Siklus “Viral Dulu Baru Minta Maaf”: Kenapa Netizen +62 Gampang Banget Disetir Algoritma?

Di Balik Panggung Siklus Viral: Mengapa Emosi Netizen Jadi ‘Bahan Bakar’ Termahal Algoritma?

Jujur deh, berapa kali dalam sehari lo buka HP, niatnya cuma mau cek jam, eh malah berakhir scrolling TikTok atau Reels selama dua jam? Gue yakin sering banget.

Di tengah lautan konten itu, kita hidup di era yang aneh banget. Era di mana sebuah video berdurasi 30 detik bisa bikin satu negara geger. Mulai dari pejabat yang pamer gaya hidup hedon padahal rakyatnya lagi susah, influencer yang bikin konten “bagi-bagi rejeki” tapi ternyata cuma settingan demi adsense, sampai kelakuan ajaib warga +62 di jalan raya.

Situs ini namanya Democrazy, dan emang bener, demokrasi kita kadang rasanya kayak sirkus yang gila. Tapi yang lebih gila lagi adalah bagaimana kita, para penonton sirkus ini, bereaksi terhadap tontonan tersebut.

Kita kayak terjebak dalam sebuah siklus yang nggak berujung. Siklus yang gue sebut: “Viral – Hujat – Klarifikasi – Lupa”. Dan parahnya, kita menikmati siklus ini.

snaptik.fit

Anatomi Kemarahan Online

Coba perhatiin pola yang selalu terjadi di FYP (For You Page) kita. Algoritma media sosial itu pinter, tapi juga jahat. Mereka tahu kalau konten yang paling cepet nyebar itu bukan konten yang bikin damai, tapi konten yang bikin emosi.

Entah itu emosi marah, jijik, atau sekadar perasaan “ih kok ada ya orang sebodoh ini?”.

Ketika ada satu video viral—misalnya anak pejabat yang arogan di jalan—jempol kita tuh gatel banget buat ikut nimbrung di kolom komentar. Kita merasa punya kewajiban moral untuk “merujak” si pelaku. Rasanya puas banget kalau komentar pedas kita dapet ribuan likes. Kita merasa jadi pahlawan keadilan digital.

Tapi, benarkah kita peduli sama isunya? Atau kita cuma lagi nyari pelampiasan stres harian aja?

snaptik.fit

Panggung Sandiwara Bernama “Klarifikasi”

Nah, setelah fase hujat-menghujat mencapai puncaknya, masuklah kita ke babak kedua: Video Klarifikasi dan Permintaan Maaf.

Ini udah kayak template wajib. Si pelaku bakal muncul dengan muka paling melas sedunia (kadang bajunya tiba-tiba jadi lebih religius dari biasanya), duduk di sofa, ngomongnya pelan-pelan, terus baca teks permintaan maaf yang kayaknya ditulis sama tim manajemen krisis.

“Saya khilaf…”, “Saya tidak bermaksud…”, “Ini pelajaran berharga bagi saya…”. Halah, basi.

Tapi ajaibnya, setelah video klarifikasi itu muncul, tensi netizen biasanya langsung turun. Ada yang masih hujat, tapi banyak juga yang mulai bilang, “Ya udahlah, yang penting udah minta maaf,” atau “Semoga jadi pelajaran ya, Kak.”

Dan poof! Seminggu kemudian, kita udah lupa sama kasusnya. Kenapa? Karena algoritma udah nyodorin kasus baru yang lebih segar untuk kita hujat lagi.

snaptik.fit

Pentingnya “Menyimpan Barang Bukti”

Masalah terbesar dari siklus ini adalah kita jadi bangsa pemarah yang pelupa. Kita gampang banget digiring ke sana ke mari oleh isu yang umurnya cuma semalam.

Di sinilah bahayanya. Banyak pihak-pihak “nakal”—entah itu politisi korup atau public figure bermasalah—yang sadar sama kelemahan kita ini. Mereka tahu, kalau mereka bikin kesalahan fatal, mereka cuma perlu nunggu badai reda. Mereka tinggal take down atau hapus video buktinya, bikin klarifikasi palsu, dan berharap netizen lupa.

Dan seringkali, mereka berhasil.

Makanya, di era digital yang serba cepat hilang ini, kemampuan untuk “menyimpan bukti” itu jadi krusial banget. Kita nggak bisa cuma ngandelin ingatan kolektif yang gampang banget ke-distract sama gosip artis terbaru.

Sering kan kejadian, ada video blunder fatal dari seorang tokoh, pas mau kita tunjukin ke temen buat bahan diskusi, eh videonya udah dihapus sama pemilik akun atau di-banned sama platformnya. Hilang deh jejak digital kebodohan itu.

snaptik.fit

Ini salah satu alasan kenapa gue pribadi agak obsesif buat nyimpenin video-video penting (atau konyol) yang lewat di timeline. Bukan cuma buat konsumsi pribadi, tapi sebagai arsip digital.

Kalau lo nemu video di TikTok yang menurut lo penting—entah itu janji manis politisi yang mustahil ditepati, atau bukti kelakuan absurd yang harus diingat—mending langsung amankan. Gue biasanya pakai tools simpel kayak TikTok Downloader dari Snaptik. Gampang banget, tinggal copy link, download, dan lo punya videonya bersih tanpa watermark yang ngeganggu.

Kenapa tanpa watermark itu penting? Biar kalau suatu saat lo perlu re-upload buat “mengingatkan” publik soal kasus itu, videonya terlihat bersih dan otentik. Anggap aja ini cara kita merawat ingatan sebagai warga negara di tengah gempuran informasi sampah.

snaptik.fit

Kesimpulan: Jangan Cuma Jadi Buih di Lautan Algoritma

Balik lagi ke soal demokrasi yang “crazy” ini. Kalau kita cuma reaktif sama apa yang disodorin di depan muka kita tiap hari, kita nggak akan pernah jadi masyarakat yang kritis beneran. Kita cuma jadi komoditas. Amarah kita itu cuma traffic dan cuan buat si pemilik platform.

Yuk ah, mulai sekarang agak pinteran dikit jadi netizen. Kalau ada yang viral, tarik napas dulu sebelum ngetik komen. Pikirin, “Ini gue lagi dimainin emosinya nggak sih?”. Dan kalau ada sesuatu yang penting, simpen buktinya sebelum dihapus.

Jangan sampai kita cuma jadi generasi yang jago marah-marah di kolom komentar, tapi gampang banget lupa sama akar masalahnya. Stay cynical, stay sane!

Artikel terkait lainnya