DEMOCRAZY.ID – Dunia internasional kembali diguncang dengan rilis terbaru Departemen Kehakiman AS (DOJ) terkait lebih dari 3 juta halaman berkas kasus Jeffrey Epstein.
Rilis dokumen ini memicu kembali teori konspirasi lama terkait kesaksian model asal Meksiko, Gabriela Rico Jimenez, soal praktik kanibalisme elite global.
Di sisi lain, berkas tersebut juga memicu kegaduhan di Tanah Air karena kata “Indonesia” disebut sebanyak 902 kali, termasuk mencatut nama sejumlah tokoh nasional.
Jeffrey Epstein adalah pengusaha kaya raya asal Amerika Serikat, sekaligus terpidana kasus pelecehan seksual anak yang didakwa pertama kali pada tahun 2006, dan meninggal dunia pada 10 Agustus 2019.
Epstein tewas saat berada dalam tahanan akibat gantung diri ketika usianya 66 tahun.
Nama Epstein begitu besar, sebab kasusnya menjadi pusat dari salah satu skandal kejahatan seksual terbesar di dunia.
Epstein identik dengan jaringan perdagangan seks yang melibatkan anak-anak di bawah umur serta lingkaran pertemanan dengan tokoh-tokoh paling berpengaruh di dunia.
Gabriela Rico Jimenez, seorang wanita asal Meksiko yang menuduh elite global terlibat dalam praktik kanibalisme, kini kembali menjadi sorotan.
Namanya kembali mencuat setelah Departemen Kehakiman AS (DOJ) merilis sejumlah berkas baru terkait mendiang Jeffrey Epstein pada Jumat (30/1/2026).
Mengutip Hindustan Times, salah satu dokumen yang dipublikasikan DOJ tersebut menceritakan tentang sebuah pesta di atas kapal pesiar, yang di dalamnya terdapat tuduhan mengenai orang-orang yang memakan kotoran dari usus.
Dokumen itu juga melayangkan tuduhan terhadap sosok yang disebut sebagai “George Bush 1”.
Pengungkapan tersebut lantas membuat video lama Gabriela Rico Jimenez kembali viral di media sosial.
“Dalam video tersebut, Gabriela Rico Jimenez, seorang model Meksiko berusia 21 tahun, terlihat berada di luar Fiesta Inn di Monterrey, Meksiko, pada 3 Agustus 2009,” tulis seseorang yang membagikan video tersebut.
“Gabriela menghadiri pesta pribadi di hotel tersebut, sebuah acara model elit yang mempertemukan para pengusaha terkemuka, politisi, serta individu yang namanya muncul dalam berkas Jeffrey Epstein” lanjutnya.
“Wanita muda itu mulai berteriak histeris bahwa mereka memakan anak-anak. Ia kemudian diamankan oleh polisi dan menghilang tanpa jejak” imbuhnya.
“Kemarin, bukti yang mendukung klaimnya dirilis dalam kumpulan berkas baru dari Departemen Kehakiman AS, yang disebut membuktikan bahwa Bush melakukan hal tersebut, dan bahkan lebih buruk lagi,” jelas narasi tersebut.
Pengguna lain turut menambahkan, “Apa yang diklaim Gabriela Rico Jimenez yang berusia 21 tahun secara histeris kini dikonfirmasi oleh berkas Epstein! Ia menghilang malam itu selamanya. Siapa yang menghilangkannya?”
Mengutip timesnownews.com, laporan-laporan secara konsisten menyebutkan bahwa Jimenez memang belum terdengar kabarnya sejak 3 Agustus 2009.
Namun, terlepas dari klaim yang beredar, hingga saat ini tidak ada bukti konkret yang menunjukkan bahwa Epstein atau rekan-rekannya memakan bayi atau melakukan praktik kanibalisme.
Selain itu, tidak pernah ada dakwaan resmi terkait kanibalisme yang dijatuhkan terhadap Jeffrey Epstein.
Berdasarkan katalog resmi dokumen Epstein yang dipublikasikan pada Jumat (30/1/2026) waktu setempat, kata kunci “Indonesia” tercatat muncul dalam sedikitnya 902 berkas.
Temuan ini segera memantik rasa ingin tahu publik Tanah Air, sekaligus memunculkan beragam spekulasi di ruang media sosial.
Dokumen-dokumen tersebut merupakan bagian dari arsip perkara Epstein sosok yang selama bertahun-tahun diketahui memiliki relasi luas dengan tokoh-tokoh berpengaruh dari berbagai negara, lintas sektor, dan lintas kepentingan.
Dalam daftar yang dirilis, tercantum sejumlah nama figur publik dari beragam latar belakang. Di antaranya termasuk pejabat serta pengusaha asal Indonesia.
Namun penting digarisbawahi, kemunculan nama-nama tersebut dalam dokumen tidak otomatis menunjukkan adanya keterlibatan langsung dengan Epstein maupun dugaan tindak pidana apa pun.
Hingga saat ini, tidak ditemukan bukti yang mengonfirmasi adanya hubungan personal, relasi bisnis, atau aktivitas ilegal antara Epstein dan pihak-pihak dari Indonesia yang namanya tercatat dalam berkas tersebut.
Sejumlah tokoh Indonesia tercantum dalam Epstein Files, namun mayoritas hanya bersifat administratif dan informatif, tanpa menunjukkan keterlibatan kriminal dengan Jeffrey Epstein.
Hary Tanoesoedibjo disebut dalam dokumen FBI 2020 terkait proyek properti bermerek Trump di Indonesia, transaksi rumah Trump di Beverly Hills, serta pengenalan Trump kepada figur intelijen Indonesia.
Penyebutan ini muncul dalam konteks penyelidikan pengaruh asing, bukan hubungan langsung dengan Epstein.
Eka Tjipta Widjaja tercantum dalam catatan transaksi properti mewah Trump tahun 2009 melalui entitas Swiss. Penyebutan namanya berkaitan dengan jual beli properti, bukan interaksi personal dengan Epstein.
Nama Joko Widodo muncul sebatas kliping dan laporan situasi politik Indonesia, tanpa komunikasi atau hubungan dengan Epstein.
Sementara Sri Mulyani disebut dalam arsip internal World Bank Group tahun 2014 terkait peluncuran President’s Delivery Unit (PDU).
Dokumen ini murni institusional dan tidak berkaitan dengan Epstein.
Soeharto muncul secara tidak langsung dalam dokumen usulan penulisan buku tentang dirinya, tanpa indikasi hubungan personal dengan Epstein.
Adapun Kafrawi Yuliantono disebut sebagai hotelier yang pernah menjajaki kerja sama profesional dengan Epstein, disertai dokumen administratif seperti CV dan visa, tanpa indikasi keterlibatan ilegal.
Sejumlah pengamat hukum internasional menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menafsirkan isi dokumen Epstein.
Menurut mereka, penyebutan nama dalam arsip perkara terutama tanpa konteks utuh tidak dapat dijadikan dasar kesimpulan hukum maupun penilaian moral.
Prinsip praduga tak bersalah harus tetap dikedepankan, terlebih ketika belum ada penjelasan resmi atau klarifikasi dari otoritas berwenang.
Kesimpulan prematur dinilai berpotensi merugikan individu sekaligus menciptakan disinformasi di ruang publik.
Mengutip NDTV, Jeffrey Epstein, seorang pengusaha kaya raya asal Amerika Serikat, pertama kali didakwa atas pelanggaran seksual pada tahun 2006.
Kasus ini bermula setelah orang tua seorang gadis berusia 14 tahun melaporkan kepada polisi bahwa Epstein telah melecehkan putri mereka di rumahnya di Florida.
Namun, Epstein berhasil menghindari dakwaan federal yang dapat membuatnya menghadapi hukuman penjara seumur hidup berkat kesepakatan pembelaan dengan jaksa penuntut umum. Ia akhirnya hanya dipenjara selama 13 bulan.
Pada Juli 2019, Epstein kembali ditangkap di New York dan didakwa memperdagangkan puluhan gadis remaja serta melakukan tindakan seksual dengan mereka sebagai imbalan uang.
Jaksa penuntut menyatakan bahwa Epstein bekerja sama dengan karyawan dan rekan-rekannya untuk memastikan adanya “stok” anak yang cukup untuk dilecehkan.
Meski begitu, Epstein mengaku tidak bersalah atas tuduhan yang dikenakan kepadanya.
Pada 10 Agustus 2019, saat berada dalam tahanan sambil menunggu persidangan, pihak berwenang menyatakan ia ditemukan tewas di sel penjara akibat gantung diri pada usia 66 tahun.
Kasus terpisah terhadap pacar Epstein, Ghislaine Maxwell, yang dipenjara pada tahun 2022 karena membantunya melakukan pelecehan, merinci hubungan Epstein dengan tokoh-tokoh terkenal seperti Pangeran Andrew dari Inggris dan mantan Presiden AS Bill Clinton. Keduanya sendiri telah membantah melakukan kesalahan apa pun.
Sebagian orang percaya bahwa pihak berwenang menyembunyikan detail tentang kasus Epstein untuk melindungi elite global dan tokoh berkuasa yang terkait dengannya, termasuk Donald Trump.
Salah satu teori konspirasi utama yang muncul adalah rumor tentang “daftar klien” yang diduga melakukan pelanggaran seksual bersama Epstein, meskipun pemerintahan Trump bersikeras bahwa tidak ada daftar semacam itu.
Para skeptis juga mencurigai adanya kejanggalan dalam kematian Epstein, seperti kamera keamanan di sekitar selnya yang dilaporkan mengalami kerusakan pada malam kematiannya.
Istilah Epstein Files atau Berkas Epstein merujuk pada kumpulan lebih dari 6 juta halaman dokumen, gambar, dan video yang merinci aktivitas kriminal Jeffrey Epstein serta lingkaran sosialnya yang terdiri dari tokoh-tokoh publik, termasuk politisi dan selebritas.
Selama kampanye presidennya pada tahun 2024, Donald Trump sempat membual akan merilis Berkas Epstein, namun ia kemudian menyatakan bahwa berkas tersebut merupakan rekayasa anggota Partai Demokrat.
Mengutip NBC News, pada 18 November 2025, Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mengesahkan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein dengan suara 427–1.
Senat Amerika Serikat menyetujuinya secara bulat, dan Trump menandatangani RUU tersebut pada hari berikutnya.
Departemen Kehakiman AS kemudian merilis sebagian kecil Berkas Epstein sesuai tenggat waktu undang-undang pada 19 Desember 2025.
Terbaru, pada 30 Januari 2026, tambahan 3 juta halaman dirilis, termasuk 2.000 video dan 180.000 gambar.
Mengutip Reuters, meskipun Departemen Kehakiman mengakui total 6 juta halaman mungkin memenuhi syarat sebagai berkas yang harus dirilis berdasarkan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein, mereka menyatakan rilis pada 30 Januari merupakan yang terakhir dan kewajiban hukum mereka telah dipenuhi.
Semua file tersebut kini bisa diakses secara publik di situs https://www.justice.gov/epstein.
Sumber: Tribun