Oleh: Moeflich H. Hart | Dosen UIN Bandung
Para aktifis dan kalangan internal NU mengatakan, prahara NU panas kini berasal dari persoalan tambang.
Mahfud MD juga menegaskan, ini semua berawal dari soal tambang. “Malu kita,” kata Mahfud.
Konsensi 26.000 hektar tambang buat NU di Kalimantan Timur dari Jokowi. Disitulah pimpinan NU mulai pecah, para petingginya beda keinginan. Ulama, kiyai mulai pecah.
Empat pimpinan NU tak mau tanda tangan surat-surat, “organisasi sudah macet, tidak berjalan, sudah masing-masing,” kata Gus Nadir Hosen. Dari situlah kisruh dan prahara NU bermula.
Sekarang, KH. Akhyar tegas memberhentikan, KH. Yahya Tsaquf tegas melawan. “Ini bahaya buat masa depan NU,” kata Mahfud.
Karena NU adalah bagian besar Islam Indonesia, warga nahdliyin, para pengamat dan netizen membicarakan kegaduhan organisasi ulama ini. Saya ingin sedikit bicara sebagai refleksi tausiyah.
Ada lima komunitas manusia dalam hidup ini yang disimbolkan oleh lima istilah: Komunitas Lipstik, Komunitas Telur Itik, Komunitas Diskotik, Komunitas Logistik dan Komunitas Batu Keusik. Saya jelaskan lima makna simbol itu secara singkat.
Ketika NU tergoda dan menerima tambang dengan bayangan NU akan makmur dan kaya, NU sedang menjadi komunitas telur itik, terutama di kalangan petingginya.
Makanya, cirinya pasti konflik, ribut, mudah pecah dan konflik berkepanjangan.
Padahal, nama organisasinya Ulama yang kekayaan batinnya sudah dimilikinya sejak lama dengan kekayaan pesantrennya dan kekayaan batin khazanah tarekatnya. “Malu kita,” kata Mahfud MD.
Solusinya gampang: Tinggalkan fatamorgana tambang itu, tinggalkan hawa nafsu dunia itu.
Sadarlah, bahwa NU sudah dirusak oleh Jokowi selama 10 tahun!!
Wallahu a’lam.