DEMOCRAZY.ID – Kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus kembali memunculkan kekhawatiran soal keselamatan para aktivis di Indonesia.
Serangan yang diduga dilakukan oleh orang tak dikenal itu menambah panjang daftar intimidasi dan kekerasan yang pernah dialami para pembela hak asasi manusia dan aktivis antikorupsi di Tanah Air.
Berikut sejumlah kasus teror terhadap aktivis yang pernah menyita perhatian publik:
Pendiri KontraS Munir Said Thalib meninggal dunia pada 7 September 2004 dalam penerbangan menuju Belanda setelah diracun arsenik.
Kasus ini menjadi salah satu pembunuhan aktivis paling terkenal di Indonesia dan hingga kini masih menyisakan berbagai pertanyaan mengenai aktor intelektual di baliknya.
Aktivis antikorupsi dari Indonesia Corruption Watch (ICW) ini diserang empat orang tak dikenal di Jakarta Selatan pada Juli 2010.
Tama mengalami luka serius akibat sabetan senjata tajam saat dalam perjalanan pulang pada dini hari.
Sejumlah penyidik dan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi mengalami berbagai bentuk teror ketika menangani kasus-kasus korupsi besar, mulai dari ancaman, pembuntutan, hingga pelemparan bom molotov di sekitar rumah mereka.
Novel Baswedan disiram air keras oleh dua orang tak dikenal pada 11 April 2017 setelah salat Subuh di dekat rumahnya di Jakarta.
Serangan ini menyebabkan kerusakan serius pada mata Novel dan memicu kecaman luas dari masyarakat sipil.
Rumah Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif diteror bom molotov oleh orang tak dikenal pada Januari 2019.
Peristiwa tersebut terjadi ketika KPK tengah menangani sejumlah perkara korupsi besar.
Kedua aktivis HAM ini dilaporkan ke polisi setelah membahas dugaan konflik kepentingan bisnis tambang di Papua dalam sebuah diskusi yang diunggah ke media sosial.
Kasus ini memicu perhatian publik karena dinilai berkaitan dengan kebebasan berekspresi.
Aktivis yang menyoroti isu Papua ini mengalami berbagai bentuk intimidasi seperti peretasan akun, ancaman, serta tekanan hukum setelah aktif menyuarakan dugaan pelanggaran HAM di Papua.
Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus disiram cairan yang diduga air keras oleh dua orang tak dikenal di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, pada 12 Maret 2026.
Akibat serangan tersebut, ia mengalami luka bakar di wajah, mata, tangan, dan dada serta harus menjalani perawatan intensif.
Koalisi masyarakat sipil menilai rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap aktivis masih terjadi di Indonesia.
Mereka mendorong aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas setiap kasus kekerasan terhadap pembela HAM agar tidak terjadi impunitas.
Sumber: Suara