Sebut Khamenei Orang Paling Jahat Dalam Sejarah, Trump Ngaku Punya 3 Nama Kandidat Supreme Leader Iran

DEMOCRAZY.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya telah mengantongi tiga nama yang menurutnya cocok untuk memimpin Iran, menggantikan Ayatollah Ali Khamenei yang wafat dalam serangan gabungan AS dan Israel.

Trump, saat berbicara kepada media terkemuka AS, New York Times (NYT), seperti dilansir Gulf News, Senin (2/3/2026), mengisyaratkan soal “opsi kepemimpinan” untuk Iran, ketika AS dan Israel membombardir Teheran dan wilayah-wilayah Iran lainnya sejak Sabtu (28/2) waktu setempat.

Trump mengatakan kepada NYT pada Minggu (1/3), bahwa dirinya telah memiliki “tiga pilihan yang sangat bagus” untuk memimpin Iran, setelah wafatnya Khamenei yang memimpin negara itu selama 36 tahun terakhir.

Namun demikian, Trump belum bersedia untuk mengungkapkan ketiga nama itu ke publik.

“Saya tidak akan mengungkapkannya sekarang. Mari kita selesaikan pekerjaan ini dulu,” kata Trump kepada NYT.

Trump mengumumkan kematian Khamenei dalam pernyataan via media sosial Truth Social pada Sabtu (28/2) waktu AS, setelah AS dan Israel melancarkan gelombang serangan terkoordinasi terhadap banyak target di wilayah Iran.

“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas,” kata Trump dalam pernyataannya.

“Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi semua warga Amerika yang hebat, dan orang-orang dari banyak negara di seluruh dunia, yang telah dibunuh atau dimutilasi oleh Khamenei dan geng premannya yang haus darah,” kata Presiden AS itu.

Tak lama setelah pernyataan Trump, otoritas Iran mengkonfirmasi wafatnya Khamenei, pemimpin tertinggi mereka, akibat serangan AS-Israel.

Teheran juga mengumumkan masa berkabung selama 40 hari untuk mendiang Khamenei.

Terlepas dari pernyataan itu, Iran sendiri diperkirakan sedang dalam proses mencari pengganti mendiang Khamenei.

Majelis Pakar, badan terpilih yang terdiri dari 88 ulama senior, akan memilih siapa yang menjadi penerus Khamenei.

Sejumlah nama muncul sebagai kandidat pengganti Khamenei, yakni Mojtaba Khamenei (56) yang merupakan putra kedua Khamenei; Alireza Arafi (67), ulama terkemuka dan orang kepercayaan Khamenei; Mohammad Mehdi Mirbagheri (60), ulama garis keras dan anggota Majelis Pakar; Hassan Khomeini (50), cucu dari pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini; dan Hashem Hosseini Bushehri (60), ulama senior yang dekat dengan Khamenei.

Surati PBB, Iran Ancam Konsekuensi Luas Atas Kematian Khamenei

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengirimkan surat kepada Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan para anggota Dewan Keamanan PBB, menyusul wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei dalam serangan Amerika Serikat dan Israel.

Dia mengancam “konsekuensi yang mendalam dan luas” bagi mereka yang bertanggung jawab.

Dalam surat yang dikirim pada hari Senin (2/3), Menlu Iran itu menekankan kedudukan Khamenei dan skala serangan yang menargetkan pemimpin tertinggi Iran tersebut.

“Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, bukan hanya otoritas resmi tertinggi negara, tetapi juga tokoh agama yang dihormati oleh puluhan juta umat Muslim di seluruh kawasan dan dunia,” tulis Araghchi dalam surat tersebut, dilansir media Iran, Press TV, Senin (2/3/2026).

“Serangan seperti itu akan memiliki konsekuensi yang mendalam dan luas, yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab para pelakunya,” tegasnya.

Araghchi menggarisbawahi sifat “mengerikan dan kriminal” dari kekejaman yang “dilakukan terhadap bangsa besar Iran.”

Ia menekankan bahwa Israel dan AS telah menargetkan Republik Islam itu dalam “serangkaian tindakan agresif, terencana, dan sama sekali tidak dapat dibenarkan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial” bangsa tersebut.

Menurut pejabat Iran tersebut, agresi yang ditujukan terhadap Pemimpin Tertinggi menunjukkan bahwa sekutu “dengan sengaja menargetkan otoritas resmi tertinggi dari Negara Anggota PBB yang independen.”

Menyebut serangan itu sebagai “tindakan teroris pengecut,” Araghchi mengatakan bahwa serangan itu dilakukan “dengan pelanggaran terang-terangan terhadap Pasal 2(4) Piagam PBB dan merupakan serangan langsung terhadap prinsip-prinsip paling mendasar dari hukum internasional, termasuk larangan penggunaan kekerasan, prinsip kesetaraan kedaulatan negara, dan kekebalan kepala negara.”

Ia berpendapat bahwa tindakan tersebut “menetapkan preseden berbahaya yang menyerang norma-norma inti yang mengatur kedaulatan negara dan perilaku beradab antar bangsa.”

Kepala negara, tegas Araghchi, “tidak dapat diganggu gugat, harus dihormati, dan kebal, sebuah prinsip yang penting untuk pelaksanaan tugas resmi mereka secara independen.”

Oleh karena itu, serangan yang disengaja terhadap pejabat tertinggi Iran merupakan pelanggaran berat dan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap norma-norma paling mendasar yang mengatur hubungan antar negara,” tegas Menlu Iran tersebut.

Sumber: Detik

Artikel terkait lainnya