Oleh: M Rizal Fadillah | Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Badai ? Ya cuaca politik akan terus bertambah ekstrim pada tahun 2026 ini.
Bagian Meteorologi, Klimatologi, dan Geopolitik (BMKG) melaporkan cuaca ekstrim tahun ini, badai besar akan melanda Jakarta dan Solo.
Istana menghadapi tsunami dengan Kantor Wapres dalam posisi yang paling rawan. Fondasi bangunannya rapuh dan tidak akan kuat menahan guncangan. Diprediksi ambruk.
Badai itu membuat gelombang yang membesar, pohon di pinggir pantai bergoyang keras bahkan sebagian mulai tumbang.
Pohon pelindung kenyamanan keluarga Jokowi ikut bergerak-gerak. Singgasana sang mahaputera bergoyang dombret.
Gibran panik “kok jadi begini ?” keluhnya. Jokowi jauh lebih panik, buah hati kesiangannya meronta. Ia anak manja yang tidak akan mampu berdiri sendiri. Mainan anak yang selalu di dekatnya ikut menangis.
Badai semakin membesar dan mungkin akan menghacurkan atau menenggelamkan.
Angin puting beliung atau tornado tali yang terkecil bergerak dari perairan ke darat dan biasa menghilang dengan cepat.
Lalu badai tropis yang terletak di lautan tropis hangat, membentuk awan konvektif.
Dan yang besar badai petir, menciptakan kondisi muatan listrik menjadi terakumulasi menyebabkan kilat dan petir. Daya rusak hebat.
Badai Gibran saat ini mungkin masih kecil atau menengah. Baru dimasalahkan soal kelahiran dari perut MK yang sungsang, ditarik paksa oleh KPU. Lalu badai edukasi yang membuktikan Gibran tidak memiliki ijazah SMA dan penyetaraan manipulatif.
Kemendikbud menjadi penyebab datangnya badai. Gibran mulai kelimpungan dan goyah. Mencari kompensasi melalui berbagai game yang dimainkan. Kata Dr Rismon “Gibran Endgame”.
Badai besar yang akan datang adalah sejenis thypoon tip yang berdiameter 2.200 KM dengan kecepatan 305 KM/Jam yang menenggelamkan 22.000 rumah akibat banjir dan 600 kali longsor. Gibran tidak bisa bertahan atas badai besar ini.
Ia akan longsor dan lengser bahkan tenggelam. Istana Wapres hancur dan harus direnovasi, direformasi, serta direhabilitasi. Bangkai Wapres berbau busuk.
Badai besar adalah desakan kuat rakyat yang memaksa Prabowo untuk melepas perlindungan atas Gibran. Badai petir yang menyambar sangat menakutkan dan mematikan.
Reformasi jilid 2 menandai gerakan people power yang akan mudah menekan DPR, MK, dan MPR untuk sepakat memakzulkan Gibran.
Tidak sampai disana saja, petir itu akan menyambar Gibran yang tidak dilengkapi dengan penangkal pengalaman.
Jangan harap ada mitigasi bencana, semua tidak siap. Ketika warning BKMG diabaikan, maka badai besar itu pasti datang.
Gibran yang didera gempa konstitusi, banjir demokrasi, hujan es hak asasi, angin demorlisasi, dan sambaran petir nir-edukasi, tidak dapat menghindar lagi.
Dua hal mengancam dirinya yakni turun dari singgasana dan pengadilan yang akan menyeret paksa.
Gibran terjebak di reruntuhan kebodohan dan caci maki publik. Ada narasi dalam diskusi, serangan tajam buku, kritik media informasi, aduan polisi, hingga aksi demonstrasi.
Gibran diacak-acak seperti bola yang disepak-sepak. Dibolak-balik bak martabak.
Masih ada kesempatan sebelum badai dahsyat datang yaitu sadar akan kesalahan dan segera bertobat.
Gibran sukarela mundur dari jabatan Wapres. Ini jalan pencegahan dari sakit atau menjadi pesakitan.
Memberi kebahagian sedikit kepada rakyat Indonesia yang sering menjadi korban dari penipuan, penggelapan, dan kecurangan politik.
Sebelum badai besar datang, Gibran mundur saja!