DEMOCRAZY.ID – Kabar kunjungan pengacara Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis ke kediaman pribadi mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Solo memantik reaksi keras dari pakar telematika, Roy Suryo.
Ia mengendus adanya kejanggalan dan indikasi kuat manuver “balik kanan” yang dilakukan oleh Eggi terkait gugatan keaslian ijazah Jokowi.
Menurut Roy, gelagat inkonsistensi ini sebenarnya sudah tercium sejak setahun lalu, tepatnya saat rencana kunjungan krusial ke Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berakhir antiklimaks.
Roy Suryo membeberkan secara rinci kronologi yang menjadi dasar kecurigaannya.
Keraguan terhadap komitmen Eggi Sudjana disebutnya mulai muncul di kalangan tim ahli saat rombongan Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) bersiap mendatangi UGM untuk menelisik keabsahan ijazah S1 Jokowi pada 15 April 2025.
Namun, sebuah keanehan terjadi di detik-detik terakhir.
“Pada saat berangkat last minute, Bang Egi ternyata tidak ikut. Alasannya macam-macam, ada yang bilang sakit, ada juga alasan katanya ditangkap. Ini menjadi pertanyaan besar sampai sekarang,” ujar Roy Suryo dalam perbincangannya di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Selasa (13/1/2026).
Absennya Eggi secara mendadak itu, kata Roy, tidak hanya menimbulkan tanda tanya, tetapi juga menyebabkan keterlambatan rombongan.
Akibatnya, dari seluruh tim yang berangkat, hanya tiga orang yang akhirnya diterima secara resmi oleh pihak UGM, yakni Roy Suryo sendiri, dr. Rismon, dan dr. Tifa.
Roy menegaskan, fokus utama kedatangannya bersama para ahli lainnya murni untuk pembuktian ilmiah dan akademis, bukan manuver politik.
Kejanggalan semakin menguat ketika sehari setelah agenda di UGM, Eggi Sudjana bersama sejumlah pengurus TPUA lainnya, termasuk Damai Hari Lubis dan Rizal Fadillah, justru memilih mendatangi rumah pribadi Jokowi di Solo pada 16 April.
Roy mengaku sengaja tidak ikut dalam rombongan tersebut karena merasa tidak memiliki kepentingan.
“Kepentingan saya dengan dr. Tifa dan dr. Rismon adalah soal ilmiah, soal ijazah Jokowi di UGM,” ujar Roy, menegaskan perbedaan fokus antara dirinya dengan kubu Eggi.
Fakta yang lebih mengejutkan diungkap Roy Suryo adalah kehadiran tokoh-tokoh dari organisasi Relawan Jokowi (ReJo) yang mendampingi Eggi dan Damai dalam kunjungan mereka baru-baru ini.
Ia secara spesifik menyebut nama Muhammad Rahmat dan Darmizal, dua sosok yang menurutnya juga berada di balik upaya pengambilalihan Partai Demokrat melalui Kongres Luar Biasa (KLB) di Sibolangit untuk kubu Moeldoko.
“Sekarang artinya benang merahnya ketahuan, mereka orang-orang Jokowi yang dulu digunakan di Sibolangit, sekarang digunakan untuk mengantarkan Damai Hari Lubis dan Eggi Sudjana ke sana,” ungkapnya.
Roy menilai ada semacam kepanikan di kubu Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis, terutama setelah beredarnya video-video lama yang seolah-olah diarahkan untuk membangun narasi rekonsiliasi atau permohonan maaf.
Meskipun pernah berada dalam satu barisan saat melaporkan dugaan ijazah palsu Jokowi ke Bareskrim Polri, Roy Suryo menegaskan bahwa posisinya sejak awal terpisah dari kelompok Eggi.
“Kami tidak dalam satu klaster, bahkan tidak dalam satu kuasa hukum yang sama. Kuasa hukum saya beda dengan Bang Egi dan DHL (Damai Hari Lubis),” jelasnya.
Ia pun menduga, sikap yang kini melunak dan terkesan mencari jalan damai merupakan upaya Eggi Sudjana dan koleganya untuk mengamankan posisi masing-masing di tengah pusaran kasus yang masih bergulir.
“Ya terserah dialah dia mau ngapain gitu ya. Ya biasalah orang yang namanya mencari selamat kan biasa,” pungkas Roy.
Sumber: Suara