Sepak Terjang Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto: Mosi Tidak Percaya Rektor, Surat UNICEF Berbuntut Teror

DEMOCRAZY.ID – Sepak terjang Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Tiyo Ardianto, salah satu figur mahasiswa yang cukup menonjol belakangan ini karena sikap kritisnya terhadap kebijakan pemerintah, terutama di era Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto.

Tiyo tengah jadi sorotan setelah mendapat ancaman teror seusai menyuarakan kasus siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis.

Seusai kasus tersebut, BEM UGM surat resmi ke UNICEF untuk menyampaikan pesan ini ke Prabowo.

Bukan kali ini saja Tiyo jadi sorotan, tetapi sikap kritisnya terhadap pemerintah sudah beberapa kali mencuat sejak pertengahan 2025 lalu.

1. Layangkan Mosi Tidak Percaya ke Rektor UGM

Pada Mei 2025, Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) melayangkan mosi tidak percaya kepada sang rektor, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D.

Sikap mosi tidak percaya yang dilayangkan BEM UGM mencuat di tengah dinamika politik saat ini, termasuk bergulirnya polemik keaslian ijazah milik Mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Sikap tersebut diambil karena para mahasiswa malu melihat “Kampus Kerakyatan” hanyalah slogan.

Ketua BEM KM UGM Tiyo Ardianto mengatakan, para mahasiswa hanya ingin mengembalikan marwah UGM sebagai Kampus Kerakyatan.

Kampus Kerakyatan harus berpihak semata-mata demi kepentingan rakyat dan bukan kepentingan penguasa.

“Mosi tidak percaya ke rektor ini kami layangkan karena kekecewaan kami yang mendalam, betapa Kampus Kerakyatan ternyata hanya slogan. Mengingat 27 Mei merupakan hari ketika Rektor dilantik sejak 2022, mosi tidak percaya ini sekaligus hadiah peringatan 3 tahun Rektor menjabat,” ujar Tiyo saat dikonfirmasi, Sabtu (24/5/2025) malam.

Tiyo mengatakan, UGM telah berperan membesarkan kekuasaan Mantan Presiden RI Joko Widodo.

Joko Widodo dinilai telah membentuk rezim pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.

“UGM mestinya turut bertanggung jawab dengan menegaskan keberpihakannya,” tambah Tiyo.

Tiyo menambahkan, UGM tidak tegas dalam menyikapi dinamika politik nasional saat ini.

BEM KM UGM juga menuntut kampus untuk menyatakan mosi tidak percaya kepada pemerintah.

“Kami tidak akan mencabut mosi ini sampai Rektor menyatakan Mosi Tidak Percaya sebagai bukti keberpihakannya kepada Rakyat atau sesuatu yang setara dengannya,” tambah Tiyo.

Tiyo mengatakan, Rektor UGM perlu mengevaluasi total kepemimpinannya apakah sejalan dengan nilai-nilai Universitas Gadjah Mada, terutama pada bagaimana UGM memosisikan diri di tengah realitas politik yang begitu problematik.

“Keberpihakan UGM kepada Rakyat itu harga yang tidak bisa ditawar dan tidak bisa dikaburkan dengan dalih bahwa UGM sering menggelar diskusi kritis tentang pemerintah sebagaimana yang diucapkan pada forum terbuka,” kata Tiyo.

2. Pernah Viral Usai Bentangkan Poster #Bebaskan Kawan Kami

Pada awal Juli 2025, Tiyo Ardianto membentangkan poster bertuliskan #BebaskanKawanKami di hadapan Komisi III DPR RI dan Kapolda DIY.

Aksi itu merupakan bentuk tuntutan Tiyo dan teman-temannya untuk membebaskan sejumlah mahasiswa yang ditangkap dalam aksi May Day di Jakarta dan Semarang pada Mei 2025.

“Hal ini menodai semangat demokrasi, menodai marwah demokrasi. Sampai hari ini, dari Komisi III tidak ada satupun komentar, tidak ada satupun keprihatinan, selama dua bulan terakhir ini,” kata Tiyo di hadapan Komisi III DPR RI dan Kapolda DIY, Rabu (2/7/2025), dikutip dari video Kompas.com.

“Sementara kalau bicara tugas aparat kepolisian yang dicatat selama setahun terakhir, sudah ada 600 kasus kekerasan, tetapi Komisi III hanya diam dan tidak memberi komentar, tidak ada pembelaan thd massa aksi.”

“Ini merupakan keprihatinan kami dan bagi kami omong kosong kita bicara hukum, ketika hukum tidak memberi keadilan,” imbuh dia.

3. Anak SD Bunuh Diri di NTT, BEM UGM yang Dipimpin Tiyo Surati UNICEF dan Kritik Keras Prabowo

Pada Jumat (6/2/2026) lalu, Tiyo Ardiyanto mengunggah surat yang dikirimkan oleh BEM UGM kepada UNICEF (United Nation Children’s Fund), sebuah lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan untuk melindungi hak-hak setiap anak, terutama yang paling rentan, di lebih dari 190 negara.

Surat dengan bahasa Inggris dan tertanggal Kamis, 5 Februari 2026 serta ditujukan kepada Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell tersebut diunggah di akun Instagram pribadi milik Tiyo.

Surat ini juga berisi kritikan keras terhadap pemerintah Indonesia, buntut kasus tewasnya siswa kelas IV SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) berinisial YBS yang diduga bunuh diri di dekat sebuah pondok tempat almarhum tinggal bersama sang nenek.

Dalam suratnya, Tiyo mengawali dengan kalimat: “What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”

Yang artinya: “Dunia macam apa yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena dia tidak mampu membeli pena dan buku?”

Menurut Tiyo, peristiwa tewasnya YBS adalah tragedi kemanusiaan yang tidak seharusnya terjadi.

Tiyo menilai, tragedi tersebut bukanlah takdir maupun insiden terisolasi, melainkan hasil dari kegagalan sistemik.

Ia menekankan, hak setiap anak untuk mendapat akses pendidikan dijamin oleh Undang-undang 1945 dan sejalan dengan Pasal 28 dalam Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak.

Namun, menurutnya, kebijakan Presiden RI Prabowo Subianto tidak memihak hal tersebut, dan kasus YBS adalah bukti kegagalan negara untuk melindungi warga yang paling rentan.

Tiyo juga menyebut, akar dari kasus tewasnya YBS disebabkan oleh sikap egoisme politik Prabowo.

Tiyo mendesak UNICEF untuk meningkatkan perannya di Indonesia dalam mengadvokasi perlindungan anak yang lebih kuat, menjamin anggaran pendidikan, dan mencegah kematian yang seharusnya bisa dihindari akibat kegagalan kebijakan.

Namun, beberapa hari setelah surat untuk UNICEF ini diunggah, Tiyo Ardianto mengaku mengalami sederet aksi teror, seperti ancaman penculikan lewat pesan teks, penguntitan, hingga dipotret diam-diam pada periode 9-11 Februari 2026.

Mahasiswa Jurusan Filsafat UGM angkatan 2021 itu mengungkap, dirinya mendapat ancaman penculikan melalui sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” kata Tiyo kepada Kompas.com, Jumat (13/2/2026).

Lalu, ia juga mengaku sempat dikuntit oleh dua orang tak dikenal saat sedang berada di sebuah kedai pada Rabu (11/2/2026).

Menurutnya, kedua penguntit tersebut adalah laki-laki dewasa dengan postur tubuh tegap.

Tak hanya dikuntit, Tiyo juga menduga dirinya dipotret diam-diam.

“Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda,” ujar Tiyo.

Tiyo menjelaskan, dua orang yang diduga menguntit dirinya itu sempat dikejar, tetapi akhirnya menghilang.

“Dua pria yang tidak dikenal itu ketika kami kejar menghilang,” ujarnya.

Menurut Tiyo, kemungkinan kritik dan suara yang ia sampaikan dan tersebar di media sosial terkait kasus anak bunuh diri di NTT membuat pihak tertentu tersinggung.

“Apa yang saya suarakan di berbagai media mungkin ada yang tersinggung,” ucapnya.

Tiyo juga menyebut, dirinya melakukan komunikasi langsung dengan pihak kampus maupun aparat, saat ditanya mengenai tanggapan kedua pihak itu terkait aksi teror yang dialaminya.

“Saya juga tidak berkomunikasi langsung dengan kampus dan aparat soal ini,” papar Tiyo.

“Saya akan Terus Baik-baik Saja”

Pada Kamis (12/2/2026), Tiyo mengunggah tangkap layar artikel berita online yang bertajuk Ketua BEM UGM Diteror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT dalam akun pribadi media sosial Instagramnya

Dalam unggahannya itu, ia menegaskan bahwa dirinya tidak takut maupun gentar dalam menghadapi berbagai ancaman teror.

Tiyo juga berterima kasih atas dukungan dari masyarakat Indonesia dan meyakinkan bahwa dirinya akan terus baik-baik saja.

Berikut unggahan Tiyo:

Saya dan BEM UGM tidak akan takut apalagi gentar. Selama terus lahir orang-orang waras di Republik ini, selama itulah penguasa yg zalim tidak akan hidup tenang. Terima kasih untuk Rakyat Indonesia, berkat cahaya doa Anda semua, saya masih baik-baik saja.

Saya akan terus baik-baik saja.

4. Protes MBG

Tiyo juga kembali viral setelah videonya berorasi di Bundaran UGM pada Jumat (13/2/2026) beredar di dunia maya.

Dalam orasinya, Tiyo mengenakan kaus warna hitam dengan tulisan besar yang berbunyi Maling Berkedok Gizi, salah satu bentuk protes terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia pun mempertanyakan besarnya anggaran untuk program MBG, sedangkan penerimanya dinilai tidak tepat sasaran.

“Total MBG itu kawan-kawan, Rp335 triliun [pada] 2026. Itu artinya, setiap hari Rp1,2 triliun uang kita dirampok untuk MBG. Apakah 82 juta anak-anak Indonesia itu butuh MBG?” kata Tiyo.

“BPS sendiri mengatakan bahwa kemiskinan kita kurang dari 10 persen, meskipun ukuran kemiskinannya adalah sehari keluar Rp25.000.”

“Tapi, kalau kita pakai logika yang sama, harusnya yang mendapat MBG bukan semua anak-anak, tapi hanya 9 persen anak-anak.”

Lantas, Tiyo juga menegaskan bahwa MBG bersifat proyek yang bagi-bagi keuntungan untuk pihak-pihak tertentu saja yang bisa mendirikan SPPG (Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi).

“Tapi, kenapa 82 juta anak-anak harus dipaksa makan MBG? Karena, proyek! Satu SPPG, owner-nya, yang punya yayasannya, itu bisa punya revenue per bulan Rp100-125 juta,” ujar Tiyo.

“Yang bisa punya SPPG itu bukan melalui mekanisme yang demokratis, tapi yang dekatlah yang dapat, yang dekat sama bupati, walikota, DPRD, dan seterusnya, termasuk hari ini polisi menerima 1.000 SPPG.”

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya