Roy Suryo Anggap Temuan Baru Rismon Tak Cukup Simpulkan Ijazah Jokowi Asli: Masih Banyak Bukti Lain!

DEMOCRAZY.ID – Pakar telematika Roy Suryo menganggap bukti temuan baru dari ahli forensik digital Rismon Sianipar dan berbuntut kesimpulan bahwa ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), adalah asli tidak cukup.

Roy Suryo menegaskan masih banyak bukti yang menurutnya membuktikan bahwa ijazah Jokowi palsu.

Sebelumnya, Rismon mengakui bahwa ijazah Jokowi asli setelah melakukan penelitian ulang selama dua bulan.

Dia mengungkapkan kesimpulan tersebut diperoleh setelah melakukan beberapa metode penelitian seperti rotasi, translasi, dan menaikkan resolusi data dari dokumen ijazah Jokowi.

Sementara, objek penelitiannya berdasarkan unggahan foto ijazah Jokowi yang diunggah oleh politikus PSI, Dian Sandi Utama, di akun X pribadinya.

Adapun pengakuan ini disampaikan Rismon dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, Balige Academy, pada Kamis (12/3/2026).

Roy mengungkapkan beberapa temuan yang membuktikan bahwa ijazah Jokowi adalah palsu.

Temuan itu berasal dari apa yang dilakukan beberapa pihak yang ikut berpartisipasi untuk membuktikan keaslian ijazah Jokowi.

“Temuan kita semua termasuk temuan Mas Rustam Effendi (tersangka tuduhan ijazah palsu Jokowi) banyak. Lalu ada temuan lain dari Mas Mikhael (podcaster) dan Pak Janes ketemu dengan Pak Kasmudjo (dosen pembimbing Jokowi).”

“Lalu lakukan perjalanan ke Desa Ketoyan (lokasi KKN Jokowi), lalu (kunjungan) ke Pasar Pramuka (lokasi yang diduga untuk membuat ijazah Jokowi),” katanya di Jakarta, Senin (16/3/2026).

Selain itu, Roy juga membeberkan temuan lain seperti skripsi Jokowi yang dilihatnya ketika mengunjungi Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu.

Berdasarkan temuannya, skripsi Jokowi dianggap janggal dan pihak UGM disebutnya tidak bisa menjelaskan kejanggalan yang dimaksud.

“Skripsinya jelas tidak ada lembar pengesahan, tidak ada tanda tangan ujiannya. Itu jelas nggak lulus,” tuturnya.

Roy Suryo pun menegaskan dengan segala temuan tersebut sekaligus membantah klaim dari Rismon yang menyebut bahwa ijazah Jokowi asli setelah melakukan penelitian ulang.

“Apa yang dia (Rismon) katakan itu hanya menjawab soal satu hal saja yaitu foto ijazah (yang diunggah oleh) Dian Sandi Utama yang tadinya posisi (foto ijazah) miring kemudian diluruskan. Nah, itu ditranslasikan,” tuturnya.

Selain itu, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) itu juga mengungkapkan hasil temuan baru dari Rismon tidak menjawab asli atau tidaknya ijazah Jokowi.

“Dan itu (temuan baru Rismon) tidak menjawab (kasus ijazah Jokowi),” tuturnya.

Roy Suryo pun turut mengomentari keinginan Rismon untuk menulis buku yang berisi koreksi tentang penelitian ijazah Jokowi. Dia menilai Rismon tidak akan melakukan hal tersebut.

“Kita tunggu saja tapi kok saya rasa nggak bakal jadi,” tuturnya singkat.

Rismon memang sempat mengungkapkan akan menulis buku untuk mengoreksi hasil penelitian tentang ijazah Jokowi yang tertuang dalam buku Jokowi’s White Paper.

Selain itu, dia juga mengatakan akan melakukan hal serupa terkait kasus surat penyetaraan ijazah SMA milik Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka.

Hal ini disampaikannya setelah bertemu dengan Gibran di Istana Wapres, Jakarta, pada Jumat (13/3/2026).

Rismon Akui Ijazah Jokowi Asli

Sebelumnya, Rismon mengakui bahwa ijazah milik Jokowi adalah asli setelah melakukan penelitian ulang selama dua bulan.

Mulanya, dia menyebut bahwa hasil penelitiannya yang tertuang dalam buku Jokowi’s White Paper bersama dengan Roy Suryo dan pegiat media sosial Tifauzia Tyassuma atau dokter Tifa memiliki kesalahan.

Namun, Rismon menegaskan hanya hasil penelitiannya saja yang mengandung kesalahan.

Dia mengungkapkan penelitian yang dilakukannya tidak bergantung dengan hasil riset yang dilakukan oleh Roy maupun Tifa.

“Oleh karena independensi tersebut, maka saya sebagai peneliti secara terbuka mengatakan ada koreksi-koreksi akibat data yang lengkap, akibat rotasi, atau translasi, atau resolusi pada data yang saya uji,” katanya.

“Oleh karena itu, sebagai peneliti yang bertanggung jawab terhadap kebenaran yakni kebenaran ilmiah, seorang peneliti harus bersandar pada objektivitas dalam temuan-temuan dalam kerja-kerja ilmiahnya,” sambungnya.

Dengan kesalahan tersebut, Rismon pun meminta maaf kepada Jokowi atas tuduhannya selama ini.

“Temuan saya sebelumnya yang telah melukai, membuat commosion dalam perkembangan kita akhir-akhir ini melukai keluarga Pak Jokowi dan Pak Jokowi, saya sebagai peneliti menyatakan minta maaf secara gentleman kepada keluarga Bapak Jokowi,” katanya.

Rismon menjelaskan bahwa kesalahan penelitiannya terkait dengan watermark dan emboss pada ijazah Jokowi.

Dia menegaskan, berdasarkan penelitian ulang yang dilakukannya, dua komponen tersebut terbukti ada pada ijazah eks Gubernur DKI Jakarta itu.

“Bahwa memang apa yang saya analisa dan miss di situ yaitu terkait watermark dan terutama embos, itu memang ada di dalam dokumen tersebut.”

“Saya uji dengan gradien analysis dan uji-uji lainnya dan metodologi yang sama dalam buku JWP tetapi dengan melibatkan variabel translasi, rotasi, maupun pencahayaan akibat objek yang kita analisa itu terpengaruh oleh sejumlah operasi gemoeti, maka temua-temuan itu saya temukan dengan teliti dan saya uji ulang selama dua bulan ini,” jelasnya.

Melalui hasil temuan barunya itu, Rismon pun menyatakan bahwa ijazah Jokowi asli.

“(Temuan barunya) membuktikan bahwa permasalahan authenticity atau keaslian dokumen (ijazah Jokowi) itu secara digital forensik menjadi tidak terbukti dan menyanggah temuan saya di buku Jokowi’s White Paper meskipun menggunakan puluhan metodologi-metodologi yang sama,” jelasnya.

Rismon mengungkapkan kesalahan dalam penelitian yang dilakukannya menjadi wujud bahwa dunia akademik yakni selalu ada pembaharuan atau ongoing, progresif, dan bisa “melukai” periset.

Di sisi lain, dia mengatakan temuan barunya itu kini telah disampaikan kepada penyidik Polda Metro Jaya pada Rabu (11/3/2026).

Pada akhir pernyataannya, Rismon menegaskan penelitian tentang ijazah Jokowi yang dilakukannya selama ini tidak mengandung motif politis.

Ia mengatakan apa yang dilakukannya murni karena keingintahuannya semata sebagai peneliti.

“Apa yang saya lakukan murni ilmiah tanpa motivasi politik, tanpa motivasi apapun. Murni hanya karena rasa ingin tahu saya sebagai peneliti di bidang digital image processing pada awal tahun 2025,” katanya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya