Oleh: Sutoyo Abadi | Koordinator Kajian Politik Merah Putih
Prof. Dr. Hafidz Abbas, mantan Ketua Komnas HAM periode 2012-2017, dan ilmuwan di Indonesia memiliki pandangan kritis mengenai isu Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China di Indonesia.
Beliau mengatakan, “Kalau negara tidak mau memperbaiki akhlaknya maka akan terjadi proses Decay from the waiting (kerusakan negara dari penantian atau membusuk karena menunggu).
Sebagai bagian Single community of nation within ASEAN, Bangsa Indonesia sedang mengalami proses terjadinya kemunduran, baik fisik, mental atau emosional yang terjadi akibat penantian yang panjang, tidak pasti, atau sia-sia.
Akhirnya negara bisa bubar karena telat mengantisipasi dan menanganinya dengan cepat dan tepat dan akhirnya bisa hilang dari peta ASEAN dan DUNIA.
Beliau mempertanyakan alasan di balik kebijakan pemerintah Indonesia yang dinilai terlalu condong dan mendekat ke China secara tiba-tiba, yang kemudian berimplikasi pada masuknya TKA dari negara tersebut, berpotensi membahayakan kedaulatan negara.
Prof. Hafidz Abbas sempat menyatakan kekhawatiran bahwa Indonesia bisa menjadi seperti Singapura jika banyak TKA China yang masuk dan tidak kembali ke negara asalnya.
Hal ini mengindikasikan adanya kekhawatiran terkait dampak jangka panjang terhadap demografi dan kedaulatan negara.
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso blak-blakan mengungkapkan kekhawatirannya soal terus berdatangannya tenaga kerja asing (TKA) dari China ke Indonesia menjamin mereka tidak akan kembali lagi ke negaranya. (Selasa 24 Mei 2022).
Sebagai mantan Kepala BIN mengharapkan agar semua orang Indonesia waspada tehadap serbuan TKA asal Tiongkok dan segera sadar akan kemungkinan etnis China akan menjadi mayoritas di tanah air.
Sutiyoso yang juga akrab disapa Bang Yos itu menyebut karena pernah berkecimpung di dunia intelijen dia pun mengaku bisa membaca pola dari para pekerja yang datang di Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua itu yang menurutnya mereka tidak akan kembali ke negara asal yakni Negeri Tirai Bambu.
Sutiyoso sebagai mantan Kepala BIN-pun mengaku miris akan jumlah TKA asal China yang jumlahnya begitu banyak, mengaku kebanyakan yang datang bukanlah investor atau tenaga ahli, melainkan pekerja kasar yang jumlahnya ribuan.
Dia juga khawatir para TKA China itu akan memiliki keturunan di Indonesia, dan hal ini bisa membuat mereka menjadi etnis mayoritas di tanah air. Untuk Berkuasa Indonesia menyisihkan Kaum Pribumi.
Kedua tokoh Prof. Hafidz Abbas (ilmuwan terkemuka di Indonesia) dan Perwira Tinggi Letnan Jenderal (Letjen) TNI (Purn) Sutiyoso, telah memberikan gambaran tentang kedaulatan negara sedang terancam.
Beliau berdua mengaitkan pandangannya dengan kekhawatiran adanya Polisi/Tentara China yang masuk ke Indonesia dengan kedok TKA (meskipun hal ini memerlukan verifikasi lebih lanjut).
Informasi tentang TKA Cina untuk masyarakat awam masih membutuhkan kejelasan lebih lanjut.
Bagaimana dengan Letnan Jenderal ( Letjen ) TNI ( Purn ) Prabowo Subianto yang sedang menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Dipastikan sangat paham bahwa mewaspadai masuknya gelombang besar warga negara asing Cina Komunis yang berkedok TKA dan indikasi kuat masuknya tentara Cina ke Indonesia adalah bagian dari operasi intelijen.
Semua konsep konspirasi dan konsep intervensi asing ujung tombaknya adalah “Gerakan Intelijen Militer”
Dipastikan juga mengetahui bahwa Xi Jinjing telah membentuk team khusus yaitu para agen Ministry of State Security (MSS) yaitu agen Intelijen Tiongkok untuk terus bekerja sama dengan birokrat pemerintah untuk meremote pemerintah dan tindakan preventif dalam rangka memberangus komponen-komponen inti.
Ada Dua Komponen Inti Bangsa yaitu : Komponen Umat Islam dan Komponen Kerajaan Nusantara”
Presiden Prabowo Subianto sangat memahami sejarahnya bahwa para tenaga kerja China yang dikirim ke negara Indonesia sebagian besar merupakan Tentara Cina terlatih dari “Bangsa Han”. terkenal berkarakter keras, kasar dan sadis karena mayoritas.
Bangsa “Han-lah” yang telah berhasil merebut, menguasai dan membantai suku Xinjiang (yang Muslim), suku Mongolia ( menghabisi kekaisaran kerajaan Mongol) dan suku Tibet (Biksu Budha Dalai lama).
Bangsa “Han” ditugaskan ke Indonesia menyamar sebagai TKA dan tidak akan kembali ke China sampai berhasil tugasnya untuk membaur menjadi warga negara Indonesia dengan tujuan menguasai Indonesia dalam program waktu 10 tahun untuk mencinakan Indonesia dengan mensekulerkan lalu menkomuniskan Indonesia.
Keberadaan Bangsa “Han” yang dikamuflase sebagai pekerja TKA, pembagian prosentasenya adalah (40% warga sipil Cina) dan (60% adalah Tentara resmi organik Cina.)
Gelombang warga imigran TKA Cina masuk ke Indonesia dengan Tiga Gelombang sbb :
Gelombang pertama, tahun 2019 sd 2022 efektif selama tiga tahun para WNA Cina ini telah memenuhi Indonesia dengan mendiami disekitar wilayah “Site Project” di wilayah tambang dan infrastuktur di seluruh wilayah kepulauan Indonesia.
Gelombang kedua, tahun 2022 sd 2025 efektif selama tiga tahun para WNA Cina memenuhi Indonesia dengan mendiami disekitar wilayah desa-desa (pinggir kota) dan kota-kota besar dengan Stay Home di hotel-hotel dan dirumah mewah dan non mewah dengan status kontrakan sudah tersebar di seluruh kota-kota besar Indonesia sebagai TKA dan turis, mereka ini yang notabene adalah “Tentara organik Cina”
Gelombang ketiga, tahun 2025 sd 2027 efektif selama dua tahun ini para WNA Cina telah memenuhi dan mendiami hampir di seluruh wilayah-wilayah Nusantara yang berjumlah lebih dari 30 sd 40 juta jiwa WNA Cina.
Disaat itu bukan hanya sebagai TKA tapi mereka telah berhasil menyusup masuk kedalam lembaga negara dan institusi negara sebagai ASN dan anggota Polri karena telah memiliki E-KTP resmi.
TKA imigran ilegal yang menyatu dengan jumlah warga Negara Asing Komunis Cina akan terus meningkat dan membengkak yang endingnya nanti bakal menyeimbangi jumlah total penduduk pribumi Indonesia yang 277 juta jiwa.
Terkait dengan team khusus yaitu para agen Ministry of State Security ( MSS ) Dua komponen Komponen Umat Islam dan Komponen Kerajaan Nusantara.
Dipandang oleh PKC Partai Komunis Cina ( PKC ) dan “MSS” sebagai momok penghalang terbesar bagi Invasi Cina Komunis kuasai Indonesia.
Karena dua elemen ini dipandang sebagai “Elemen Garda Terdepan” elemen perlawanan rakyat semesta bagian dari Sishankamrata. Merupakan ancaman terbesar bagi misi Inlander Cina kuasai Indonesia.
Agen MSS intelijen China tersebut saat ini diyakini telah berhasil melakukan infiltrasi menyusup kedalam institusi BIN dan Mabes Polri sehingga dua lembaga tersebut saat ini dalam kontrol MSS Cina dan PKC Cina.
Melemahkan dan melenyapkan dua komponen inti tersebut adalah by design program jangka pendek dan utama didalam operasi intelijen MSS.
Karena Dua Komponen tersebut bagi negara RRC Cina komunis adalah Dua komponen yaitu Umat Islam dan Kerajaan (monarki) adalah garda terdepan negara sebagai penghalang terbesar dan terberat dalam Cina menguasai Indonesia.
Mekanisme strategi secara politik telah ditempuh Cina dengan ikut campur dalam peta politik pemilihan capres Indonesia yang diinginkan rezim RRC Xi Jinping dan secara pasukan dengan Cina mengirim tentaranya dengan kamuflase TKA adalah benar serius.
Para TKA Cina nantinya ditugaskan untuk menguasai wilayah-wilayah sepanjang sabuk kepulauan Indonesia, pinggir kota lalu kemudian mengepung kota (sistem desa kepung kota) dan akhirnya menguasai center negara.
Kita sangat paham bagaimana cara strategi dan ambisi China dalam menguasai sebuah negara seperti telah berhasil mereka kuasai yaitu Xinjiang (Muslim), Mongolia (kekaisaran) dan Tibet (Biksu Budha).
Awalnya seolah beri bantuan dengan sebar hutang tinggi lalu bangun infrastruktur dengan sistem skema “turn-key project”.
Tentara cina terlatih dari bangsa Han yang perintah presiden RRC Xi Jinping mayoritas mereka tidak boleh balik kembali ke negaranya Cina.
Lalu setelah cukup waktu dan kuat, baru negara tersebut direbut, diduduki dan dikuasai. Dan dilakukan race cleansing “pembersihan ras” kepada etnis pribumi Indonesia bagi yang melawan dan menentangnya.
Agen MSS intelijen China tersebut saat ini diyakini telah berhasil melakukan infiltrasi menyusup kedalam institusi BIN dan Mabes Polri sehingga dua lembaga tersebut saat ini dalam kontrol MSS Cina dan PKC Cina.
Bahan yang paling berbahaya kalau Presiden Prabowo Subianto juga susah masuk dalam radar kontrol MMC.
Layak menjadi renungan kita peringatan dari Prof. Dr. Hafidz Abbas, “kalau negara tidak mau memperbaiki akhlaknya” maka akan terjadi proses Decay from the waiting (kerusakan negara dari penantian atau membusuk karena menunggu), akhirnya Negara Indonesia Bubar karena telah dikuasai kembali oleh Bangsa Asing. ***