DEMOCRAZY.ID – Kematian mendadak ikon grunge serta vokalis Nirvana, Kurt Cobain kembali menjadi sorotan setelah tim forensik independen merilis analisis baru.
Rilisan terbaru tersebut menantang kesimpulan lama bahwa sang musisi mengakhiri hidupnya sendiri.
Diketahui Kurt Cobain ditemukan meninggal pada April 1994 di usia 27 tahun.
Ia dinyatakan meninggal akibat luka tembak yang dilakukan sendiri di kediamannya di Seattle, Amerika Serikat (AS), di tengah riwayat depresi dan penyalahgunaan narkoba.
Namun sejak lama, berbagai teori alternatif terus bermunculan, termasuk dugaan surat bunuh diri yang dipalsukan dan spekulasi seputar kehidupan pribadinya.
Dokumenter Kurt & Courtney (1998) bahkan sempat mengangkat kemungkinan bahwa kematiannya bukan murni bunuh diri, mengutip Euro News, Kamis (12/2/2026).
Kini, laporan forensik terbaru yang telah melalui proses telaah sejawat mengklaim ada kejanggalan signifikan.
Tim peneliti menyebut adanya indikasi Cobain mungkin terlebih dahulu dipaksa mengalami overdosis heroin hingga tak berdaya, sebelum akhirnya ditembak.
Mereka juga mempertanyakan posisi senapan yang ditemukan di tangannya, yang diduga telah ditempatkan setelah kematian.
Peneliti independen Michelle Wilkins menyampaikan bahwa kajian ulang terhadap hasil otopsi menunjukkan tanda-tanda kerusakan organ akibat kekurangan oksigen.
Hal ini menurut mereka lebih konsisten dengan overdosis daripada kematian instan akibat tembakan senapan.
Selain itu, kondisi tempat kejadian perkara disebut terlalu “bersih” untuk kasus bunuh diri dengan senjata api.
Termasuk minimnya percikan darah di tangan Cobain.
Tim tersebut juga menyoroti perlengkapan heroin yang ditemukan tersusun rapi.
Hal ini sesuatu yang dinilai janggal bila dilakukan oleh seseorang dengan kadar narkotika sangat tinggi dalam tubuhnya.
Temuan-temuan ini kembali memicu perdebatan lama mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada hari-hari terakhir kehidupan sang legenda musik.
Pada tanggal 5 April 1994, sebelum pukul 9 pagi, tubuh Kurt Cobain ditemukan di rumah kaca di atas garasi rumahnya di Seattle.
Di dadanya tergeletak senapan laras ganda kaliber 20 yang disinyalir digunakan penyanyi, gitaris, dan penulis lagu berusia 27 tahun itu untuk mengakhiri hidupnya.
Cobain telah menghilang selama enam hari, sebelumnya, masih mengutip Majalah Rolling Stones.
Seorang teknisi listrik yang memasang sistem keamanan di rumah tersebut menemukan Cobain dalam keadaan meninggal.
Meskipun polisi, sebuah firma investigasi swasta, dan teman-temannya sedang menyelidiki, tubuhnya telah tergeletak di sana selama dua setengah hari, menurut laporan pemeriksa medis.
Konsentrasi heroin yang tinggi dan jejak Valium ditemukan dalam aliran darah Cobain.
Ia hanya dapat diidentifikasi melalui sidik jarinya.
Mark Lanegan, anggota Screaming Trees dan teman dekat Cobain, mengatakan dia tidak mendengar kabar dari Cobain minggu lalu.
“Kurt tidak menelepon saya,” katanya.
“Dia tidak menelepon beberapa orang lain. Dia tidak menelepon keluarganya. Dia tidak menelepon siapa pun.”
Lanegan juga mengatakan dia sempat mencari Kurt selama sekitar seminggu sebelum dia ditemukan meninggal.
“Saya merasa sesuatu yang sangat buruk telah terjadi.”
Pemakaman Kurt dilakukan dalam acara pribadi dan khidmat yang diadakan pada bulan April 1994.
Tak hanya itu sebuah upacara peringatan publik besar-besaran diadakan pada 10 April di Seattle Center oleh ribuan penggemar.
Jenazahnya dikremasi di Bleitz Funeral Home pada 14 April 1994, dan abunya kemudian disebar oleh putrinya di McLane Creek, Olympia, pada tahun 1999.
Sumber: Tribun