangladesh, di balik vonis mati yang kini menghantuinya, nama Sheikh Hasina Wazed sejatinya pernah menyimpan citra lain: seorang perempuan muda yang memesona, cerdas, dan menjadi harapan baru bangsanya pasca-kemerdekaan.
Jauh sebelum ia memimpin Bangladesh selama hampir dua dekade, jauh sebelum dunia menilainya sebagai pemimpin keras yang ditekan sejarah dan konflik, Hasina pernah dikenal sebagai gadis berwajah lembut yang sering tersenyum di sela ruang kuliah Universitas Dhaka.
Kini, ketika vonis hukuman mati dijatuhkan kepadanya, warganet Bangladesh kembali menelusuri foto-foto lamanya—mengingat perempuan yang dulu begitu berbeda dengan sosok tegang yang pernah duduk di kursi perdana menteri.
Sheikh Hasina lahir pada 28 September 1947 di Tungipara, Gopalganj.
Ia adalah putri sulung Sheikh Mujibur Rahman, pendiri sekaligus presiden pertama Bangladesh.
Sebagai anak dari figur paling dihormati di negara itu, Hasina tumbuh di tengah arus politik, namun masa mudanya menyisakan kesan yang sangat manusiawi: perempuan cerdas dengan rambut tebal dan raut tenang yang menarik perhatian banyak orang di Dhaka.
Di awal tahun 1960-an, Hasina sudah menjadi juru bicara ayahnya di Universitas Dhaka.
Banyak aktivis kampus kala itu mengenalnya sebagai perempuan berani yang tutur bahasanya lembut namun tajam.
Ia menikah dengan M.A. Waed Miah, seorang ilmuwan, pada 1968—sebuah pernikahan yang kala itu dianggap mempertemukan kecerdasan dengan kecerdasan.
Pesona Hasina muda semakin menguat ketika keluarga besar Mujib ikut mendorong gerakan kemerdekaan Bangladesh pada 1971.
Ia bukan hanya simbol garis keturunan, tetapi juga simbol harapan generasi baru.
Senyum Hasina muda hilang seketika pada 15 Agustus 1975.
Ayahnya—Sheikh Mujib—tewas dalam kudeta berdarah. Ibunya, tiga saudara laki-lakinya, dan sebagian besar keluarga mereka turut dibantai.
Hasina selamat karena sedang berada di Jerman Barat bersama adiknya, Sheikh Rehana. Dari sana, ia berpindah ke Inggris, lalu New Delhi.
Pengasingan itu menjadi semacam sekolah politik yang pahit: ia belajar kehilangan, kediktatoran, dan bagaimana sejarah bisa berubah dalam semalam.
Ketika kembali ke Bangladesh pada 17 Mei 1981, Hasina bukan lagi gadis yang mempesona dengan senyum kampus.
Ia pulang sebagai perempuan yang membawa trauma, kemarahan, dan tekad besar.
Hasina membangun kembali Liga Awami dari reruntuhan tragedi 1975. Keberaniannya melawan kelompok militer membuatnya menjadi simbol demokrasi.
Tahun 1996, ia terpilih sebagai Perdana Menteri Bangladesh ke-10, menjalani masa jabatan penuh hingga 2001.
Setelah kalah dari rival abadinya, Khaleda Zia, Hasina kembali berkuasa pada 2009 dan bertahan hingga 2024—menjadikannya salah satu pemimpin terlama di Asia Selatan.
Di masa itu, Bangladesh tumbuh pesat: ekonomi melonjak, infrastruktur berkembang, dan Hasina dipuji sebagai arsitek kebangkitan nasional.
Namun, citra elegan masa mudanya makin terkikis oleh tudingan otoritarianisme, pembungkaman oposisi, dan kebijakan represif.
Ia pernah ditangkap pada 2007 karena tuduhan korupsi—bersama Khaleda—dan dibebaskan pada 2008.
Dalam politik Bangladesh yang penuh turbulensi, Hasina tumbuh menjadi pemimpin yang keras, jauh dari kesan lembut seorang mahasiswi yang dulu sering dibicarakan karena kecantikannya.
Kini, setelah didakwa memerintahkan tindakan keras terhadap demonstrasi mahasiswa pada 2024—yang menewaskan ribuan orang—Sheikh Hasina divonis mati dalam sidang in absentia.
Ia kabur ke India, sementara negerinya terbelah antara yang menyebutnya pahlawan pembangunan dan yang menyebutnya pelaku kekerasan negara.
Di tengah kekacauan politik itu, publik Bangladesh kembali menatap foto-foto masa mudanya. Senyum teduh, kebaya sederhana, mata yang memantulkan ambisi dan kebaikan.
Wajah yang jauh berbeda dari citra pemimpin yang digerus krisis, konflik, dan tekanan sejarah.
Sheikh Hasina muda—cantik, penuh harapan, mewarisi karisma bapaknya—kini hanya menjadi potret nostalgia.
Sementara Sheikh Hasina yang divonis mati menjadi gambaran betapa beringasnya sejarah dapat memutar nasib seseorang.
Di antara dua gambaran itu, Bangladesh berdiri di persimpangan: mengingat atau menghakimi; mengenang pesonanya, atau menuliskan ulang kisahnya sebagai tragedi politik terbesar abad ini.
Sumber: Herald