Sejarawan Israel: Yahudi Bukan Bangsa, Tidak Berhak Punya Negara!

Sejarawan Israel: Yahudi Bukan Bangsa, Tidak Berhak Punya Negara!

Oleh: Fatih Madini

Sejarawan Israel Ilan Pappe, dalam bukunya “Ten Myths About Israel”, menulis bahwa salah satu mitos yang diciptakan Zionis-Israel untuk membenarkan penjajahannya atas palestina adalah “Bangsa Yahudi, Bangsa Tanpa Tanah Air” (The Jews were a People Without a Land).

Narasi Zionis bahwa bangsa Yahudi butuh negara sendiri, berangkat dari keyakinan mereka bahwa Yahudi bukan sekadar agama, tapi juga bangsa. Bagi Pappe, ini letak masalahnya. “Apakah para pemukim Yahudi itu suatu bangsa?” sindirnya.

Pappe merujuk buku yang paling komprehensif dalam mengkritisi soal ini, yakni The Invention of the Jewish People karya Shlomo Sand. Dalam buku itu terkuak fakta bahwa gagasan Yahudi adalah sebuah bangsa (a nation) yang butuh negara, pada awalnya, tidak pernah dicetuskan oleh orang-orang yahudi.

Narasi itu, kata Sand pertama kali digembar-gemborkan oleh para pemuka agama Kristen fundamentalis—khususnya dari kalangan Protestan—atau yang sering Pappe sebut sebagai “Zionis Kristen”.

Mitos itu sudah muncul sekitar abad ke-16, jauh sebelum Zionis Yahudi yang diprakarsai oleh Theodor Herzl muncul sekitar abad ke-19.

“Sand menunjukkan bahwa dunia Kristen—demi kepentingannya sendiri pada saat tertentu di sejarah modern—mendukung gagasan bahwa Yahudi adalah sebuah bangsa (as a nation) yang suatu saat harus kembali ke tanah suci… menjadi bagian dari rencana ilahi di akhir zaman, bersamaan dengan kebangkitan orang mati dan kedatangan Almasih kedua kalinya,” jelas Pappe.

Para tokoh Kristen itu selalu berkutat pada narasi yang sama: Yahudi adalah sebuah bangsa yang membutuhkan negara sendiri, dan Palestina adalah tempatnya karena itu adalah tanah yang dijanjikan Tuhan atas mereka.

Charles-Joseph, seorang field marshal Austria-Hungaria sampai mengatakan, bangsa Yahudi mustahil ber-asimilasi dengan bangsa Eropa. “… solusi paling sederhana adalah mengembalikan mereka ke tanah air mereka, yaitu tempat asal mereka diusir,” ucapnya.

Para Kristen fundamentalis yang banyak memegang posisi penting di pemerintahan, berhasil mengubah keyakinan yang awalnya tampak religius itu menjadi program kolonisasi. Dan ini nyata muncul di Inggris Era Victoria, awal 1820-an.

Jadi memang, “Zionisme merupakan ide kolonisasi dari kalangan Kristen sebelum menjadi proyek Yahudi,” jelas Pappe.

Bedanya, kepentingan pihak Kristen bersifat teologis (kedatangan Almasih), sedangkan Yahudi, bersifat sekular dan pragmatis (butuh negara).

Amerika Serikat dan Inggris, adalah dua negara yang paling “berjasa” dalam meyakinkan dunia bahwa bangsa Yahudi punya hak atas tanah Palestina.

Mereka menggunakan ayat-ayat Bible untuk membangun dua klaim: 1) Teologis, bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan (the promised land) kepada bangsa Yahudi pilihan Tuhan (the choosen people); 2) Historis, bahwa bangsa Yahudi adalah penghuni pertama Palestina.

Salah satu provokator paling menonjol di antara mereka adalah Lord Shaftesbury (1801-1885), seorang politisi dan reformis terkemuka asal Inggris.

Ia sosok awal yang menyetir pemerintah Inggris untuk membantu bangsa Yahudi memperoleh tanah Palestina melalui penjajahan, menggunakan argumen teologis dan politis.

“Orang-orang Yahudi harus didorong untuk kembali dalam jumlah yang lebih besar dan sekali lagi menjadi pemukim di Yudea dan Galilea… (mereka) tidak hanya layak untuk diselamatkan, tetapi juga penting bagi harapan keselamatan umat Kristen,” tulis Shaftesbury dalam artikel 30 halamannya berjudul “State and Restauration (sic) of the Jews”.

Argumen politis digunakan untuk meyakinkan ayah mertuanya, menteri luar negeri Inggris yang kemudian menjadi perdana menteri, Lord Palmerston. Salah satu isi lobinya adalah “orang-orang Yahudi dapat berguna dalam upaya meruntuhkan Kesultanan Utsmani.”

Sultan Utsmani pun coba dilobi menggunakan tiga narasi: teologi Kristen, merebaknya isu anti-semitisme di Eropa, dan kekayaan bangsa Yahudi yang bisa menguntungkan Utsmani.

Tak tanggung-tanggung, pada 1838, Konsulat Inggris dibuka di Yerusalem dengan misi “mendorong orang-orang Yahudi secara informal agar datang ke Palestina.” James Finn adalah pejabat awal yang berjasa besar menyukseskan misi itu, selama 18 tahun.

Pappe menjelaskan, munculnya ketertarikan gerakan Templers (Serikat Haikal) terhadap Palestina sekitar tahun 1960-an, turut menjadi penghubung kuat antara Zionis Kristen dengan Zionisme Herzl.

Kaum Lutheran asal Jerman itu punya keyakinan yang sama dengan Zionis Kristen. Pietisme diterjemahkan menjadi kolonialisme pemukim (settler colonialism) di Palestina.

Usai ditentang banyak pihak, mereka menggunakan strategi “The Quiet Crusade”, kolonisasi senyap dengan menetap dan mendirikan banyak koloni di Palestina.

Proyek imperialisme berjubah agama itu kemudian dilanjutkan, dikuatkan, disistematisasikan oleh Zionisme politik yang diprakarsai oleh Theodor Herzl.

Ia adalah “gerakan yang menyatakan bahwa masalah-masalah seputar Yahudi di eropa akan dapat selesai dengan menjajah Palestina dan mendirikan sebuah negara Yahudi di sana.”

“Melalui upaya Herzl dan para pemimpin Yahudi yang berpikiran serupa, Zionisme menjadi sebuah gerakan sosial yang diakui secara internasional,” jelas Pappe.

Atas kerja keras mereka, pada 1882-1904 dan 1905-1914, dua gelombang imigrasi Yahudi ke Palestina terjadi dalam skala besar. “… mayoritas lebih memilih untuk menetap di kota-kota Palestina… mengolah tanah yang mereka beli dari orang-orang Palestina dan tuan tanah Arab yang tidak tinggal di Palestina,” jelas Pappe.

Saat rakyat dan mufti Palestina mulai menyadari adanya motif penjajahan di balik gelombang imigrasi Yahudi itu, Zionis segera bekerja sama dengan pemerintah Inggris.

Motivasi teologis dan politis berhasil menciptakan aliansi kuat yang mengubah sudut pandang antisemit: dari imigrasi menjadi proyek kolonialisme pemukim yang mengorbankan penduduk asli Palestina.

“Aliansi ini diketahui publik dengan diproklamasikannya Deklarasi Balfour pada 2 November 1917… yang menjanjikan dukungan penuh bagi pendirian tanah air Yahudi di Palestina,” ucap Pappe.

Selain Shlomo Sand—melalui dua bukunya The Invention of the Jewish People dan The Invention of the Land of Israel—sudah banyak teolog dan sejarawan Yahudi yang meragukan wujud kebangsaan Yahudi pada masa Alkitab,membantah adanya hubungan genetik antara Yahudi Palestina pada zaman Romawi 2000 tahun lalu dan Yahudi di Israel saat ini, dan menolak Alkitab sebagai sebuah catatan faktual yang punya arti penting.

Pappe menghargai upaya itu. “Tapi secara politis saya pikir upaya ini kurang signifikan dibandingkan dengan asumsi yang menyangkal eksistensi bangsa Palestina,” ucapnya.

Baginya, yang lebih pelik bukan kemunculan narasi asal-usul Yahudi, tapi ketika narasi itu “mengarah pada kelaliman politik seperti genosida, pembersihan etnis dan penindasan.”

Ia mengingatkan, yang lebih penting disoroti bukan keakuratan historis klaim-klaim Zionis, melainkan “kengototan negara Israel bahwa mereka mewakili semua bangsa Yahudi di dunia dan segala tindakan mereka dilakukan demi bangsa Yahudi.”

Begitulah bantahan Pappe atas mitos Israel ini: narasi umat Yahudi sebagai sebuah bangsa yang butuh dan berhak punya negara di Palestina, dikarang oleh kalangan Kristen, dan Zionis hanya memanfaatkan itu—bahwa Yahudi adalah bangsa asal Palestina—demi ambisi pragmatisnya dengan bergantung kepada pemerintah dan militer Inggris.

Nahasnya, kini, mitos itu masih digembar-gemborkan oleh Zionis Kristen, khususnya yang memegang jabatan di pemerintahan Amerika Serikat. Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee, misalnya.

Pada Jumat (20/2/26), ia mengatakan dalam acara The Tucker Carlson Show bahwa Israel berhak merebut seluruh wilayah antara Sungai Efrat dan Nil. Wilayah itu mencakup Mesir, Suriah, Lebanon, Irak, Yordania, dan Palestina. Pernyataannya merujuk kepada proyek “Israel Raya” (The Greater Israel).

Tucker, selaku pewawancara, sempat heran dan bertanya, “What does that mean? Does Israel have the right to that land? Because you’re appealing to Genesis, you’re saying that’s the original deed.” Tanpa pikir panjang, Huckbee menjawab, “It would be fine if they took it all” (Tidak masalah jika mereka mengambilnya seluruhnya).

Padahal, kata Pappe, “Orang-orang Yahudi dan dunia pada umumnya, tampak tidak yakin bahwa uat Yahudi adalah bangsa tanpa tanah air.”

Sumber: MediaDakwah

Artikel terkait lainnya