DEMOCRAZY.ID – Rudal hipersonik Fattah-2 milik Iran disebut mampu melaju hingga Mach 15 dengan jangkauan sekitar 1.500 kilometer, sehingga berpotensi mengancam aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk dan Laut Arab.
Mengutip Wionews, Fattah-2 merupakan rudal hipersonik yang dikembangkan Iran dan dilaporkan dapat mencapai kecepatan sekitar 18.500 kilometer per jam.
Senjata ini menggunakan mesin berbahan bakar cair yang memungkinkan perubahan lintasan selama penerbangan, sehingga membuatnya lebih sulit dilacak oleh sistem pertahanan udara konvensional.
Iran terus menembakkan rudal hipersonik Fattah-2 ke Israel.
Ledakan yang sangat langka dan menakutkan di Tel Aviv.
Rudal-rudal itu menghindari lebih dari 10 pesawat pencegat, menghantam dan menghancurkan segalanya.
Pertahanan Israel kewalahan. pic.twitter.com/zBLAL8eqHY
— Ary (@Ary_PrasKe2) March 5, 2026
Rudal berpemandu presisi tersebut memiliki jangkauan operasional hingga 1.500 kilometer.
Dengan jarak tersebut, sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk serta aset angkatan laut di Laut Arab berada dalam potensi jangkauan serangan.
Fattah-2 memiliki panjang sekitar 12 meter dan membawa muatan bahan peledak seberat sekitar 200 kilogram.
Meski demikian, menyerang kapal yang bergerak di laut memerlukan sistem penargetan satelit hampir secara real-time.
American Military Watch magazine reports:
“Intercepting Iranian missiles is almost impossible, especially the supersonic Fattah-2 missile.” pic.twitter.com/8bzLfElRbS
— Sprinter Press (@SprinterPress) March 4, 2026
Hal ini masih dianggap sebagai tantangan tersendiri dalam kemampuan intelijen militer Iran.
Di sisi lain, Amerika Serikat mengandalkan armada kapal induk yang memiliki mobilitas tinggi sebagai bagian dari sistem pertahanan.
USS Abraham Lincoln merupakan kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz yang mampu berlayar dengan kecepatan lebih dari 25 knot.
🚨🇮🇷 IRAN’S new liquid-fueled Fattah-2 hypersonic missile has officially BYPASSED the missile technology of the United States’ X-51. pic.twitter.com/yrjjWZHLnk
— Jackson Hinkle 🇺🇸 (@jacksonhinklle) January 4, 2024
Kapal induk tersebut juga secara rutin mengubah arah pelayaran, sehingga membuatnya menjadi target yang sulit bagi rudal balistik jarak jauh.
Selain itu, kapal induk biasanya tidak beroperasi sendirian dan dilindungi oleh kapal penjelajah serta kapal perusak pengawal.
Kapal-kapal pengawal ini dilengkapi dengan sistem tempur Aegis yang menggunakan radar jarak jauh untuk mendeteksi serta melacak berbagai ancaman yang datang dari udara maupun laut, termasuk potensi serangan rudal balistik atau hipersonik.
🚨TRUMP IN PANIC: Here’s Iran’s DEADLIEST Missile
The Fattah-2 missile introduces a totally new concept: instead of relying solely on a ballistic reentry vehicle, it uses a hypersonic glide vehicle designed to manoeuvre during the final phase of flight.
This glide vehicle… pic.twitter.com/LtRp10mwf9
— NewRulesGeopolitics (@NewRulesGeo) February 20, 2026
Untuk menghadapi ancaman tersebut, kelompok kapal penyerang Amerika Serikat mengandalkan Rudal Standar RIM-174 atau SM-6 sebagai pencegat utama.
Sistem pertahanan ini juga didukung oleh kemampuan peperangan elektronik yang bertujuan mengacaukan sensor maupun sistem komunikasi proyektil yang datang.
Dalam skenario pertempuran, satu rudal Fattah-2 saja dinilai memiliki peluang kecil untuk menembus sistem pertahanan berlapis kapal induk.
Serangan yang berpotensi berhasil biasanya memerlukan peluncuran sejumlah besar drone atau rudal jelajah secara bersamaan untuk terlebih dahulu menguras persediaan rudal pencegat milik Amerika Serikat.
Sumber: VIVA