DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik, Rocky Gerung menilai Presiden Prabowo Subianto berada pada posisi yang tidak mudah sejak awal masa pemerintahannya.
Menurut Rocky, Prabowo mau tidak mau harus “menelan” berbagai dampak investasi dan kebijakan buruk yang diwariskan selama satu dekade pemerintahan Joko Widodo, mulai dari persoalan ekonomi, lingkungan, hingga keretakan etos bernegara.
Dalam pernyataannya di kanal YouTube miliknya, Rocky menyebut situasi hari ini sebagai akumulasi panjang dari kesalahan kebijakan yang dibiarkan bertahun-tahun.
Ia menyinggung anjloknya IHSG, kerusakan hutan, hingga praktik manipulasi ekonomi yang, menurutnya, bukan muncul tiba-tiba di era Prabowo, melainkan buah dari pembiaran selama 10 tahun sebelumnya.
“Kalau hari ini pasar goyah atau lingkungan rusak, itu bukan karena satu tahun pemerintahan baru, tapi karena warisan lama yang akhirnya meledak,” ujarnya.
Rocky juga mengaitkan persoalan ekonomi dengan hilangnya etos republikanisme dalam praktik bernegara.
Ia menilai Indonesia saat ini hanya mempertahankan bentuk republik secara formal, tetapi kehilangan nilai dan etos yang seharusnya menjadi ruhnya.
Yang tumbuh, kata dia, justru etos kekuasaan ala kerajaan, di mana kepentingan publik tersingkir oleh ambisi elite.
Untuk menjelaskan krisis tersebut, Rocky membandingkan kondisi hari ini dengan keteladanan tokoh-tokoh republik seperti Jenderal Sudirman, Hoegeng, dan Sutan Sjahrir.
Ketiganya, menurut Rocky, menunjukkan keberanian mengambil risiko demi kepentingan publik, bukan demi kekuasaan atau keuntungan pribadi.
“Mereka mempraktikkan etos bernegara, bukan sekadar memegang jabatan,” katanya.
Ia kemudian menarik benang merah antara kebijakan besar negara dengan tragedi sosial yang terjadi di akar rumput.
Rocky menyinggung kasus seorang anak berusia 10 tahun di NTT yang memilih mengakhiri hidup karena tak dibelikan buku tulis.
Bagi Rocky, peristiwa itu adalah simbol kegagalan negara memenuhi hak paling elementer warganya.
“Harga buku itu tidak sebanding dengan triliunan rupiah yang dibanggakan dalam proyek dan investasi. Tapi justru di situ letak kehancuran etos republik,” ujarnya.
Rocky menilai Prabowo kini menghadapi kemarahan publik yang sudah menumpuk sejak lama.
Ia menyebut kegelisahan politik masih mengalir di bawah permukaan, meski secara kasatmata situasi terlihat stabil.
Dalam konteks ini, pidato-pidato normatif tentang kemakmuran dan keadilan dinilai belum cukup untuk meredam ketidakpercayaan masyarakat.
Ia juga mengkritik gagasan ekonomi yang kerap dilabeli dengan istilah baru, seperti “Prabonomics”, tanpa fondasi akademik yang jelas.
Menurut Rocky, konsep ekonomi besar di dunia lahir dari perdebatan panjang di kampus dan ruang publik, bukan sekadar pernyataan politik.
Tanpa dasar ilmiah dan etos republikanisme, kebijakan ekonomi berisiko menjadi jargon kosong.
Di akhir pandangannya, Rocky menegaskan bahwa persoalan utama Indonesia bukan sekadar soal pertumbuhan atau stabilitas politik, melainkan hilangnya nilai dasar dalam bernegara.
Ia mendorong kampus dan ruang intelektual untuk kembali menghidupkan diskursus republikanisme sebagai etos, bukan sekadar teori.
“Tanpa itu, kemarahan publik hanya akan berputar tanpa arah, dan republik ini akan terus rapuh meski tampak megah di luar,” pungkasnya.
Sumber: WartaDemokrasi